
Pram langsung menuju kamar mandi. Dirinya ingin mandi dengan air dingin untuk menetralkan kembali suhu tubuhnya dan juga anaconda nya. Walau pun dengan cara Pram harus bermain solo malam ini. Cukup lama Pram berada di kamar mandi. Hingga saat dia keluar dari kamar mandi, Dania dan Cilla sudah tertidur sambil berpelukan.
Pram yang sedang mengeringkan rambutnya tersenyum melihat pemandangan itu. Cilla tampak sangat nyenyak. Pram segera memakai piyamanya dan ikut masuk ke dalam selimut. Sebelumnya Pram mencium kening Cilla dan mencium kening Dania. Merasakan benda kenyal menyentuh keningnya, Dania terbangun dan saat membuka mata, di lihatnya Pram yang sedang tersenyum ke arahnya. Senyum lembut penuh kasih sayang yang tak pernah Dania lihat sebelumnya.
" Tidurlah, ini sudah larut."
Ucap Pram sambil membelai pipi Dania. Dania pun mengangguk. Namun saat Dania akan menutup matanya, Pram kembali mendaratkan ciuman nya di bibir Dania. Hanya sekilas. Setelah itu Pram membelai kepala Dania.
Pagi hari, Dania terbangun lebih dulu. Di lihat ya Cilla yang masih terlelap, begitu juga Pram. Dania turun dari ranjang, masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi dan mencuci wajahnya. Lalu Dania menuju dapur. Pagi ini Dania akan membuat sarapan nasi goreng kornet untuk mereka semua.
Mbak Ratih dan Mbok Sri yang sedang berbincang di dapur tak menyadari kehadiran Dania. Mereka berdua tertawa kecil dan sedikit di tahan.
" Ngomongin apa nih, pagi-pagi udah seru banget kayaknya."
Mabok Sri dan Mbak Ratih terdiam sejenak. Lalu pandangan mata Mbak Ratih menuju leher Dania. Dan benar saja, ada tanda merah disana. Dania sepertinya belum menyadari tanda di lehernya itu. Membuat Mbok Sri dan Mbak Ratih mengulum senyum.
" Gak ngomongin apa-apa kok, Mbak."
" Mbak, tolong keluarin bawang-bawang an ya. Sekalian kornet juga. Saya mau buat nasi goreng kornet pagi ini."
Kedua asisten rumah tangga itu, dengan cekatan membantu Dania. Pukul tujuh pagi, Pram bangun dan lihatnya ranjang Dania sudah kosong. Pram sudah tau, pasti istrinya itu sedang memasak pagi ini.
Cilla pun terbangun, dan mencari Dania. Pram yang melihat Cilla yang mencari Dania pun menenangkan. Setelah tenang, barulah Pram membawa Cilla turun. Makanan sudah tersaji di atas meja. Sedangkan Pram turun sambil menggendong Cilla.
" Loh, Mas. Kok belum mandi. Nanti kamu telat ke kantornya."
Ucap Dania saat melihat Pram yang masih menggunakan piyama.
" Hari ini aku libur, mau nganter mami dan Cilla ke bandara. Aku mandi dulu."
Ucap Pram sambil menyerahkan Cilla ke mbok Sri. Cilla pun kembali ke kamarnya, dan di mandikan oleh Mbok Sri. Sedangkan Dania beranjak dari dapur menuju kamar, untuk menyiapkan pakaian Pram.
Kini mereka semua tengah menikmati sarapannya. Cilla tampak lahap dengan nasi goreng kornet yang di buat oleh Dania. Mbok Sri sudah selesai dengan perlengkapan yang akan di bawa dan di bantu oleh supir perlengkapan itu sudah masuk ke mobil.
Dania menatap Cilla dan membelai wajahnya. Air mata Dania hampir saja keluar, namun lagi-lagi Pram menggenggam tangannya. Membuat Dania melihat ke arah Pram.
" Kalau kamu kangen, kita bisa kesana. Jangan sedih."
Dania mengangguk.
" Mbok, semua udah masuk kan? Mbok udah sarapan?"
__ADS_1
Fatma bertanya pada Mbok Sri. Fatma yang melihat Dania bersedih, tersenyum tipis.
" Sudah selesai semua kan. Ayo kita berangkat."
