Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 52


__ADS_3

Dania memilih membalikkan tubuhnya. Bukan, bukan karena dirinya percaya pada Pram. Tapi Dania ingin, Pram lah yang berterus terang kepada nya. Dania pun memilih menunggu Pram di lobby. Dania sengaja memilih tempat yang agak menyudut. Tujuannya agar tak menjadi perhatian dari karyawan Pram. Namun tetap saja, resepsionis di gedung itu mengenalinya.


" Bu, kenapa disini? Ibu bisa langsung ke ruangan Bapak."


Dania tersenyum, dan melihat name tag yang tersemat di dada sebelah kanan wanita itu. Resepsionis bernama Ajeng itu menatap Dania.


" Tapi, suamiku sedang meeting."


Ajeng lalu mengangguk dan menuju mejanya. Tak lama, Dania melihat Pram yang menghantarkan Chelsea ke lobby. Entah apa yang mereka bicarakan, namun terlihat Pram memeluk dan membelai lengan atas Chelsea. Lalu Chelsea pun berlalu. Sementara resepsionis itu menatap bingung, dan melihat ke arah Dania. Dania menggelengkan kepalanya, meminta Ajeng tak memberitahukan keberadaannya.


Pram berlalu begitu Chelsea pergi bersama taksi yang di tumpangi nya. Dania menatap punggung Pram yang berlalu. Setiba di lantai nya, sekretaris Pram pun memberitahukan bahwa Dania sudah menunggu di lobby.


Pram menatap ke sekretarisnya dengan langkah lebar Pram kembali memasuki lift. Pram berjalan tergesa dan melihat Dania yang berdiri di sofa lobby dengan pandangan yang membuat Pram merasa...entahlah.


Dania berusaha tersenyum, walau di hatinya terselip rasa yang dirinya sendiri pun tak bisa menggambarkan.


" Sayang, kok kamu gak bilang mau kesini?"


Ucap Pram setelah memberikan kecupan di kening Dania. Dania menatap mata Pram.


" Kenapa? Aku ganggu ya?"


Dania menjawab dengan nada datar. Bahkan cenderung dingin. Pram mengerutkan keningnya. Lalu menyelipkan tangannya di pinggang Dania. Lalu membawa Dania menuju lantai di mana ruangannya berada.


Dania dapat mencium aroma parfum Chelsea yang melekat di jas Pram. Hingga saat Pram merapatkan tubuhnya, Dania pun sedikit menghindar.


" Kamu ganti parfum, Mas?"


Pram menggeleng.


" Ini kan parfum yang kamu belikan, Sayang. Kok lupa sich dengan aromanya."


Dania menatap Pram yang berdiri di sampingnya. Lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.

__ADS_1


" Selamat siang Bu Dania. Maaf kan saya, saat ibu datang, saya sedang tidak di tempat."


Sekretaris Pram menunduk hormat dan meminta maaf. Pram bingung, bukankah Dania baru saja tiba?


" Tidak masalah, Susan. Saya yang datang di saat yang tidak tepat."


Balas Dania dengan senyuman tipis di bibirnya. Pram menatap Dania dan Susan bergantian. Tak ingin semakin bingung, Pram pun membawa Dania ke ruangannya.


" Kamu bawa apa, Sayang. Kamu tau banget ya, mas sedang laper."


Dania mengeluarkan tempat makan yang di bawanya. Makanan sederhana namun Dania sendirilah yang memasak dan menyiapkannya. Semua itu di masak di cafe miliknya.


Pram dan Dania terbiasa makan di satu tempat yang sama. Dan hari ini, Dania terlihat tidak bersemangat menikmati makan siangnya.


" Kamu kenapa? Mas perhatikan dari tadi kamu liatin mas segitunya. Apa Mas makin tampan?"


Pram berkata sambil memainkan alisnya serta senyum yang merekah. Dania tersenyum mendengar ucapan Pram.


Pram terdiam sejenak, lalu kembali memakan makanan yang di bawa Dania.


" Hm...lancar. Semua baik. Kenapa?"


Dania menggeleng. Lalu beranjak mencuci tangannya. Dania kecewa, karena pada kenyataanya, Pram mulai tak jujur. Kenapa mesti bohong, karena selama ini, baik Pram ataupun Dania selalu jujur mengenai apapun.


