Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 65


__ADS_3

Sudah seminggu Dania di rawat di rumah sakit. Dan selama seminggu ini, Pram tak pernah meninggalkannya kecuali keadaan yang sangat penting. Da tentu saja, harus ada orang bisa di percaya untuk menemani Dania. Dan selama seminggu ini, teman-teman Dania tak pernah absen untuk menemaninya. Bahkan Lena pernah pulang sampai hampir pagi.


Pram pagi itu tampak gelisah. Karena pagi itu Pram ada meeting penting dengan koleganya. Untuk membahas kerja sama. Namun pagi itu, tak ada yang bisa menemani Dania. Fatma masih sibuk dengan Cilla. Sedangkan teman-teman Dania sudah harus masuk kantor. Dania yang melihat kegelisahan Pram pun akhirnya buka suara.


" Pergilah, aku bisa sendiri."


" Mas gak bisa meninggalkan kamu. Mami belum datang. Gak mungkin, Mas-"


" Pergilah, aku gak apa-apa."


Suara ponsel Pram terus berdering. Panggilan dari sekretarisnya. Membuat Pram dengan sangat berat hati meninggalkan Dania sendirian di rumah sakit. Setelah mencium kening Dania. Pram meninggalkan Dania. Baru beberapa langkah, Pram kembali lagi. Memeluk Dania, dan kembali mencium keningnya.


" Mas akan segera kembali. Kalau perlu sesuatu, kabari Mas. Segera minum obat dan istirahat lagi. Oke?"


Dania mengiyakan dengan anggukan.


" Ingat, jangan kemana-mana. Mas cuma sebentar. Kamu mau Mas bawakan apa? Makanan atau minuman? Atau-"


" Aku lagi gak ingin makan apa-apa."


" Hm..baiklah. Mas pergi dulu. Nanti setelah sampai Mas kabari kamu. Mas berangkat ya, Sayang. Love you."


Setelah berkata seperti itu, Pram pun meninggalkan ruangan Dania. Dania pun kembali duduk di ranjangnya. Saat Dokter yang menangani Dania datang, dan mengatakan bahwa kesehatan Dania sudah pulih dan bisa pulang hari itu juga, Dania dengan senang hati segera membereskan semua barang-barang bawaannya.


Tiga jam kemudian, Pram sudah kembali ke rumah sakit, dan mendapati Dania yang sudah selesai dengan barang-barangnya.


" Sayang, kamu..."


" Dokter sudah mengizinkan aku pulang. Dan sekarang aku mau pulang."


Pram mendekati Dania, lalu mencium keningnya.


" Mas selesai kan administrasinya dulu."


" Gak perlu, aku udah menyelesaikan nya. Tinggal pulang aja."


Pram tercenung. Dania berubah, menjadi pribadi yang seperti tak di kenali oleh Pram. Sampai biaya rawat nya pun, Dania membayarnya sendiri. Di perjalanan, Dania bungkam. Hanya menatap jalanan. Pram semakin sulit berkomunikasi dengan Dania karena sepertinya Dania tidak ingin banyak bicara dengannya. Dania seperti membangun tembok tinggi untuk Pram.


Pram membelokkan mobilnya di sebuah hotel. Pram ingin mereka bicara berdua saja. Berbicara dari hati ke hati. Pram sudah tidak sanggup di abaikan terus menerus oleh Dania.

__ADS_1


" Mau apa kita kesini?"


Dania bertanya dengan kening yang berkerut. Pram membuka pintu mobil di bagian Dania. Namun tak memberikan penjelasan apapun. Dania hanya mengikuti Pram yang sedang melakukan check in. Lalu mengikuti langkah menuju kamar yang di pesan oleh Pram.


" Masuk, Sayang."


Dania menatap Pram penuh curiga. Namun Pram memberikan senyuman yang membuat Dania percaya.


" Mas mandi dulu, kamu tunggu sebentar."


Pram masuk ke kamar mandi. Sedangkan Dania duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Menunggu Pram menyelesaikan mandinya. Sepuluh menit berlalu, Pram keluar dengan menggunakan kaos yabg di pakai sebagai dalaman kemejanya tadi. Karena memang tak ada pakaian ganti.


Pram duduk di depan Dania. Sedangkan Dania menatap Pram dengan pandangan yang sulit di artikan. Pram bangkit, lalu berjongkok di hadapan Dania. Dan menggenggam tangan Dania.