" Dani ganti baju dulu ya, Mi."
Dania pamit dan melangkahkan kakinya menuju kamar. Pram hanya menatap punggung Dania yang terus menjauh.
" Pram, mami harap, kamu dan Dania semakin dekat. Dan kalian bisa saling mengisi. Dan satu lagi..."
" Apa Mi..."
" Mami ingin punya cucu dari kalian."
Pram menggaruk tengkuknya. Apalagi mami berkata sambil memainkan alisnya, membuat Pram jadi salah tingkah.
Sementara di kamarnya, Dania yang sudah mengganti pakaiannya dengan dress selutut terkejut mendapati tanda merah di lehernya. Dan Dania baru saja menyadarinya. Wajahnya memerah, apalagi sedari tadi Dania menyepol rambutnya.
" Ahhh....pasti dari tadi mereka semua udah lihat. Ya Ampun Dania, kamu kok ceroboh banget. Pantes aja, Mbok, mbak Ratih, mami senyum-senyum gak jelas . Pasti karena ini. "
Dania terus bermonolog sendiri. Memukul-mukul kepalanya. Pram benar-benar membuatnya tak bisa menunjukkan wajahnya.
" Dani, kamu kenapa? Sakit? Wajah kamu memerah sayang."
" Eennnggak kok, Mi. Ddani gak apa-apa."
Pram dan Fatma saling lirik, apalagi melihat Dania yang menggerai rambutnya. Karena Dania hampir tidak pernah menggerai rambut sebahunya.
" Ya sudah, Ayo. Nanti kita terlambat."
Semua masuk ke dalam satu mobil. Dan Pram yang mengemudi. Dania berada di depan bersama Pram sambil memangku Cilla. Entah mengapa, Dania sangat suka memangku putri kecilnya itu.
Kini mereka semua sudah berada di bandara. Mereka masih menunggu jadwal penerbangan. Dan setelah satu jam, informasi keberangkatan mereka pun terdengar. Fatma dan Cilla serta mbok Sri berpamitan. Fatma memeluk anak dan menantunya. Sementara Dania kini memeluk Cilla dan air matanya jatuh begitu saja.
" Bunda nangis?"
" Gak, Sayang. Mata bunda kelilipan. "
Fatma tersenyum, lalu mereka berjalan menuju tempat keberangkatan. Dania dan Pram hanya menetap punggung mereka. Kini air mata Dania tak lagi bisa di tahan. Dania membenamkan wajahnya di dada bidang Pram.
" Aku kangen Cilla."
__ADS_1
Pram mengusap bahu Dania. Lalu memeluknya.
" Cilla belum juga pergi, kalau kamu gak mau Cilla pergi, kenapa kamu izinin mami bawa Cilla? Hm..."
" Aku gak mau Mami kecewa."
Lalu Pram pun membawa Dania keluar dari bandara. Kini mereka hanya berdua.
" Mas, aku naik taksi aja. Kalau mas mau pulang, mas duluan aja."
Pram mengerutkan keningnya. Dan menatap Dania.
" Kamu mau kemana?"
" Aku mau ke cafe."
Pram pun langsung membuka pintu mobilnya dan menyuruh Dania masuk di kursi penumpang bagian depan.
" Masuk, aku yang antar kamu ke cafe."
Akhirnya Pram dan Dania berada di cafe milik Dania saat ini. Pram berada di ruang kerja Dania. Sedangkan Dania masih berada di bawah, meminta karyawan nya membawakan makanan ringan dah juga minuman untuk dirinya dan juga untuk Pram.
Saat Dania masuk ke ruangannya, ternyata Pram sedang duduk di karpet tempat biasa Cilla bermain kalau sedang di bawa Dania ke cafe.
" Kok di bawah, Mas."
" Lebih enak aja, sini..."
Pram menepuk karpet di sebelahnya, meminta Dania untuk duduk di sebelahnya. Dania pun ikut duduk. Pram langsung menyandarkan kepalanya di bahu Dania. Dan menatap Dania yang sedang memegang boneka milik Cilla.
.
.
. **Assalamualaikum readers,maaf karena kemarin malam gak up, malam ini aku usahain untuk double up, ππΌππΌππΌ
Terim kasih untuk semua dukungan kalian...
Love you all..πππ
Wassalamu'alaikum**...
__ADS_1