Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 47


__ADS_3

Kini Cilla berada di gendongan Pram. Sedangkan Pram meminta asistennya untuk mengurus barang-barangnya yang masih tertinggal di hotel. Sebelah tangan Pram mengendong Cilla, dan sebelah lagi menggandeng tangan Dania. Tapi Pram masih membisu. Tak sepatah kata pun, keluar dari bibirnya. Begitu juga dengan Dania. Dia pun masih diam.


Selama di pesawat pun, Dania diam. Tatapan nya sendu. Namun saat Cilla bertanya, Dania menampilkan wajah yang ceria. Walau di matanya masih tersimpan luka. Selama di perjalanan, Pram terus saja menggenggam tangan Dania. Bahkan sesekali Pram mencium tangan itu. Membuat Dania menoleh ke arahnya. Namun pandangannya tetap lurus.


Tiba di bandara internasional di Jakarta. Anak buah Pram sudah menunggu. Tanpa menunggu perintah, mereka pun diantar menuju kediaman keluarga Hanudinata. Pram masih bungkam. Sedangkan Cilla terus berceloteh, menceritakan semua yang ia lakukan di kediaman eyang buyutnya.


Sesekali Dania menimpali, tapi lebih banyak tersenyum. Membiarkan putri sambungnya itu bercerita. Mobil yang mereka kendarai tiba di halaman rumah Hanudinata. Supir langsung membuka pintu bagian Pram. Sedangkan untuk bagian Dania, Pram sendirilah yang membuka nya. Cilla kembali di ambil alih oleh Pram.


Dania kembali masuk ke rumah dengan di gandeng oleh Pram. Sudah ada Mbak Ratih di rumah itu.


" Mbak, tolong bantu Cilla untuk mandi ya."


Pram meminta Mbak Ratih, dan kini Cilla bersama Mbak Ratih.


" Biar aku aja, Mas."


" Biarkan mbak Ratih yang memandikan Cilla. Ayo."


Pram mengajak Dania menuju kamar mereka. Setibanya di dalam kamar, Pram langsung memeluk Dania. Mendarat kan ciuman di pucuk kepalanya.


" Maafkan Mas, Sayang. Maafkan Mas."


Dania melerai pelukan itu, lalu tersenyum lembut pada Pram.


" Kamu gak salah, Mas. Jadi gak perlu minta maaf."


Pram merangkum wajah Dania.


" Untuk semua ucapan mas yang pernah menyakiti hati kamu. Merendahkan kamu, dan ..."


Pram tidak bisa melanjutkan ucapannya. Karena kini tangan Dania menutup bibir Pram, agar tak melanjutkan ucapannya.


" Ssttt...lupakan, itu adalah masa lalu. Aku sudah terbiasa dengan itu semua."


Dania berkata dan menarik bibirnya. Senyum tipis tercetak di sana. Membuat Pram semakin menyesal dengan ucapan yang dulu ia ucapkan. Pram semakin mengeratkan pelukannya. Menghadiahi Dania dengan kecupan di seluruh wajahnya.


Suara ketukan di pintu membuat dua insan itu harus melerai pelukan hangat itu. Cilla sudah selesai mandi dan kini ,gadis kecil itu tengah berdiri di depan pintu dengan memegang botol susunya.


" Anak papa sudah mandi dan wangi."

__ADS_1


Pram langsung membawa Cilla masuk dan menggendongnya. Cilla yang melihat Dania langsung merentangkan tangannya dan meminta gendong.


" Mau bobo, Bunda."


Dania pun mengangguk, lalu membawa Cilla menaiki ranjang. Pram sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan. Dan kini tengah berbaring di sisi Cilla.


" Sebentar ya, Nak. Bunda mandi dan ganti pakaian."


Lalu Dania pun masuk ke kamar mandi. Lima belas menit kemudian, Dania keluar menggunakan baju rumahan. Dan kini berbaring di sisi sebelah Cilla. Cilla tidur diantara Papa dan Bundanya.


Cilla memiringkan tubuhnya menghadap Dania. Membuat Dania menatap padanya. Cilla membelai wajah Dania, dan tangan imut itu di pegang oleh Dania. Lalu di ciumnya.


" Sekarang, Cilla bobo ya."


