
Menjelang makan malam, Riko masuk ke kamar. Di dalam kamar, Tari sudah memakai salah satu dress yang di berikan oleh Bunda Delila. Riko langsung membuka beskap dan masuk ke kamar mandi. Lima belas menit kemudian, Riko keluar dan melihat sudah ada pakaiannya di atas ranjang. Senyum bahagia terbit di bibirnya.
" Begini ternyata rasanya punya istri." Gumamnya.
Tari sudah lebih dulu turun. Di luar masih ada beberapa pekerja catering yang sedang membereskan sisa jamuan siang tadi.
" Sayang, mari sini. Riko mana?"
"Hm...Pa-"
"Riko disini, Bun."
Riko langsung menyahut. Tari melihat rambut Riko yang basah, dan Riko memakai pakaian yang di sediakan oleh Tari. Riko pun merangkul pinggang Tari, dan menarik kursi untuknya.
" Duduk, Yang."
Kedua orang tua Riko dan Tari melihat ke arah Riko. Bahkan Bunda Delila tersenyum mendengar panggilan yang di sebutkan Riko untuknya.
Bunda Delila mulai menuangkan nasi ke piring suaminya. Melihat itu, Tari pun bangkit dan menuangkan nasi ke piring Riko.
" Cukup, Yang. Kalau kurang Abang nambah."
Tari sedikit kikuk dengan sebutan yang di khususkan untuknya. Tari pun segera mengisi piringnya. Namun entah mengapa melihat makanan di meja malam itu, Tari merasa tak berselera sama sekali. Dengan susah payah, Tari menelan makanan yang ada di hadapannya. Riko yang memperhatikan langsung bertanya.
" Kenapa? Kamu gak suka makanannya? Mau makan yang lain?"
" Gak kok. Cuma sedikit mual."
Jawab Tari sambil menunduk. Delila yang paham rasanya kehamilan di semester awal melipat bibirnya.
__ADS_1
" Sayang, itu wajar kok. Obat anti mula dari dokter masih ada? Kamu minum secara teratur kan?"
" Hm..Tari minum kalau lagi mual aja Bun."
" Ya sudah, sekarang kalau kamu gak sanggup lanjutin makannya, kamu gak usah paksa."
Namun Tari pelan-pelan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sedikit demi sedikit. Tari gak mau egois. Bagaimana pun, bayi di kandungannya memerlukan asupan nutrisi. Riko menyelesaikan makannya. Lalu mengambil sendok di tangan Tari.
" Biar Abang suapin aja ya?"
" Ga usah-"
" Ayo buka mulutnya."
Makanan itu pun masuk ke mulut Tari. Tari memang makan dengan sangat pelan malam itu. Bunda Delila dan Ayah Surya pun meninggalkan meja makan dan membiarkan pasangan pengantin baru itu untuk berduaan.
" Pak, udah Saya.."
" Iya, Bang. Tari udah kenyang."
Setelah selesai makan. Riko dan Tari pun menuju kamar mereka. Setelah itu, Riko pun keluar dari kamar. Tak lama berselang, Riko pun masuk dengan membawa segelas susu. Tari yang sedang bersandar pada kepala ranjang pun menegakkan tubuhnya.
" Di minum dulu susunya."
Ucap Riko seraya mengangsurkan gelas berisi susu itu ke Tari. Lalu Riko duduk di tepi ranjang yang dekat kaki Tari. Riko kembali memijit pelan betis Tari. Membuat Tari berdesir.
" Pak,jangan lakukan itu, Saya benar-benar sungkan."
" Tari, Saat ini kita sudah sebagai suami istri. Abang tau, kita menikah karena apa. Tapi Abang minta, kita mulai belajar menerima keadaan. Dan menerima kehadiran masing-masing diantara kita. Abang akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik buat anak kita kelak. Dan semoga Tuhan menganugerahkan rasa yang lebih dari sekedar tanggung jawab. Abang berharap, Tuhan menganugerahkan cinta dan sayangnya di hati kita masing-masing."
__ADS_1
Tari menatap Riko yang berbicara sangat lembut padanya saat ini. Tatapan matanya pun mengandung rasa sayang terhadap Tari. Tari tak mampu menjawab.
" Abang gak akan memaksa Tari. Abang yang akan berusaha membuat Tari nyaman di sisi Abang."
Tari menundukkan pandangannya. Lalu Riko pun beranjak.
" Ayo, habiskan susunya. Setelah itu kamu bisa istirahat."
Tari segera menghabiskan susu yang di buat oleh Riko. Setelah Tari merasa nyaman, Riko pun membantu menyelimutinya. Sedangkan Riko mengambil bantal dan juga selimut untuk dirinya. Riko tak ingin membuat Tari merasa tak nyaman dengan tidur seranjang dengannya. Maka dari itu, Riko lebih memilih tidur di sofa yang ada di kamar.
Mungkin akibat kelelahan, Riko pun cepat masuk ke alam mimpi. Dengkuran halus yang keluar dari Riko menandakan dirinya sudah tertidur nyenyak. Sementara Tari menatap wajah Riko yang tertidur. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya.
Jika di kamar pengantin Riko dan Tari mereka tidur dengan nyenyak, maka cerita berbeda berasal dari kamar Reyhan dan Lena. Sejak menyadari Lena hamil, Reyhan lah yang terasa sangat tersiksa. Setiap malam, Lena selalu saja berkeinginan untuk makan makanan manis. Namun bukan dirinya yang memakan, Reyhan lah yang harus menghabiskannya..Sedangkan Reyhan tidak terlalu menyukai makanan manis.
" Kamu yang habisin ya Bebh..."
Ucap Lena dengan sangat manja. Membuat Reyhan susah meneguk salivanya.
" Beibh...kamu kan tau, aku gak suka makanan manis."
" Tapi ini permintaan anak kamu loh."
Dengan sangat terpaksa, Reyhan menghabiskan kue putu di hadapannya. Memang tak spesifik makanan itu apa, yang penting manis. Tapi itu sangat menyiksa Reyhan.
Mereka pulang ke apartemen sekitar jam sepuluh malam. Biasanya Lena akan langsung beranjak tidur, tapi berbeda dengan malam ini. Lena sengaja menggoda Reyhan, dengan memakai pakaian kurang bahan yang membuat Reyhan meneguk salivanya sendiri.
" Beibh, kamu godain aku?"
" Siapa yang godain kamu, Beibh. Aku cuma pingin aja pakai beginian. Sebelum perut aku semakin besar. Jadi aku puas-"
__ADS_1
Belum sempat Lena menyelesaikan ucapannya. Bibirnya sudah di lahap.oleh Reyhan. Mereka menikmati malam panjang dengan saling berbagi Saliva dan bertukar deringan. Reyhan sangat lembut memperlakukan Lena, seakan tak ingin menyakiti keduanya.
Setelah menyelesaikan tugas malamnya, Reyhan pun jatuh di samping Lena. Lena masih mengantuk nafasnya yang memburu. Lalu mereka pun sama-sama membersihkan diri sebelum menuju alam mimpi.