
"Karna wanita itu kamu mau jaga jarak dengan ku Pram. Kamu lupa, bagaimana kamu dulu mengejar-ngejar aku? Dan aku yakin, saat ini kamu juga masih cinta kan sama aku?"
" CHELSEA...."
Suara Pram menggelegar. Bahkan sekretaris Pram yang sudah datang, sampai terlonjak kaget. Begitu juga dengan Dania, tak pernah Pram bersuara sekeras itu. Sekretaris Pram yang pergi untuk membuatkan teh, pun melihat ke arah Dania. Tatapannya menunjukkan rasa takut dan juga segan.
Dania meletakkan jari telunjuknya di bibir, meminta sekretarisnya itu untuk tidak bersuara.
" Hentikan omong kosong mu, Sea."
" Itu kenyataan Pram. Kau mencintaiku, dan saat ini aku juga mencintaimu, Pram. Aku sudah sendiri. Sekarang waktunya kita untuk bersatu."
" CUKUP SEA, JANGAN GILA."
Nafas Pram tersengal. Chelsea benar-benar sudah di gelapkan oleh perasaanya sendiri.
" Perlu aku tegaskan padamu, Aku mencintai Dania. Sampai kapan pun, aku tidak akan melepaskan dirinya. Pergilah, sebelum aku berbuat kasar padamu, Sea. Pergilah..."
Dania terdiam disana. Setelah menarik nafas, Dania pun masuk ke dalam ruangan itu. Pram yang melihat Dania masuk, Pram tertegun sesaat, melihat Dania yang menatap Chelsea dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
" Sayang,.."
Pram melihat arah mata Dania yang terus memandang Chelsea, dan juga menatap Pram secara bergantian. Chelsea seperti biasa, hanya menampilkan wajah yang tak berdosa di hadapan Dania.
" Apa kabar, Dania? Sudah berapa bulan usianya?"
Chelsea berpura-pura menanyakan keadaan Dania dan ingin mengelus perut buncit Dania. Namun suara Dania langsung membuat tangan Chelsea menggantung di udara.
" Jangan sentuh. Aku tidak mengizinkan."
Chelsea mengerutkan keningnya. Sedangkan Pram mulai takut, kalau Dania akan kembali salah paham.
" Sayang, Mas bisa jelaskan. Semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
Dania menatap tajam ke arah Pram. Lalu kembali menatap tajam ke arah Chelsea.
" Iya, Dania. Aku hanya berbicara dengan Pram. Saat ini aku sedang sedih, aku sudah menyandang status sebagai seorang janda. Dan aku juga kehilangan bayiku."
Dania menatap jengah, melihat Chelsea yang tampak bersedih.
" Lalu, kau datang ke kantor suami orang dan merayu nya?"
Chelsea tampak marah. Dirinya merasa bahwa Dania sedang menuduhnya.
__ADS_1
" Dania, kenapa kamu begitu membenci diriku? aku bersahabat dengan Pram sudah lama, gak mungkin aku merayu nya."
Chelsea kembali berakting seolah dirinya adalah orang yang sangat tersakiti oleh ucapan Dania. Tapi pada kenyataannya, ucapan Dania benar.
" Cukup Sea. Pergilah, sebelum aku berbuat kasar padamu. "
Kali ini Pram yang angkat bicara. Namun bukannya pergi, Chelsea justru memutar balikan fakta.
" Pram, kau mengusir ku? Bukannya tadi kamu memintaku untuk menjadi bunda nya Cilla. Pram kenapa kamu tega dengan Dania."
" CUKUP CHELSEA...HENTIKAN OMONG KOSONG MU."
Lagi-lagi suara Pram meninggi. Pram sangat khawatir,.jika Dania kembali salah paham dan pergi meninggalkan dirinya.
" Dania, maaf tapi aku harus mengatakan yang terjadi."
Dania sudah tidak tahan dengan semua kebohongan Chelsea, hingga akhirnya sebuah tamparan menadahkan indah di pipi putih milik Chelsea.
Plaakkk
Plaakk
Bukan hanya sekali, namun Dania memberikannya dua tamparan.
