
Pram menatap Dania yang masih menyiapkan pakaian untuk Pram. Walau Dania masih enggan menyapanya, Dania tetap menyiapkan keperluan Pram. Setelah semua di siapkan, Dania pun melangkah keluar kamar. Namun tangannya di tahan oleh Pram.
" Kita harus bicara."
" Aku sedang tidak ingin membahas apa pun."
Dania berkata dengan nada dingin.
" Mau sampai kapan?"
" Sampai aku bisa kembali percaya bahwa aku memang penting untukmu."
Pram menggenggam tangan Dania. Mencoba kembali menahan Dania yang ingin keluar dari sana.
" Apa selama ini kamu gak percaya?"
Dania menghela nafasnya. Mencoba menahan emosi yang akan meledak di dadanya.
" Tadinya aku percaya, tapi untuk sekarang aku kehilangan akan hal itu. Sejak kembalinya cinta pertama di kehidupan mu, aku merasa kalau aku hanyalah pelampiasan untukmu. Kau mulai tak jujur, dan yang paling membuatku sakit, kau menolak kehadiran anak dari ku."
Air mata Dania lolos begitu saja. Pram terkesiap. Mendengar Dania menyinggung masalah anak yang di tolaknya.
" Dania.."
Dania mengangkat sebelah tangannya. Meminta Pram tidak melanjutkan ucapannya.
" Cukup, apapun alasannya. Kau memang tak menginginkan kita terikat. Kalau kau menolak kehadirannya, aku juga gak memaksa."
Dania pergi begitu saja, meninggalkan Pram yang mematung disana. Ucapan Dania yang dingin, dengan air mata yang menetes di pipinya, membuat Pram merasa hancur. Begitu dalam luka yang di torehkan Pram.
Dania menuju ruang makan, setelah menyeka air matanya. Dania pun langsung duduk. Mengambil sepotong roti dan diisi dengan selai coklat. Setelah selesai, Dania meneguk susu yang telah tersedia disana.
Tak lama Pram pun turun. Lalu memakan roti yang telah terisi selai kacang di piringnya. Pram menatap sendu ke arah Dania. Namun Dania tak sedikit pun menoleh ke arahnya. Dania akan beranjak dari duduknya, saat bel berbunyi, dan Mbak Ratih membukakan pintu. Chelsea hadir di pagi itu. Dania melirik sekilas ke arah Pram. Lalu tersenyum manis ke arah Chelsea.
" Selamat pagi, Dania."
Sapa Chelsea dengan ramah. Dania pun membalas sapaan Chelsea dengan senyum yang sangat manis. Hingga Pram sedikit takut akan arti dari senyuman Dania itu.
" Selamat pagi, Mbak. Ayo sarapan. Kebetulan sahabat Mbak sedang makan. Ayo duduk."
__ADS_1
Dania menarik sebuah kursi tepat di sisi Pram. Membuat Chelsea mengerutkan keningnya. Sedangkan Pram hanya diam dan menunduk. Setelah Chelsea duduk, Pram berusaha untuk tersenyum tipis. Dania berusaha untuk menetralkan detak jantungnya. Lalu memberikan Chelsea senyum manis. Tapi senyuman manis itu tampak menusuk untuk Pram.
"Ayo Mbak,.."
Dania mempersilahkan Chelsea untuk makan. Namun Chelsea hanya menatap bingung. Lalu menatap ke arah Pram. Melihat adegan itu, Dania pun meninggalkan meja makan tersebut.
" Hm, sepertinya kalian mau bicara. Aku tinggal ya. Silahkan di lanjut, Mbak."
Dania pun pergi meninggalkan Pram dan juga Chelsea. Dania menuju kamarnya, membersihkan diri, dan bergegas menuju Cafenya. Dirinya tak ingin lagi, menyiksa hati untuk sekedar melihat keakraban mereka.
Setelah Dania menuju kamarnya, Chelsea bertanya pada Pram.
" Kalian bertengkar?"
Pram menghela nafasnya. Diam nya Pram sudah cukup sebagai jawaban atas pertanyaan Chelsea.
" Apa kamu gak jujur dengan Dania, Pram? "
Pram menatap Chelsea sejenak, lalu mengalihkan pandangannya. Chelsea menghela nafasnya.
" Mestinya, kejadian yang menimpa diriku menjadikan pelajaran untukmu, Pram. Dania wanita yabg baik, wanita tulus dan sangat menyayangi kalian. Aku bersalah. Semestinya aku gak cerita denganmu. Mestinya aku mencari jalan keluar sendiri untuk masalah ku. Tapi, sekarang aku yang menjadi penyebab kalian bertengkar."
