
Pagi ini, Dania terlambat bangun, badan yang kurang sehat, membuat Dania enggan membuka matanya. Pram yang terbangun lebih dulu, menatap wajah pucat istrinya. Di letakkan nya punggung tangan nya ke dahi Dania.
" Sudah gak demam."
Perlahan, Pram turun dari ranjang, membiarkan Dania melanjutkan mimpinya. Sedangkan Pram langsung menuju kamar mandi. Membersihkan diri. Pagi ini, Pram memutuskan tidak masuk kantor. Dania yang tidak sehat, membuat Pram tidak ingin jauh darinya.
Sepuluh menit kemudian, Pram keluar kamar mandi. Dania sudah bangun dan duduk di sisi ranjang. Namun pandangan matanya menerawang. Saat Pram menyentuh bahu Dania, Dania terlonjak kaget. Lalu berusaha menampilkan senyuman.
" Ponsel kamu berdering."
Dania bangkit sambil setelah mengatakan hal itu. Pram menatap ponselnya, lalu kembali mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.
" Dari siapa? Kok gak kamu jawab?"
Dania menghentikan pergerakan tangannya yang sedang memilih pakaian di lemari. Dania diam sejenak. Lalu menghirup nafas dalam, dan membuangnya perlahan.
" Chelsea, katanya kangen makan bubur ayam di dekat kampus kalian."
Dania berusaha menetralkan intonasi bicaranya. Sedangkan Pram langsung menghentikan pergerakan tangannya. Menatap ponsel dan Dania secara bergantian. Dania yang membelakangi Pram, tak tahu apa yang Pram lakukan. Dania membalikkan tubuhnya, saat Pram sedang membalas pesan dari Chelsea.
Dania menatap Pram yang begitu serius. Bahkan tak menyadari, bahwa Dania tengah menatapnya. Dania meletakkan pakaian itu di atas ranjang. Lalu berlalu ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Dania meneteskan air matanya.
" Sayang, kamu jangan mandi dulu. Kamu belum sehat."
Pram mengetuk pintu, dan sedikit berteriak. Sedangkan Dania sengaja membuka keran agar Pram tak mendengar suara tangisannya. Hatinya sakit.
Pram kembali menggedor pintu kamar mandi, saat dirasa Dania terlalu lama disana.
" Sayang, buka..kamu gak apa-apa kan?"
Setelah membasuh wajahnya. Dania membuka pintu kamar mandi, terlihat Pram yang berdiri di depan pintu. Pram menangkup wajah Dania.
" Ada apa?"
Dania menggeleng. Lalu berlalu. Pram memegang lengan Dania. Dan membawanya duduk di tepi ranjang. Pakaian yang di siapkan Dania sudah tidak ada di ranjang, namun Pram tak memakai pakaian itu.
" Mas..."
" Pergilah, kasian Mbak Chelsea sudah menunggu."
Dania beranjak, lalu melangkah ke arah lemari. Mengambil pakaian ganti untuk dirinya. Lalu masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Pram mematung. Sepertinya Pram mulai menyadari apa yang membuat Dania seperti ini.
Dania keluar dari kamar mandi, menggunakan dress selutut berwarna hitam sangat kontras dengan kulitnya yang bersih.
__ADS_1
" Kamu mau kemana? Kamu belum sehat."
" Mau menghantarkan Cilla ke sekolah."
Dania memakai bedak dan lipstik, tapi tidak dapat juga menyembunyikan wajahnya yang pucat. Pram menarik Dania, dan memintanya untuk duduk di sofa.
" Supir yang akan menghantarkan Cilla. Kamu disini aja. Tunggu, Mas akan ambilkan sarapan kamu."
Dania terdiam, lalu air mata menetes begitu saja. Sampai pagi ini pun, Pram tak jujur tentang kedatangan Chelsea ke kantornya. Namun air mata itu segera di hapusnya, saat mendengar ketukan di pintu kamarnya.
" Masuk."
" Dania, Sayang. Bagaimana keadaan kamu, Nak?"
Dania melangkah ke arah mertuanya.
" Dania udah baik-baik aja, Mi."
Fatma menelisik wajah Dania. Terlihat masih pucat.
" Kamu masih pucat, Sayang. Kita ke rumah sakit aja ya."
