
Tanpa terasa sudah sebulan ini, Dania pergi dari rumah Pram. Hidup Pram bagai tak berarti. Banyak pekerjaan yang di handle oleh asisten pribadi dan juga sekretarisnya. Bahkan Pram tampak tak terurus. Bulu-bulu halus tampak menghiasi bagian atas bibir dan juga jambangnya. Rambut Pram juga sedikit lebih panjang dari biasanya. Tubuhnya juga tampak kurus.
Siang itu, dengan perut yang membuncit Chelsea mendatangi kantor Pram. Chelsea ingin memberitahukan pada Pram, bahwa besok adalah sidang perdana gugatan perceraian nya dengan Revan.
Suara ketukan di pintu tak membuat Pram mengalihkan pandangan matanya dari lembaran kertas yang ada di hadapannya.
" Masuk."
Suara dingin milik Pram terdengar. Membuat Chelsea datang mendekat. Namun Pram tak juga mengalihkan pandangannya dari kertas di hadapannya.
" Pram.."
Gerakan tangan Pram berhenti saat mendengar suara wanita yang membuatnya tak peka akhir-akhir ini terhadap Dania. Pram menatap Chelsea sejenak.
" Ada apa, Sea?"
" Pram besok adalah jadwal sidang perdana gugatan perceraian ku. Bisakah-"
" Maaf, Sea. Aku sibuk. Apa kamu sudah bicara dengan Revan? Bagaimana tanggapan nya?"
Chelsea diam, lalu menggeleng.
" Revan sedang di luar kota."
Pram menghela nafasnya. Lalu menatap Chelsea sejenak.
" Pram, apa kamu baik-baik saja? Aku lihat kamu sangat berbeda? Kamu kurusan dan seperti-"
" Masih ada yang ingin kamu bicarakan, Sea? Jika tidak, bisakah kamu tinggalkan aku sendiri? Pekerjaan ku sedang banyak."
Chelsea tercengang mendengar penuturan Pram. Tak biasanya Pram berkata seperti itu. Semenjak kisruh rumah tangganya, baru kali ini Pram sedingin itu padanya. Dulu, Pram pasti selalu ada untuknya.
" Baiklah. Maaf sudah menggangu. Aku permisi."
Chelsea keluar dari ruangan itu. Pram memijit pelipisnya, rasa pusing menyergap kepalanya siang itu. Jika sejak dulu Pram bisa sedikit saja menjauh dari Chelsea, mungkin rumah tangganya tidak akan berantakan seperti ini.
__ADS_1
Pram menatap ke arah jendela ruangannya. Begitu susah baginya mencari keberadaan Dania saat ini. Pram tahu, ini adalah ulah dari Maminya. Dania benar-benar di lindungi oleh Maminya. Pram mendesah pelan, rasa sesal dan rindu kini menyatu. Pram memandang foto USG milik Dania, lalu membelainya.
" Usia kamu sudah tiga bulan, Sayang. Papa memang bodoh, tidak menyadari keberadaan kamu. Papa harap, kamu sehat-sehat di dalam kandungan Bunda, ya Nak. Dan papa minta, tolong bantu papa meluluhkan hati bunda. "
Pram kembali menyimpan foto itu. Dan saat ponsel Pram bergetar, Pram melihat nama di sana. "Revan".
Pram menerima panggilan dari suami sahabatnya itu , lalu memulai pembicaraan yang intinya memberitahukan mengenai persidangan perceraian. Pram juga meminta maaf, karena tidak bisa membujuk Chelsea untuk bertahan dan mendengarkan penjelasan dari Revan.
Disisi lain, Revan juga meminta maaf karena sudah terlalu merepotkan Pram. Dan juga meminta maaf pada Dania melalui Pram.
" Pram, sampaikan salam dan permintaan maaf ku pada Dania. Karena sudah melibatkan dirimu dalam kisruh rumah tangga kami. Mungkin selama ini Dania cemburu, tapi Dania dengan sabar menerimanya. Maafkan aku, Pram. Sampaikan salamku pada Dania ya? Malam ini aku akan berangkat, dan besok aku akan menemui Chelsea, untuk kembali membujuknya. Doakan aku, Pram."
" Ya, semoga kalian bisa tetap bersama. Demi anak yang di kandung Sea."