Selesai Chelsea bicara seperti itu, Dania tampak turun dari kamar, dan melangkah menuju luar. Chelsea yang melihatnya ingin segera menahan, namun Pram memintanya untuk tidak menahan Dania.
Chelsea menatap Pram tak percaya.
" Itu tandanya dia ingin kamu bicara dengan nya. Bukannya malah membiarkan nya, Pram. Ya, Tuhan...Dimana hatimu Pram?"
Chelsea meninggalkan Pram yang masih duduk di meja makan, saat Chelsea berusaha mengejar, tapi mobil Dania sudah pergi meninggalkan pelataran rumah mewah itu.
" Aku akan bicara dengan Dania. Aku gak ingin, rumah tangga kalian bermasalah karena diriku. Cukup rumah tangga ku saja yang bermasalah."
Chelsea segera mengambil tas nya, dan melangkah menuju luar rumah. Chelsea masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu nya. Memberikan sebuah alamat, dan sopir taksi itu pun segera menuju alamat tersebut.
Chelsea menunggu cukup lama. Hingga tampaklah Dania masuk ke cafe miliknya.
" Dania.."
Dania mendengar seseorang memanggil namanya. Dania pun melihat, ternyata Chelsea yang memanggil.
__ADS_1
" Mbak Chelsea, ada apa?"
" Bisa kita bicara sebentar? Please, Dania. Kali ini tolong dengarkan penjelasan ku."
Dania menghela nafasnya.
" Apa sahabat Mbak yang meminta?"
Chelsea menggeleng. Setelah meredakan debaran jantungnya, Dania pun mempersilahkan Chelsea untuk berbicara. Bagaimana pun, Chelsea seorang wanita, dia tahu betul bagaimana rasanya kehilangan kepercayaan terhadap orang yang di cintai.
Chelsea menceritakan semua, tanpa ada yang di tutupi ataupun di kurangi. Sesekali Chelsea menghapus jejak air mata yang jatuh di pipinya.
" Aku mohon Dania. Percayalah padaku, aku dan Pram hanya sebatas sahabat. Kami tidak ada rasa apapun."
Dania mengalihkan pandangan. Tak ingin melihat Chelsea yang menangis di hadapannya.
" Apa Mbak sudah selesai bicara? Kalau sudah, saya akan masuk ke ruangan saya. Maaf bukan saya tidak sopan, tapi saya benar-benar lelah. Dan saya sedang tak ingin membahas apapun lagi."
Dania langsung bangkit dari duduknya. Sedangkan Chelsea hanya menatap Dania dengan penuh sesal. Chelsea pun melangkahkan kakinya keluar dari cafe Dania. Sedangkan setelah kepergian Chelsea, Dania mendudukkan tubuhnya di kursi yang sama.
" Aku kecewa buka karena kalian dekat. Tapi keengganan Pram atas hadirnya buah cinta kami. Kalau hanya soal persahabatan kalian aku sudah memakluminya." Lirih Dania.
Dania akan masuk ke ruangannya, lalu mendudukkan bokongnya. Matanya menerawang, membayangkan nasib pernikahan yang entah bagaimana. Ketukan di pintu ruangannya membuyarkan lamunan Dania.
" Maaf, Bu. Di depan ada teman-teman Ibu, mereka ingin bertemu dengan ibu."
Dania mengerutkan keningnya. Dania melihat ponselnya, dan benar saja, sudah ada panggilan dari Lena. Dania pun langsung menuju meja yang di duduki oleh Lena, Selly, dan Tari. Sahabat-sahabatnya yang selalu menghibur dan menyayanginya.
" Hai...kalian udah lama? Sorry aku gak denger waktu Lena menelpon tadi."
Ketiga sahabatnya yang sedang menyeruput minuman itu pun menoleh ke arah Dania.
" Baru kok. Kirain kamu gak disini. Selamat ya Dania Sayang atas-"
Belum selesai Tari berbicara, mulutnya sudah di bungkam oleh Lena. Selly yang melihat pun membulatkan matanya pada Tari.
" Maaf ya, Dan. Aku gak sengaja keceplosan sama mereka."
Dania tersenyum, lalu mengangguk.
__ADS_1
" Gak apa-apa, asal jangan sampai yang lain tau aja."
" Emang kenapa sih, Dan. Kamu kok gak mau orang-orang tau kalau kamu lagi hami"