Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 48


__ADS_3

Setelah selesai menggoda Cilla, kini Cilla tengah tertidur sambil memeluk Dania. Pram pun mendekat ke arah Dania yang sedang memeluk Cilla. Pram mencium sisi kening Dania. Membuat wanita itu menoleh ke arahnya Pram.


" Kenapa, Mas?"


Pram menggeleng, lalu membelai kepala Dania. Dania mengerutkan keningnya, melihat Pram yang menatapnya. Pram melangkah kan kakinya menuju pintu penghubung ke arah balkon. Dirinya menatap langit malam yang berhiaskan bintang. Pram terus menatap, ke arah langit. Tanpa sadar, kini Dania berdiri di pintu itu. Dania melipat tangannya di dada, dan menatap Pram yang masih mendongakkan wajahnya ke langit malam.


Dania melangkah pelan, lalu memeluk suaminya itu dari belakang. Pram terlonjak kaget, lalu tersenyum.


" Kenapa belum tidur?"


Pram bertanya sambil membelai punggung tangan Dania yang kini ada di pinggangnya.


" Mas, ngapain disini sendirian?"


Bukannya menjawab pertanyaan Pram, Dania malah balik bertanya. Pram pun menarik tangan Dania agar Dania kini berada di depannya. Dania kini berada di hadapan Pram.


Pram menatap Dania lembut, lalu merangkum wajahnya dan mencium lembut bibir Dania. Ciuman itu lebih lembut dari ciuman yang biasa Pram lakukan. Tak ada unsur nafsu di dalamnya. Ciuman itu murni luapan rasa sayang Pram terhadap Dania.


Pram melerai tautan bibir mereka. Di tatapnya Dania yang memejamkan mata, menikmati sisa rasa di bibirnya. Dania pun membuka mata, saat tangan Pram kembali membelai pipinya. Tatapan lembut serta belaian mesra yang di lakukan Pram membuat Dania memeluknya dengan erat. Pram pun memeluk Dania tak kalah erat.


" Apapun yang terjadi, tetaplah di sisi Mas, Sayang. Mas takut kehilangan kamu."


Dania merasa kalau saat ini, Pram sangat mencintainya, walau kata cinta belum juga Dania dengar secara langsung. Pram hanya menyebutkan cinta pada saat Dania terlelap.


Pram kembali akan menyatukan bibir mereka, saat suara Cilla terdengar memanggil Dania.


" Nda....nda..."


" Iya, Sayang."


Cilla mendekati Pram dan Dania sambil mengucek matanya. Bocah keriting itu, masih mengantuk, namun karena tak mendapati Dania di sisinya, Cilla pun terbangun dari tidurnya.


Dania langsung menggendong Cilla. Dan Cilla pun meletakan kepalanya di bahu Dania. Pram memijit pelipisnya, karena lagi-lagi kemesraan nya terganggu dengan kedatangan Cilla.


" Ayo kita bobok."

__ADS_1


Pram pun mengambil alih Cilla dari gendongan Dania dan membawanya menuju ranjang mereka. Sekejap saja, Cilla kembali tertidur. Dan lagi-lagi Dania di kuasai oleh Cilla.


" Mas gak mau bersaing, Sayang. Jadi pinter-pinter kamu ya. Membagi kasih sayang dan cinta kamu untuk kami."


Pram berbisik di telinga Dania. Dania hanya tersenyum. Kini posisi mereka berganti, menjadi Dania yang di tengah. Dan Pram merasa, posisi ini adalah keuntungan untuknya, karena dirinya bisa memeluk Dania dari belakang, dan Cilla memeluk Dania dari depan.


Dania menoleh ke arah Pram, lalu mencium sekilas bibir Pram.


" Aku akan adil untuk kalian."


Dan malam itu, mereka tidur dengan saling berpelukan.


...*...


Pagi hari, karena Dania yang berada di tengah, membuat Dania kesulitan untuk beranjak dari ranjang. Tangan Pram masih terus melingkar di perut rata Dania. Sedangkan sebelah tangannya di peluk oleh Cilla. Dania pun berbicara sambil berbisik pada Pram.


" Mas, bangun, aku susah mau bangkit dari ranjang."


" Ini baru jam berapa, Sayang."


