Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 60


__ADS_3

Dania tak bisa membendung tangisnya. Selama ini mereka berempat memang selalu terbuka. Bukan hanya Dania yang menangis saat itu, tapi mereka semua. Bahkan Lena tampak begitu geram dengan Pram.


" Kamu pergi aja, Dan. Kita siap menerima kamu."


Tari memberikan ide pada Dania. Dan di jawab anggukan oleh Selly dan Lena.


" Aku gak bisa jauh dari Cilla."


Ucap Dania di sela tangisnya. Membuat mereka bertiga menghela nafasnya. Kini mereka semua memberikan pelukan untuk menyemangati Dania.


Tak lama Reyhan datang bersama Riko. Dan ketiga teman Dania itu bertemu dengan Pimpinan perusahaan itu.


" Hai semua."


Sapa Reyhan pada mereka semua. Tapi sebelah tangannya membelai rambut Lena. Membuat Tari dan Selly menatap curiga. Reyhan pun mengambil duduk di samping Lena. Sedangkan Riko duduk di samping Tari.


" Dan... Gimana reaksi Pram saat tau, kamu mengandung anaknya? Oh, iya, sorry ya, aku terpaksa cerita ke mami mertua kamu, karna..."


" Gak apa, Mas. Mami bahagia, Tapi-"


Ucapan Dania menggantung, tapi gerakan tangan Selly yang menggenggam tangan Dania dapat menyatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


" Ada apa, Dania?"


Kali ini Reyhan berkata dengan tegas. Membuat Dania melihat ke arahnya.


" Aku belum memberitahukan Mas Pram. Karena-"


" Karena Pram tidak menginginkan anak dari Dania."


Kali ini Riko yang bicara. Membuat Dania melihat ke arahnya. Tampak Reyhan mengepalkan tangannya, Lena yang melihat ada kemarahan di mata Reyhan pun mengalihkan pandangannya.


" Aku akan buat dia menyesal."


Ucap Reyhan dengan menahan geramnya.


" Jangan gegabah Rey. Ingat Pram belum tau kehamilan Dania."


Reyhan pun menatap Dania yang tampak menunduk. Lalu menggenggam tangannya.


" Katakan padaku, kalau kamu menginginkan sesuatu. Jam berapapun itu, Mas akan usahakan."


Ucapan itu membuat mereka semua menganggukkan kepala. Sedangkan Lena memeluk Dania yang tepat di sampingnya. Namun sejak ucapan Reyhan yang terkesan sangat perhatian dengan Dania, membuat Lena sedikit menjauh dari Reyhan. Bahkan saat makan siang berakhir, Lena undur diri lebih dulu, dari pada teman-teman dan yang lainnya.


Reyhan melihat bagaimana Lena mulai menghindar membuat dirinya mengejar Lena yang telah tiba di parkiran Cafe. Reyhan memegang tangan Lena, saat Lena akan menaiki taksi yang di hentikannya.

__ADS_1


" Len, tunggu."


Lena berusaha menampilkan senyum tipis di bibirnya.


" Aku duluan ya, Rey. Nanti aku hubungi."


Lena berusaha bersikap biasa, walau di hatinya terasa sedikit perih. Lena tak menampik, dirinya mulai jatuh hati pada Reyhan. Namun Lena belum mendapatkan kepastian dari Reyhan. Jadi dirinya tak bisa marah dengan sikap Reyhan tadi.


Sepeninggalan taksi yang di tumpangi Lena, Reyhan tampak menghela nafas, berusaha menetralkan perasaan yang ada di hatinya. Hingga tepukan di bahunya mengalihkan pandangannya.


" Aku mau balik ke kantor. Temen-temen Dania juga. Lo masih mau disini atau gimana?"


" Gue balik ke rumah sakit. Gue pamit ke Dania dulu."


Riko mengangguk. Menunggu Reyhan sejenak lalu mereka pun bersama berangkat meninggalkan Cafe.


Sementara di kantor nya, Pram sama sekali tidak bisa bekerja. Pikirannya tertuju pada Dania. Apalagi ucapan Dania yang terkesan dingin padanya. Membuat Pram semakin tak bisa konsentrasi.


Pram berusaha menghubungi Dania. Namun panggilan nya selalu saja di abaikan, bahkan pesan yang di kirim pun tak di balas, Dania hanya membacanya.


Pram tak tahan lagi, hingga akhirnya Pram meninggalkan kantor dan meminta semu meeting di undur. Pikirannya selalu tertuju pada Dania. Pram mengemudikan mobilnya menuju cafe Dania. Setelah hampir empat puluh menit, akhirnya Pram tiba disana.


