Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 43


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tak terasa seminggu sudah Cilla dan Fatma berada jauh dari mereka. Walau hampir setiap waktu Dania melakukan panggilan video pada mertuanya itu.


" Mi...mami kapan pulang? Dania kangen Cilla, Mi..."


" Sabar ya sayang. Atau kamu sama Pram aja yang kesini. Mami yakin, Oma pasti senang, kalian berkunjung kesini."


" Nanti Dania akan coba bicara sama Mas Pram ya, Mi."


" Iya, Sayang. Kalau begitu, mami tutup dulu ya. Nanti kita sambung lagi."


Setelah mengucapkan salam, baik Dania dan Fatma sama-sama mengakhiri panggilannya. Dania menatap foto Cilla dan dirinya yang di pajang di sebuah bingkai di meja kerjanya. Dania benar-benar sangat merindukan putrinya itu.


Untuk mengurangi rasa rindunya, Dania hanya bisa melakukan panggilan video ataupun menatap foto Cilla yang ada di ponselnya.


" Bunda kangen, Sayang..."


Dania kini meninggalkan ruang kerjanya dan menuju ke pantry cafenya. Dan tanpa sengaja, Dania melihat Reyhan yang masuk. Dania langsung menghampiri Reyhan dan menyapanya.


" Mas Rey.."


" Hai, Dan.."


Tanpa di minta, Dania langsung meminta karyawan nya untuk membuatkan dia gelas lemon tea dan juga makan siang untuk makan siang mereka berdua. Sambil menunggu makanan mereka di sajikan, Dania dan Reyhan saling bertukar cerita. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan rahang yang mengeras.


" Berani-beraninya dia mendekati Dania."


Pram langsung keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam cafe milik Dania. Tanpa meminta persetujuan dari mereka, Pram langsung duduk di samping Dania. Membuat mereka semua kaget melihat kedatangan Pram.


" Mas Pram??"


" Iya, Sayang. Sepertinya kalian sangat asik ngobrolnya, sampai kedatangan ku pun kamu gak melihatnya."


Ucap Pram dengan ekspresi yang di buat sedih. Reyhan memutar malas matanya. Sedangkan Dania menggeleng melihat kelakuan suaminya.


" Mas mau makan apa?"


" Mau makan kamu."


Dan Reyhan yang mendengar ucapan Pram pun menyemburkan air yang baru saja di teguknya. Dan sebagian mengenai kemeja Pram.


" Jorok banget si Lo."


" Mas Reyhan gak apa-apa?"


Dania tampak mengkhawatirkan Reyhan yang tiba-tiba saja menyemburkan air yang di minumnya.

__ADS_1


" Sayang, seharusnya kamu menanyakan keadaan Mas yang di sembur sama dia. Bukan nya dia."


Dania pun dengan cepat mengambil tisu dan mengeringkan bagian kemeja Pram yang terkena semburan dari mulut Reyhan.


" Mas mau ganti aja? kemeja mas yang kemarin ada di kamar."


Pram pun mengangguk,lalu beranjak dari meja itu. Sementara Reyhan masih mengamati mereka berdua.


" Sebentar ya Mas Rey. Dani bantu mas Pram dulu."


Lalu Dania dan Pram pun melangkah menuju lantai dua cafe itu. Di ruangan kerja Dania ada sebuah kamar yang biasa di gunakan dirinya dan Cilla untuk istirahat. Dan kemarin Pram menggunakan kamar itu beristirahat. Namun bukannya beristirahat, tapi peristiwa lain terjadi di sana.


Setibanya di kamar, Dania langsung memberikan kemeja milik Pram yang tertinggal. Pram pun menanggalkan kemejanya yang basah.


" Mas mau mandi dulu, kamu jangan kemana-mana ya."


" Tapi Mas. Di depan ada Mas Reyhan. Gak enak kan, kalau membiarkan mas Reyhan nunggu terlalu lama."


Pram langsung keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya. Pram kemudian berkirim pesan, pada Reyhan. Entah apa yang di katakan Pram, setelah itu Pram pun kembali masuk ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, Pram pun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.