Untuk membuat Cilla cepat tertidur, Dania sengaja membelai- belai punggung Cilla. Tak sampai lima belas menit, Cilla pun tertidur. Dania yang merasa lelah pun ikut tertidur. Sedangkan Pram hanya memandangi kedua wanita nya. Putri kecilnya yang sangat berharga, dan Dania wanita yang telah mengusir nama Chelsea dari hatinya.


Pram pun melingkarkan tangannya ke mereka. Tidur siang nya kali ini merupakan tidur siang yang sangat istimewa. Di temani oleh istri dan anaknya, itulah letak keistimewaan nya.


Entah berapa jam Dania memejamkan matanya. Namun saat diri nya membuka mata, di ranjang sudah tidak ada Cilla ataupun Pram. Dania melirik ke arah jam, ternyata sudah malam. Dania bergegas bangkit, namun suara pintu yang terbuka membuat Dania membatu.


" Sayang, kamu sudah bangun. Baru aja mas mau bangunin kamu."


Pram datang dengan membawa baki yang berisi makan malam dan segelas air putih.


Dania merasa tak enak hati pada Pram. Bagaimana pun, Pram adalah suaminya.


" Sudah, sekarang kamu makan. Nanti kamu sakit. Dari siang kamu belum makan, kan?"


" Cilla mana, Mas?"


Setelah berkata seperti itu, Cilla pun datang sambil berlari membawa boneka kesayangan nya. Dan langsung naik ke ranjang. Dania memeluk serta menciumi putrinya itu.


" Cilla udah makan?"


Cilla mengangguk, lucu. Pram yang melihat interaksi itu tersenyum sambil tak lupa terus mengucapkan syukur. Semenjak dari Singapura, hingga tiba di rumah, Cilla sepertinya tak ingin jauh dari Bundanya. Entahlah, sepertinya Cilla selalu saja ingin menempel dengan wanita yang juga sangat menyayanginya itu. Bahkan saat makan pun, Dania harus sambil memangku Cilla.


" Cilla sama papa dulu, yuk. Biar Bunda makan dengan tenang, Nak. Kasian Bunda."


Namun Cilla menggeleng, dan semakin mengeratkan tangannya di leher Dania.

__ADS_1


" Sayang, Jangan gitu. Bunda susah makannya."


Saat Pram mengambil Cilla secara paksa, Cilla malah menangis dengan kencang.


" Udah ,udah, sini. Jangan nangis dong, Nak."


Setelah berada di pangkuan Dania kembali, Cilla baru tenang. Melihat Cilla yang terus menempel dengan Dania, akhirnya Pram mengambil alih piring Dania. Pram menyuapi Dania, di karenakan Cilla yang tak ingin jauh dari Bundanya.


" Mas, aku bisa."


" Ayo, aaaa"


Dania tertawa melihat Pram yang menyuapinya. Sementara Cilla semakin menempelkan dirinya pada Dania. Cilla memeluk Dania dengan wajah yang melekat di dadanya. Dania pun membelai rambut keriting Cilla penuh rasa sayang.


Dania akhirnya selesai makan, tapi Cilla tak juga turun dari pangkuan nya.


" Sayang, sama papa aja yuk. Kasian Bunda."


Cilla menggeleng. Dan tetap bersama Dania.


" Biarin aja, Mas."


Pram mendengus, bukannya kesal, hanya saja, dirinya seperti tersingkirkan hari ini.


" Mas kan juga mau peluk kamu, Yang."


Pram berbisik di telinga Dania. Membuat Dania memukul lengan Pram.


" Jangan aneh-aneh, ada Cilla disini."


" Mas gak aneh, kok. Mas kan cuma bilang, mau peluk kamu, itu aja."


Dania membulatkan matanya, dan membuat Pram tergelak. Sedangkan Cilla menatap kedua orang tuanya. Kini tangan Pram pun sudah melingkar di pinggang Dania. Cilla yang mengetahuinya mengajukan protes.


" Papa jangan peluk, Bunda. Bunda punya Ila."


Cilla berusaha melepaskan tangan Pram di pinggang Dania. Membuat Ayah dan anak itu berdebat kecil.


" Gak mau...Bunda punya Ila, Papa sana..."

__ADS_1


Dania hanya tertawa, sedangkan Pram kembali menggoda Cilla dengan terus menempelkan tangannya di pinggang Dania.


" Papaaaaaa......"


__ADS_2