"Sayang, mas minta maaf. Mas tahu, kesalahan mas sama kamu terlalu banyak. Maafkan Mas yang sudah tidak jujur kemarin-kemarin. Dan maafkan Mas, karena sudah membuat kamu kecewa. Apa kamu mau memaafkan Mas?"


Dania diam, melihat kesungguhan di mata Pram. Membuat Dania sedikit meragu.


" Aku sudah memaafkan, Mas. Sungguh. Hanya saja, saat ini aku perlu waktu untuk menata hati ku sendiri. Aku hanya perlu waktu untuk kembali meyakinkan hatiku, bahwa kamu memang untukku, Mas."


Pram semakin mengeratkan genggaman tangannya.


" Mas, tolong jangan menjanjikan apa pun. Aku tahu. Jangan membuat dirimu sulit, Mas."


Kalimat Dania terjeda, Dania mencoba menahan air matanya, dan mencoba menetralkan rasa sakit di hatinya.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


" Tanyakan, tanyakan semua yang mengganjal di hati kamu, Sayang. Asal setelah semuanya itu, mas ingin Dania mas yang dulu kembali. Hanya itu."


" Apa perasaan Mas, saat mengetahui, orang yang Mas sayang, orang yang pernah mas cintai bertahun-tahun lamanya, akan berpisah? Akan bercerai dari suaminya?"


Pram diam sesaat. Sedangkan Dania mengalihkan pandangannya ke arah lain. Membuat dirinya yakin saat ini Pram tengah dilema.


" Kita pulang, aku mau ketemu Cilla."


Dania melangkah menuju pintu, Pram masih membisu di sana. Saat tangan Dania memegang handle pintu, saat itu pula Pram memeluknya dat belakang.


" Maafkan, Mas. Mas menyakiti kamu."

__ADS_1


Ucap Pram di sela pelukannya. Dania berusaha tenang, dan tak membalas pelukan itu.


" Aku mau pulang, aku mau ketemu Cilla."


Pram mengalah, dan memilih pulang ke rumah mereka. Disana sudah ada Fatma yang menunggu. Sedangkan Cilla belum pulang dari ngaji. Fatma menyambut Dania. Memeluk menantunya itu selayaknya anak sendiri. Dan membantu Dania menuju kamarnya.


" Kamu istirahat aja. Kamu sudah makan, sayang?"


Dania menggeleng. Membuat Fatma melihat ke arah Pram. Lalu menghembuskan nafasnya.


" Mami siapkan makan siang untuk kamu. Kamu mau makan apa, Sayang?"


" Terserah mami aja."


Dania pun duduk di sofa panjang yang ada di kamar itu. Menyandarkan kepalanya, dan memejamkan mata. Saat ini, hormon kehamilan membuat dirinya sensitif.


" Kamu lelah? Mau mas pijat kakinya?"


Dania membuka matanya.


" Tidak perlu, Mas."


Pram menatap wajah Dania, tercetak jelas wajah lelah dan kecewa disana. Tak lama, Mbak Ratih datang membawakan makan siang untuk Dania.


" Terima kasih, Mbak."


Dania memakan makan siangnya dengan perlahan. Fatma benar-benar memperhatikan asupan makanan untuk Dania. Sejak mengetahui menantunya itu mengandung, Fatma selalu meminta asisten rumah tangga nya untuk menyiapkan makanan bergizi tinggi untuk Dania.


Setelah selesai dengan makan siangnya, Dania pun akan turun ke dapur, namun Pram melarangnya.


" Biar Mbak Ratih yang akan membereskannya."


" Aku bisa."


" Dania, kamu masih lemah, mas hanya mengkhawatirkan keadaan kamu."


" Aku bisa, lagian aku juga ingin menunggu Cilla pulang mengaji."


" Kalau begitu, biar Mas aja yang bawa. Ayo kita turun."

__ADS_1


Pram menggenggam tangan Dania, dan membawanya turun perlahan menuruni anak tangga. Dania di minta duduk di ruang keluarga. Sementara Pram meletakkan piring kotor ke dapur. Dania menunggu Cilla pulang sambil menonton acara televisi. Tak lama terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Dania mengira Cilla yang pulang, namun yang datang membuat Dania menatap ke arah Pram.


__ADS_2