Pram berkata, dengan mata yang masih memejam. Suara serak khas bangun tidur membuat dirinya terdengar seksi. Entah mengapa,membuat pikiran Dania travelling kemana -mana.


" Biarkan Mbak Ratih yang mengerjakan nya. Biarkan seperti ini."


Pram semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan kini tangan nya mulai menerobos masuk ke bagian dada Dania. Membuat Dania membulat kan matanya.


" Mas, nanti Cilla lihat."


Pram pun akhirnya melepaskan tangannya yang sedang bermain di puncak bukit kembar Dania. Walau rasa tak rela, namun Dania hanya bisa melipat bibirnya. Pram berpindah ke sofa, dan langsung menarik Dania untuk ikut bersamanya.


" Mas.."


Kini Dania berada di bawah kungkungan Pram. Pram membuka kancing piyama Dania, membuat Dania melipat bibir nya. Dania hanya mampu meremas rambut Pram, saat Pram memberikan hisapan di puncak gunung miliknya.


Pram melakukan itu secara bergantian, membuat Dania hanya bisa pasrah menerima keadaan. Sedangkan Anaconda milik Pram pun mulai bereaksi.

__ADS_1


Banyak jalan menuju Roma, begitulah umpama yang dipakai Pram saat ini. Walau Dania sedang tak bisa memuaskannya, Pram pun mengajari wanita nya itu cara lain, agar mereka bisa menikmati apa yang di inginkan. Ternyata Dania termasuk orang yang mudah belajar, dan Pram pun puas akan hal itu.


Setelah selesai menikmati jalannya sendiri, kini kedua pasangan itu tidur berdempetan di sofa yang ada di kamar mereka. Pram masih memeluk Dania sangat erat.


" Terima kasih, Sayang."


Dania bersemu, rasanya baru kali ini dia melakukan hal gila, dan itupun di ajarkan oleh suaminya. Pram pun membelai lengan Dania yang sudah tertutup piyamanya. Dania dan Pram tak mau ambil resiko, takut Cilla terbangun seperti tadi.


" Mas, boleh aku tanya sesuatu?"


Pram menundukkan pandangan, untuk menatap mata Dania yang mendongak kepadanya.


" Ada apa?"


" Tapi janji, kamu gak akan marah. Ataupun kamu akan tersinggung. "


" Hm.."


Pram hanya menjawab dengan gumaman. Dan matanya tertutup karena masih mengingat cara yang Dania lakukan tadi.


" Kenapa Oma kamu sangat tidak menyukaiku?"


Mata Pram langsung terbuka mendengar Dania bertanya. Sedangkan Dania hanya memainkan jarinya di dada Pram. Pram mulai bangkit dari rebahan, dan membuat Dania juga ikut bangkit. Posisi mereka kini duduk, namun Dania masih tetap dalam pelukannya.


" Opa pernah mencurangi Oma dengan menikah diam-diam dengan sekretarisnya."


Pram pun bercerita mengenai luka lama yang di alami Oma. Wanita yang merebut Opa itu adalah sekretaris nya sendiri. Yang merupakan orang yang sangat di percaya oleh Oma. Mereka pergi meninggalkan Oma di saat Om Fatur masih kecil. Om Fatur kehilangan kasih sayang seorang Ayah karena hal itu. Dan sejak saat itu, Oma selalu membenci posisi itu. Padahal tidak semua orang seperti itu.


" Tapi, aku kan..."


" Ya, Mas tau. Itu hanya mindsetnya Oma. Yang selalu beranggapan, bahwa mereka suka merebut. Buktinya kamu gak merebut, tapi aku yang menyerahkan diri."


Pram memainkan alisnya naik turun. Membuat Dania mencubit pelan pinggang Pram. Dan Pram pun semakin mengeratkan pelukannya.


" Kamu gak perlu memikirkan itu. Yang terpenting bagi Mas. Kamu menyayangi Cilla, dan Kami semua. Awalnya mas juga beranggapan, kamu hanya berpura-pura menyayangi Cilla. Tapi pada akhirnya anggapan itu patah dengan sendirinya. Terima kasih, Sayang. "

__ADS_1


Pram pun mencium pucuk kepala Dania. Dan juga keningnya.


" I Love you..."


__ADS_2