"Cukup, kau kira aku tidak tau apa yang kau katakan. Hah...aku muak dengan segala ucapan mu. Kau ingin merayu Pram, dan aku tau itu. Kau benar-benar wanita yang tidak punya malu."
Dengan wajah memerah Chelsea pergi dari ruangan itu. Sedangkan Pram dan juga Dania masih diam di tempatnya. Setelah kepergian Chelsea, Pram mendekati Dania dan memeluk wanita yang tengah mengandung anak nya itu.
Tak ada yang bicara, Pram hanya memeluk dan mencium pucuk kepala Dania. Lalu membimbing nya menuju sofa yang ada di ruangan itu. Sampai akhirnya sekretaris Pram datang membawakan segelas air untuk Dania.
" Tolong atur ulang jadwal hari ini. Dan tolong beritahukan kepada security di kantor ini, jika wanita tadi datang lagi, jangan beri izin dia masuk. Usir saja."
" Baik, Pak. "
Sekretaris Pram pun keluar, sedangkan Dania masih mengatur detak jantungnya. Rasanya belum puas melampiaskan amarahnya, namun Chelsea sudah keburu pergi dari sana.
" Sayang, minum dulu."
Pram menyodorkan air ke Dania. Lalu Dania menerimanya dan hanya sedikit meneguk air yang di berikan Pram.
" Sudah berapa lama kamu datang? Kenapa gak langsung masuk?"
Dania melihat ke arah Pram.
__ADS_1
" Aku datang, saat mendengar Chelsea protes kenapa Mas memblokirnya. Tadinya aku ingin pergi, namun entah kenapa, aku masih ingin mendengarkan pembicaraan kalian."
Lalu Dania dan Pram pun saling tatap.
" Sebaiknya setelah ini, kamu hati-hati Sayang. Mas takut Chelsea akan berbuat yang lebih nekat dari ini."
Dania hanya mengangguk. Setelah kejadian di kantor Pram, Dania dan Pram pun memilih pulang ke rumah. Setibanya di rumah, Pram melihat rumah yang kosong.
" Mbak, Mami kemana?"
Pram bertanya pada Mbak Ratih.
" Nyonya pergi arisan, Tuan."
Dania yang mendengar mami mertuanya pergi arisan pun hanya mengerut kening.
" Mas, aku siapkan makan siang dulu ya. Kamu mau istirahat atau-"
" Mau disini aja nungguin kamu masak. Ayo, Mas bisa bantu apa?"
" Gak usah, Mas duduk aja disitu. Mas mau makan apa?"
" Apa aja, yang penting gak membuat kamu repot."
Dania pun paham. Lalu memulai memasak makan siang untuk mereka. Dania memasak makanan kesukaan Cilla. Kurang lebih satu jam kemudian, makanan itu sudah terhidang di meja makan. Pram pun langsung duduk.
Tak lama, terdengar suara Cilla yang mengucap salam. Setelah mendengar suara Bunda nya, Cilla pun berlari ke arah Dania. Langsung memeluknya.
" Cilla seneng, Bunda ada di rumah."
" Iya Sayang. Sekarang kamu ganti baju, cuci tangan. Ayo Bunda bantu."
" No, Bunda. Cilla bisa sendiri."
Cilla pun menuju kamarnya. Setelah itu, Cilla keluar dengan baju rumahan, dan langsung menuju meja makan.
" Masakan Bunda memang enak."
Cilla memuji masakan Dania, membuat Dania tersenyum. Namun Dania hanya memakan beberapa suap saja. Di pikiran Dania masih terbayang peristiwa di kantor Pram tadi. Dimana Chelsea berani mengutarakan perasaanya.
Setelah makan siang, kini Dania berada di kamar. Dania bersender pada ranjang. Dania menghela nafasnya lalu menatap tangannya yang tadi telah berani menampar Chelsea. Pram yang melihat Dania menatap tangannya pun menggenggamnya erat tangan Dania.
" Kenapa?"
__ADS_1
Dania melihat ke arah Pram. Sedangkan Pram kini telah duduk bersila di hadapan Dania.
" Aku terlalu emosi hingga menampar wajahnya tadi. Apa aku keterlaluan?"