Melihat Dania yang hanya memakan dua suapan dari tangannya. Membuat Pram bertanya.


" Kamu kenapa, Sayang. "


" Gak apa-apa, Mas. Aku balik ke cafe ya."


Dania pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Pram setelah mencium tangan laki-laki yang menjadi imamnya itu.


Pram segera meletakkan makanan nya. Dan mengejar Dania yang sudah lebih dulu keluar dan turun. Namun Pram kalah cepat. Dania sudah tidak ada saat Pram tiba di lobby.

__ADS_1


Pram menghubungi Dania, namun wanita itu tidak menjawab panggilan nya sama sekali.Di dalam taksi yang di tumpangi nya. Dania mencoba menahan air matanya. Namun sia-sia, air mata itu jatuh begitu saja.


Setibanya di cafe. Dania langsung menuju ruangannya. Merebahkan tubuhnya di ranjang. Mencoba menetralkan rasa di hatinya. Dania masih teringat saat Pram memeluk Chelsea. Dan saat Pram menghantarkan Chelsea di lobby. Pandangan mata Pram terhadap Chelsea tetap sama, tak berubah. Itulah yang ada di pikiran Dania saat ini.


Sementara di kantor, Pram bingung dengan sikap Dania hari ini. Tak biasanya, Dania pergi begitu saja. Dan Dania juga tidak makan seperti biasanya. Pram tak melanjutkan makan sianngnya. Rasa laparnya menguap begitu saja. Mendengar kondisi rumah tangga Chelsea serta sikap Dania siang ini, membuat Pram tak bisa berpikir.


Pram masih sibuk dengan pemikirannya, saat ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Revan membuat Pram langsung menjawabnya. Sebagai teman, Pram pun mulai menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Revan pun mulai menceritakan semuanya. Pram tidak ingin mendengar hanya sepihak. Revan bercerita mengenai pertengkaran diantara dirinya dan juga Chelsea. Lagi-lagi di karena kan salah paham. Bahkan saat melakukan panggilan telepon, Revan merubahnya menjadi panggilan video. Wanita yang di curigai Chelsea sebagai selingkuhan Pram pun hadir di sana.


Cukup lama Revan dan Pram melakukan panggilan. Dan dapat Pram rasakan bahwa cinta Revan terhadap Chelsea begitu besar.


" Aku mohon, Pram. Tolong bantu aku bicara sama Chelsea. Saat ini, aku gak bisa menghubungi nya, semua kontak ku di blokir. Dan aku juga gak bisa kesana untuk saat ini. Pekerjaan disini sedang stabil."


" Ya, aku paham. Pelan-pelan aku akan bicara dengan Chelsea."


Namun setelah Pram berkata itu, Revan tampak sendu.


" Ada apa, Van?"


" Saat ini Chelsea sedang hamil. Biasanya tengah malam, Chelsea selalu saja meminta sesuatu. Dan saat ini..."


" Kamu tenang aja, aku akan menjaganya. Dia sahabat ku. Bahkan aku sudah menganggap dirinya sebagai saudaraku. Cepat selesaikan masalah mu disana. Dan segeralah menjemputnya."


" Terima kasih, Pram. Aku titip Chelsea selama aku belum bisa datang. Aku akan segera menyelesaikan masalah disini."


Sebuah gumaman mengakhiri panggilan itu. Pram menggeleng kan kepalanya. Ternyata Chelsea tak berubah, cemburuan dan tak ingin mendengar penjelasan. Pram kembali teringat sikap Dania siang tadi. Sikapnya cenderung dingin. Bahkan saat makan pun, Dania tak menyelesaikan nya. Pram melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pram membereskan semua berkas, dan membawanya keluar dari ruangannya.


" Susan, Saya pulang lebih awal."


" Baik, Pak."


Pram melajukan mobilnya membelah jalanan di siang menuju sore itu. Pikiran Pram tak tenang. Pikirannya tertuju pada Dania nya, yang hari itu berubah.


Di cafe, Dania yang merasa kepalanya berdenyut pun, akhirnya memejamkan mata. Tak berapa lama dirinya tertidur, namun di tidurnya pun Dania tak juga tenang.

__ADS_1


__ADS_2