Dania menggeleng. Dan mengatakan dirinya baik-baik saja. Tak lama, Mbak Ratih datang, menghantarkan sarapan Dania.
" Terima kasih, Mbak."
Dania dan Fatma sama-sama mengucapkan terima kasih.
" Mas Pram kemana Mi?"
Fatma menghentikan langkahnya saat Dania bertanya tentang Pram.
" Pram keluar sebentar, katanya ada kepentingan mendadak. Mami juga gak tau kemana, Sayang."
Dania menipiskan bibirnya. Pikirannya berkelana. Begitu banyak tanya yang ada di hatinya.
" Kenapa kamu gak jujur, Mas. Apa Mbak Chelsea masih begitu istimewa di hatimu? " Gumam Dania. Dania hanya mampu memakan dua suap dari sarapannya. Setelah itu, makanan itu pun hanya di nakas.
Dania berdiri di balkon kamarnya. Cahaya matahari pagi yang menghangatkan kulitnya, terasa dingin untuknya saat ini. Dania masih ingin kejujuran dari Pram. Maka dari itu, Dania tak sedikit pun menyinggung soal Chelsea.
Sementara Pram berada di kantornya, dengan menggunakan pakaian casual. Karena memang dirinya tak ingin ke kantor pagi itu. Namun karena ada sesuatu yang mengharuskan kehadirannya, akhirnya Pram pun berangkat tanpa mengganti pakaiannya. Di perjalanan menuju kantor, Pram teringat akan pesan Chelsea yang menginginkan bubur di dekat kampus mereka dulu.
" Pak, nanti tolong belikan bubur ayam di dekat kampus saya dulu ya. Dan tolong antarkan ke alamat ini."
__ADS_1
Pram menyodorkan alamat pada supirnya. Supir pribadi Pram itu pun mengangguk. Setelah menurunkan Pram di kantor, supir Pram pun kembali melakukan mobilnya menuju kampus Pram dulu, dan menghantarkan pesanan itu ke tuannya.
Pram pergi hampir dua jam. Membuat Dania semakin curiga. Entah mengapa, pikiran Dania saat ini sangat kalut. Penuh dengan kecurigaan. Biasanya Dania selalu berpikir positif mengenai apapun itu.
Dania memejamkan matanya di balkon kamar. Sebuah sofa panjang ada disana, membuat Dania bisa merebahkan diri disana. Akibat bosan menunggu atau pun juga karena kondisi tubuhnya yang sedang tidak sehat, Dania tertidur disana. Hingga belaian tangan seseorang membangunkan Dania dari tidurnya.
" Mas.."
" Kenapa tidur disini? "
Dania menatap ke arah Pram. Sedangkan Pram seperti biasa, membelai wajah Dania dan menatap nya lembut.
" Masuk yuk. Nanti kamu masuk angin. Kamu masih belom sehat, Sayang."
Dania bangkit dari sofa. Dan berjalan ke dalam kamar, sedangkan Pram berjalan di belakangnya. Pram melihat sarapan Dania yang nyaris tak berkurang.
" Sayang, sarapan kamu gak kamu makan?"
Dania melihat ke arah piring yang ada di nakas.
" Aku gak selera makan."
" Tapi kamu harus makan. Atau kita ke rumah sakit aja. Biar kamu di rawat."
Dania menatap ke arah Pram. Lalu menghela nafasnya.
" Kenapa? Kenapa mas mau aku di rawat? Apa mas keberatan karna saat ini aku merepotkan?"
Pram mengerutkan keningnya. Bingung dengan sikap Dania.
" Kok kamu bicaranya gitu? Mas gak keberatan. Mas cuma gak tega ngelihat kamu begini."
Pram membelai lengan atas Dania. Menatap wajah Dania yang tampak sedih. Matanya sudah berkaca-kaca.
" Maaf, Mas. Kalau saat ini aku merepotkan kamu. Tapi hanya hari ini aja. Besok akau akan ke cafe."
Dania ingin pergi dari hadapan Pram. Namun tangannya di tahan oleh Pram.
" Ada apa? Kamu kenapa? Sejak kemarin kamu aneh."
" Aku pusing, Mas. Boleh aku tidur?"
Pram melepaskan tangan Dania. Sedangkan Dania langsung merebahkan tubuhnya. Menyembunyikan diri nya di balik selimut, bahkan Dania pun tidur membelakangi Pram.
__ADS_1