Tak lama panggilan pun berakhir. Namun setelah panggilan itu, Pram kembali merasa tertampar, Revan yang jauh saja, bisa menyadari bahwa Dania cemburu, tapi kenapa dirinya yang dekat tak peka akan hal itu. Pram merasa kepalanya semakin berdenyut. Dan pada akhirnya Pram memilih pulang. Jam juga sudah menunjukkan waktunya pulang.
Setibanya di rumah, Pram mendapati Cilla yang sedang bermain dengan boneka kesayangan nya. Kelihatannya putri nya itu sudah mulai menerima kepergian Dania. Terlihat, Cilla tidak pernah lagi merengek-rengek minta Pram atau Fatma menghubungi Dania.
" Papa..."
" Papa mandi dulu ya. Papa bau nih, baru pulang kantor."
Ucap Pram setelah melepas pelukan putri nya itu. Sedangkan Cilla memperhatikan wajah Pram. Lalu meraba bagian atas bibir dan jambang Pram.
" Pa, papa kok sekarang ada kumisnya. Papa yang ganteng lagi dong, biar nanti waktu bunda pulang, bunda gak takut liat papa. Cilla juga udah gak nakal, biar bunda cepat pulang. Iya kan, Pa? Kalau Cilla gak nakal, Bunda bakalan cepet pulangnya kan, Pa?"
Dada Pram seperti di hantam palu besar. Sakit, saat Cilla berkata seperti itu. Namun Pram hanya bisa mengangguk. Tanpa berucap apapun.
" Sekarang Papa mandi, trus ulangi kumisnya. Biar bunda gak takut liat papa."
" Iya, Sayang."
Ucap Pram sambil membelai rambut Cilla. Lalu Cilla kembali ke mainannya. Dan bermain dengan boneka kesayangan nya.
Pram masuk ke kamar mandi, dan mengguyur kepalanya dengan air shower. Air matanya luruh, bersamaan dengan air yang mengguyur kepala. Sepuluh menit kemudian, Pram keluar dari kamar mandi. Pram makin merasakan kepala nya semakin berdenyut nyeri. Sampai waktu makan malam, Fatma melihat wajah Pram yang sedikit pucat. Membuat dirinya pun khawatir.
__ADS_1
" Kamu sakit, Pram? Wajah kamu kok pucat?"
" Gak apa-apa, Mi. Pram baik-baik aja. Cuma pusing sedikit."
Cilla melihat ke arah Pram. Lalu memegang dahi Pram seperti Dania kalau memeriksa dirinya saat mengatakan bahwa kepalanya sakit.
" Papa demam, kepala Papa panas. Badan papa juga panas."
Fatma mendekat, lalu melakukan hal yang sama.
" Kamu demam, Pram. Mami panggilkan dokter ya?"
Saat Fatma ingin menelpon dokter langganan mereka, Pram mencegahnya.
" Mi, gak usah. Pram gak apa-apa. Nanti Pram minum obat yang ada aja."
" Tapi Pram-"
" Mi, beneran Pram gak apa-apa. Sekarang kita makan, setelah itu Pram akan langsung minum obat."
Mereka makan dengan tenang. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Cilla yabg lebih dulu selesai akhirnya pun lebih dulu meninggalkan meja makan. Dan menuju kamarnya. Pram yang telah selesai makan pun hanya diam, saat melihat ibunya masih makan.
Saat akan meninggalkan meja makan, Pram kembali bertanya pada Fatma.
" Mi, sampai kapan mami menutupi dimana keberadaan Dania? Bahkan orang suruhan Pram pun tidak dapat melacak keberadaanya."
Ucapan Pram sukses membuat Fatma mengehentikan langkahnya. Fatma menatap sejenak ke arah Pram. Namun pandangan Pram hanya lurus.
" Maafkan Mami. Tapi itu mami lakukan untuk kebaikan kita bersama. Demi menjaga kandungan Dania baik-baik saja."
" Sampai kapan, Mi?"
"Sampai Dania sendiri menyerah dan meminta untuk di jemput kembali. Sudahlah, Pram. Dania dan calon akan kalian baik-baik saja. "
Fatma pun pergi dari ruangan itu. Sedangkan Pram masih duduk di meja itu.
__ADS_1
" Pram akan berusaha untuk mencarinya,"