
"ARISCHA ZAKI FAIZAN"
Jawab Pram kemudian. Lalu Pram menatap Dania.
" Kamu setuju kan, Sayang. Anak kita Mas kasih nama itu."
" Setuju, Mas. Aku suka. Kita panggil dia baby Zaki."
Semua orang pun mengiyakan. Setelah menghabiskan waktu di rumah sakit, dan meninggalkan kekacauan di rumah. Kini Pram tengah memandang wajah Dania yang tertidur pulas. Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Pram membelai rambut Dania. Dan sekelebatan peristiwa pagi tadi masih menari di pikirannya. Pram menyaksikan bagaimana Chelsea yang berusaha menghilangkan nyawa Dania dan calon anaknya. Serta perjuangan Dania saat menghantarkan buah cinta mereka melihat dunia.
Pram tak dapat memejamkan matanya, mungkin akibat terlalu bahagia. Pemandangan Dania tertidur pulas di brankar rumah sakit, seakan menjadi pemandangan yang begitu indah dan wajib di syukuri olehnya saat ini. Pram tak dapat membayangkan jika sampai mereka tak bisa menyelamatkan Dania pagi tadi. Bisa jadi saat ini Pram sudah berada di rumah sakit jiwa. Jiwanya akan terguncang, karena kehilangan Dania dan calon anaknya.
Pergerakan Dania membuat Pram mendekat ke ranjang. Di lihatnya Dania yang sedikit tidak nyaman, mungkin akibat luka persalinan yang dirasakannya. Pram kembali membelai rambut Dania, mencoba memberikan rasa tenang pada wanitanya itu. Dania membuka matanya saat merasakan belaian di rambutnya.
" Mas kok belum tidur?"
Tanya Dania dengan suara khas orang bangun tidur. Pram hanya menggeleng.
" Gak apa-apa. Mas cuma mau mastiin kamu nyaman aja. Sekarang tidur lagi ya. Biar Mas belai lagi."
Dania memegang tangan Pram. Lalu memintanya berbaring di sisi nya. Ranjang ruangan ini cukup untuk tidur berdua.
" Mas tidur disini aja. Aku gak mau jauh."
Pram tersenyum, lalu naik ke ranjang, dan memiringkan tubuhnya menghadap Dania. Dania pun menatap Pram. Dan memberikan senyumnya. Pram lalu mencium kening Dania, dan berlanjut ke bibirnya.
" Terima kasih sudah melengkapi hidup Mas. Sudah menerima semua keburukan dan segala kekurangan yang Mas punya. Terima kasih. I love you."
Pram mengucapkan kata cinta yang dalam. Dan semua itu keluar begitu saja. Bahkan matanya berkaca-kaca.
" I love you too. Tuan Pramudya Hanudinata. Manusia kulkas yang sudah mencuri hati ku. Terima kasih, sudah menerima aku sebagai Bunda Putri kecilmu. Terima kasih."
Setelah saling mengungkapkan rasa cinta, kini Dania dan Pram tidur di ranjang yang sama. Namun tetap saja Pram tak dapat memejamkan matanya.
Keesokan paginya, Dania terbangun Anmum Pram sudah tidak ada di sisinya. Dania melihat suaminya yang masih bersimpuh di atas sajadah, dan sedang mengangkat tangannya. Dania mendengar doa yang di panjatkan Pram. Lalu mengaminkannya di dalam hati.
__ADS_1
Pram bangkit dari duduknya, dan melihat Dania yang sudah terbangun.
" Kok sudah bangun?"
Dania menjulurkan tangannya dan mencium tangan Pram. Sedangkan Pram mencium kening Dania. Lalu memeluknya. Mereka saling berbincang sejenak, sambil menunggu perawat datang menghantarkan sarapan. Sedangkan untuk membersihkan tubuh Dania, Pram sendirilah yang melakukannya. Pram tidak mengizinkan perawat untuk membantu.
" Kamu mau pompa asi?"
" Sebenarnya aku ingin mengasihi nya langsung. Tapi.."
" Gak usah sedih, Sayang. Nanti kita ke ruangan dimana Baby Zaki berada."
Dania mengangguk. Lalu Dania pun memulai memompa ASI Nya. Setelah selesai, kini Pram dan Dania yang duduk di kursi roda menuju lantai dimana Baby Zaki berada. Dania dapat melihat wajah anaknya yang lucu. Tampan dan tentu saja menggemaskan.