Pram langsung menuju ruangannya. Dan saat membuka ruangan Dania, Pram melihat Dania yang sedang memakan buah mangga muda. Dania melihat Pram yang sedang berada di depan pintu. Dengan langkah pelan, Pram mendekati Dania yang ada di balik meja.


" Sayang...Mas sekali lagi minta maaf sama kamu. Mas benar-benar salah."


Dania mengalihkan pandangan matanya. Mencoba menghindari pandangan mata Pram.


" Aku gak ingin membahas apapun."


" Tapi mas akan jelaskan, kenapa Mas menolak untuk memiliki anak lagi."


Pram menatap Dania dalam. Lalu mencium tangannya. Dania merasa tangannya basah.


" Mas takut kejadian seperti Sabina menimpa kamu, seandainya itu terjadi lagi, mas gak akan sanggup hidup tanpa kamu. Untuk saat ini, Mas belum siap. Bukan mas menolaknya. Tolong Dania..mas masih trauma.."


Pram berbicara sambil terisak. Jelas sudah mengapa Pram tidak ingin Dania hamil. Bukan karena Pram tidak ingin memiliki anak, tapi Pram tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali.


" Kenapa kamu gak pernah bicara soal itu? Bukankah ilmu kedokteran saat ini sudah sangat maju? Dan setiap orang berbeda."


Kali ini Dania yang kembali bertanya. Membuat Pram , hanya mampu menatapnya.


" Sudahlah, kalau memang tak menginginkannya, aku gak akan memaksa."


Dania pun beranjak. Meninggalkan Pram. Namun baru beberapa langkah, Dania merasa kram di perutnya. Membuat Dania mengaduh. Pram memegang tubuh Dania. Dan membawanya ke sofa.

__ADS_1


" Kamu pasti kelelahan. Istirahat lah."


Pram pun membawa Dania ke kamar. Merebahkan tubuhnya. Lalu menyelimuti tubuh Dania yang memang sedang tidak baik-baik saja. Saat Dania tertidur, karyawan Dania datang membawa bungkusan.


" Maaf, Pak. Ini pesanan ibu."


Pram menerima bungkusan itu. Mencium dari aromanya, Pram tau itu adalah ketoprak. Sedangkan Dania tidak menyukai ketoprak. Pram bertanya dalam hati.


Pram pun membangunkan Dania. Dania pun mengerjapkan matanya, lalu melihat ketoprak yang sudah tersaji di piring.


" Sayang, sejak kapan kamu suka makan ketoprak?"


Dania pun hanya diam. Lalu melanjutkan makannya. Seporsi ketoprak habis dalam sekejap. Pram hanya memperhatikan Dania. Tak lama, Dania pun kembali merebahkan tubuhnya. Hingga sore menjelang. Barulah Dania bangun, dan di dapatinya Pram yang juga tertidur sambil memeluk dirinya.


Pram dan Dania pulang dengan satu mobil yang sama. Mobil Dania. Dan Pram meminta supir mereka untuk mengambil mobil Pram yang ada di Cafe Dania. Dania pulang di sambut oleh Cilla yang berlari ke arahnya. Dan Mertuanya yang menunggu di depan pintu. Biasanya Dania suka menggendong bocah keriting itu, namun kini, Fatma dengan tegas melarangnya.


" Dania, jangan gendong Cilla. Cilla udah besar, Sayang."


Cilla pun menekuk wajahnya. Biasanya setiap Cilla menyambut Dania, pasti Dania akan menggendongnya. Melihat wajah Cilla yang berubah, Pram pun berinisiatif menggantikan menggendong Cilla.


" Papa aja yang gendong, Cilla. Oke?"


Cilla pun mengangguk. Mereka masuk ke rumah, Pram berada di depan sambil menggendong Cilla. Sedangkan Dania berada di belakang berjalan dan saling bergandengan dengan mertuanya.


" Kamu mau di masakin apa untuk makan malam, Dania?"


" Dania mau makan tumis kangkung, Mi. Kayaknya enak."


Pram mengerutkan kening mendengar ucapan Dania.


.


.


.


**Assalamualaikum readers, mohon maaf atas ketidak pastian Up nya akhir-akhir ini. Kesibukan selama Ramadhan membuat aku jarang bisa up. πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


Terima kasih untuk semua yang masih setia, jangan lupa like, komen, gift dan vote nya ya sayang-sayang kuh.😘😘😘


Semoga kita tetap dalam lindungan Allah SWT. Dan semoga puasanya tetap lancar hingga hari kemenangan tiba..Aamiin..🀲🀲🀲**


.


.

__ADS_1


__ADS_2