" Siang-siang gini, Mas keramas?"


" Emang ada yang salah."


Mereka berdua turun dengan keadaan wajah Dania yang cemberut. Sedangkan wajah Pram tersenyum sumringah, membuat Reyhan yang menatap mereka sedikit menahan sesak di hatinya.


" Maaf ya Mas Rey. Lama..."


Reyhan menatap kedua nya. Apalagi dengan kondisi rambut yang sama-sama basah. Membuat hati Reyhan terasa perih.


Kini mereka bertiga makan di satu meja. Pram seperti sengaja membuat Reyhan panas. Dengan menampilkan kemesraan di depan Reyhan. Sedangkan Dania tampak canggung dengan itu semua.


" Mas, jangan gini, malu ada Mas Reyhan. "


Bisik Dania. Tapi bukannya berhenti, Pram makin membuat Dania malu.


" Sabar dong, Sayang. Nanti pulang kita lanjutkan ya. Kasian kan, Reyhan nungguin kita lama."


Dania mengerutkan keningnya. Sedangkan Reyhan tampak menunduk sambil mengaduk-aduk makanannya.


" Dan...kayaknya aku harus kembali ke rumah sakit."


" Loh, bukannya hari ini jatahnya mas Reyhan libur ya?"


Reyhan tersenyum, saat mengetahui jika Dania masih hapal jadwal liburnya. Sedangkan Pram tampak tidak suka akan hal itu.

__ADS_1


" Hari libur aku di ganti."


Dania membulatkan bibirnya. Dan menghantarkan Reyhan ke depan, lalu kembali duduk bersama Pram di meja itu.


" Mas omongan nya itu di jaga dong."


" Omongan yang mana, Sayang?"


Balas Pram dengan membelai wajah Dania. Dania menghela nafasnya. Lalu bangkit meninggalkan Pram di meja itu sendirian.


" Loh..loh..kok mas di tinggalin...Sayang...Dania.."


Dania hanya diam dan langsung menuju ruangannya. Pram pun langsung mengikuti, setibanya di ruangan itu, Pram memeluk tubuh Dania dari belakang.


" Maaf...iya, mas gak bakalan ngomong asal-asalan lagi. Jangan marah ya?"


Dania memutar malas matanya. Semenjak hubungan mereka semakin dekat, kelakuan Pram sering membuatnya merona.


" Mas cuma mau nunjukin sama Reyhan. Lalu kamu itu milik Mas."


Kening Dania berkerut, mendengar ucapan Pram.


" Aneh kamu, Mas."


Dania kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Pram menatap Dania dalam.


" Aku hanya menjaga kamu dari orang yang akan merebut kamu dari sisi ku. Kamu hanya milikku, Dania. Aku tidak akan rela, kalau sampai ada yang menggangu mu. Apalagi merebutmu dari sisi ku." Batin Pram.


Dania melihat Pram yang menatap.


" Kenapa Mas?"


" Gak apa-apa. Sayang."


Pram membelai rambut Dania. Lalu kembali duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Pram merebahkan tubuhnya dan tak lama tertidur di sofa. Dania memperhatikan wajah Pram yang tertidur nyenyak. Rasanya masih tak percaya, dirinya dan Pram bisa bertahan seperti ini. Bahkan kini pernikahan yang di dasari perjodohan dan kontrak selama satu tahun itu menjadi pernikahan yang semestinya.


" Apakah ini mimpi Mas. Kamu bisa menerimaku sebagai istri mu, bukan cuma sebagai ibu pengganti bagi Cilla."


Dania melangkah mendekati Pram yang tengah tertidur. Dan membelai wajahnya.


" Seandainya ini semua mimpi, aku memilih untuk tidak bangun dari mimpi indah ini. Mendapatkan cinta kalian adalah anugrah terindah bagiku saat ini."


Dania mendekatkan bibirnya menyentuh bibir Pram. Dania mengecup sekilas bibir itu, lalu menuju kamar mandi. Sedangkan Pram tersenyum mendapat kecupan sekilas dari Dania.


" I love you Dania.."

__ADS_1


__ADS_2