Baby Zaki meminum Asi dari Dania menggunakan botol. Untuk sementara selama baby Zaki belum bisa keluar dari inkubator.
" Bunda Sayang kamu Nak."
Air mata Dania luruh, tangannya meraba kaca di mana baby nya berada. Pram menguatkan Dania dengan membelai rambut, dan memeluk Dania yang berada di kursi roda.
Dania mengangguk. Dan rasa haru semakin membuncah saat Dania melihat nany Zaki yang meminum ASI nya dengan lahap. Membuat Dania semakin semangat untuk terus memberikan asi pada bayi nya.
Setelah dari ruangan baby Zaki. Kini Dania dan Pram sudah kembali ke ruangannya. Siang ini, Fatma dan Cilla akan datang. Kondisi Dania yang sudah jauh lebih baik, membuat Dania sudah melepaskan infus yang terpasang di tangannya.
Dania melihat televisi di ruangannya. Sedangkan Pram tampak tertidur di sofa. Pram terbangun saat merasakan pergerakan di sofa yang di jadikan sandaran nya.
" Kenapa, Sayang? Kamu mau sesuatu?"
Dania menggeleng. Pram tau, Dania pasti bosan. Dan juga kangen dengan baby mereka.
" Sabar ya. Setelah dokter memastikan kondisi kalian baik-baik saja, Mas akan membawa kalian pulang. Kalau pun hanya kamu, kita setiap hari bisa datang, gak apa-apa kan?"
Dania mengangguk. Tak lama terdengar suara salam dari Cilla. Dan Fatma yang menyusul di belakangnya. Ternyata tak hanya Fatma dan Cilla, Tante Delila pun ikut juga bersama mereka.
" Bagaimana kondisi kamu, Sayang?"
__ADS_1
" Alhamdulillah, Dania udah lebih sehat Tante. Tadi pagi juga Dania udah liat baby Zaki. Dania nganterin Asi ke ruangan nya."
Fatma melihat ke arah Dania. Lalu tersenyum. Begitu juga Tante Delila.
" Nanti di rumah mami masakan sayur daun katuk,biar Asi kamu tambah banyak. Biar baby Zaki bisa segera pulang. Asi itu makanan terbaik untuk bayi, Sayang."
" Iya, Mi."
Pram mengajak Cilla untuk melihat Adiknya. Dengan girang, Cilla pun ikut bersama Pram. Bahkan setibanya di ruangan baby Zaki, Cilla tidak sabar untuk melihat adik bayinya.
" Pa,.kok adiknya gak boleh kita bawa ke ruangan Bunda?"
" Adek masih perlu di rawat Sayang. Nanti kalau Adek udh lebih besar sedikit dari sekarang. Adek pasti kita bawa pulang."
" Kapan Pa? Cilla udah gak sabar maen sama Adek. Cilla mau maen rumah-rumahan, maen boneka,maen lompat tali. Pokoknya banyak deh Pa."
Pram tertawa mendengar keinginan putri kecilnya itu. Lalu mengacak gemas rambutnya.
" Iya, Sayang. Cilla doain ya. Biar adeknya secepatnya bisa pulang."
Setelah puas melihat Baby Zaki. Kini mereka pun kembali ke ruangan Dania. Dan ternyata sudah ada Tari dan juga Lena. Bahkan Selly pun ikut bersama mereka. Mereka berbincang disana. Tak jarang mereka tertawa bersama. Tawa mereka terhenti saat mendengar salam dari suara yang sangat familiar di telinga ketiga wanita muda itu.
" Ternyata kalian disini. Bukan nya jam istirahat kantor sudah mau habis ya. Kenapa kalian masih disini? Apa kalian bolos siang ini?"
" Gak kok Pak Riko. Kita udah izin, dan di izinin sama personalia."
" Kalian izin apa alasannya. Gak mungkin karena ingin jenguk Dania kan?"
" Ya gak lah. Lena izin katanya mau ke dokter. Selly izin katanya sakit perut. Kalau saya izin, karena ada masalah keluarga."
Selly dan Lena membuatkan matanya. Sedangkan Tari langsung menutup mulutnya. Karena sudah keceplosan.
" Tariiiiii....."
Lena dan Selly sama-sama memekik memanggil Tari.
__ADS_1