Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 51


__ADS_3

Malam itu, setelah membersihkan tubuh Cilla dan menidurkan putrinya. Dania masuk ke dalam kamar. Sudah ada Pram dengan piyama dan laptop yang ada di pangkuannya. Sedangkan Dania langsung masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Jika dulu Dania memakai piyama kini Pram selalu memintanya memakainya lingerie. Dan Dania pun menuruti keinginan suaminya itu.


Dania keluar dari kamar mandi menggunakan lingerie bahan berbahan satin dan juga menambahkan kimono satin di luarannya. Lingerie kimono itu, yang hanya setengah paha itu membuat mata Pram tak berkedip.


" Sayang, Please... jangan goda Mas. Mas gak kuat, Sayang."


Dania menatap dirinya sendiri. Lalu mengerutkan keningnya.


" Kan mas yang minta. Mulai sekarang aku pakai beginian."


" Iya...tapi kamu benar-benat seksi, mas tergoda, Sayang."


" Maaasss...."


" Kamu kapan selesainya sih? "


" Beberapa hari lagi."


Dania kini berada di pelukan Pram. Membuat Pram semakin leluasa menciumi pucuk kepala Dania.


" Kenapa gak ngasi tau kalau mami mau pulang, Mas. Aku gak enak loh, sama mami. "


" Mami yang minta, Yang."


Akhirnya Pram pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kalau Maminya lah yang tak ingin menggangu kesenangan mereka sore itu.


...*...


"Sayang....pakaian Mas mana?"


" Sayang...Kamu dimana? Bantu mas pasang dasi ini dong."


"Sayang...."


" Sayang...."


Hampir setiap pagi, Dania selalu mendengar suara Pram yang meminta bantuannya. Kini Pram sedikit-sedikit selalu saja meminta Dania untuk membantunya. Sampai Cilla selalu protes akan itu.


" Papa, Bunda masih bantuin Cilla ikat rambut."


Pram tertawa mendengar putrinya itu protes. Setelah selesai mengikat rambut Cilla, Dania pun mendekati suaminya, lalu membantu memasangkan dasi di lehernya.

__ADS_1


" Terima kasih sayang."


Ucap Pram setelah dasi itu melingkar sempurna di lehernya.


" Ayo kita turun, Cilla dan Papa harus sarapan sekarang."


Mereka bertiga pun turun menuju ruang makan. Sudah ada Fatma disana. Hari-hari nya begitu bahagia, melihat rumah tangga Pram dan Dania yang tampak semakin bahagia.


Pernikahan Dania dan Pram pun sudah menginjak tahun kedua, namun selama itu, tidak ada masalah berarti. Setiap permasalahan selalu bisa diatasi keduanya dengan bijak.


Saat ini pun, Cilla sudah mulai sekolah. Setiap pagi, Dania selalu menghantarkan putrinya itu, tentu saja bersama Pram. Setiap pagi, kegiatan Pram menghantarkan Cilla ke sekolah, barulah menghantarkan Dania ke cafenya.


" Sayang, nanti kamu jangan pulang dulu sebelum Mas jemput y?"


" Iya, Mas."


Dania pun mencium takzim tangan suaminya, lalu turun, dan melangkah masuk ke dalam cafe. Di dalam cafe, sudah ada Reyhan. Sedang menyeruput kopi miliknya.


" Mas Rey...udah lama?"


Sapa Dania yang melihat Reyhan duduk di salah satu sudut cafe miliknya.


" Belum, baru aja."


" Dan..."


" Lena.."


Dania berdiri mendekati Lena yang tampak sangat sedih.


" Kamu kenapa?"


Bukannya menjawab, justru Lena menangis di pelukan Dania. Lena sesegukan, membuat Dania segera membawa Lena duduk berdua. Meninggalkan Reyhan sendiri. Lena menceritakan tentang pernikahan nya yang batal, karena Reno yang ketahuan berselingkuh, dan kini selingkuhannya itu tengah mengandung anaknya.


Dania memandang Lena sedih, karena sahabatnya ini di khianati selama dau tahun. Andai dulu Dania memiliki keberanian untuk mengatakan pada Lena, bahwa Dania melihat Reno saat itu. Mungkin saat ini, Lena tidak akan merasa sesakit ini.


Reyhan memperhatikan Lena dan Dania yang sedang berbincang berdua. Tampak Dania selalu berusaha menenangkan Lena. Kini, Reyhan melihat Dania yang meninggal kan Lena sendiri. Entah kemana perginya, dan itu membuat Reyhan melangkah ke sana. Reyhan menyodorkan sebuah coklat pada Lena, dan membuat gadis manis itu menoleh ke arahnya dengan mata yang memerah.


" Makan coklat, bisa sedikit mengurangi kesedihan."


Tanpa di suruh ataupun di minta Reyhan langsung duduk di sisi Lena. Lena yang kondisi sedang tidak baik-baik saja, hanya diam. Membiarkan Reyhan duduk di sisinya.

__ADS_1


" Maaf, saya ingin sendiri."


" Aku tidak akan mengganggu mu. Aku hanya akan menemanimu. Kalau kamu ingin menangis, menangis lah, aku tidak akan melarang. Silahkan."


Lena menatap tajam ke arah Reyhan. Namun Reyhan hanya melipat tangannya di dada. Dan menatap lurus ke depan. Lena yang kesal akhirnya pun, beranjak dari sisinya. Namun tangannya segera di cekal oleh Reyhan.


" Membiarkan seorang wanita patah hati, pergi tanpa tahu tujuannya akan berakibat fatal."


Lena langsung duduk begitu tangannya di tarik oleh Reyhan. Lena mengalihkan pandangan matanya dan mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


Lena menangis sesegukan di meja itu, dengan tangan yang menutupi wajahnya. Lalu Reyhan menyodorkan selembar tisu pada Lena, begitu wanita itu melepaskan kedua tangannya dari wajahnya.


" Sudah lebih baik?"


Lena mengangguk. Lalu Reyhan meminta pelayan untuk membuatkan secangkir coklat hangat untuk Lena. Tak lama pesanan itu pun datang. Reyhan menyodorkan coklat hangat itu didepan Lena.


"Minum lah.."


Dania yang tadinya ingin bergabung, kini memilih untuk menyingkir dan membiarkan mereka berdua. Dania masuk ke ruangannya, tak lama ponselnya pun berdering.


" Ya, Mas."


"Sayang...makan siang nanti , Mas gak bisa ke cafe ya. Ada meeting penting."


" Iya, gak apa-apa. "


" Oke, Mas lanjut kerja ya. Love you honey."


"Love you too..."


Panggilan itu pun berkahir. Memang Pram selalu semanis itu pada Dania. Dan Dania pun sudah terbiasa akan hal itu.


Menjelang makan siang, Dania pun berencana untuk menghantarkan makan siang untuk suaminya. Setelah menyiapkan makanan yang akan di bawa, Dania pun melangkahkan kakinya keluar dari cafe. Di dalam cafe masih ada Reyhan dan Lena. Mereka terlihat sudah cukup akrab.


Perjalanan dari cafe menuju kantor Pram, memakan waktu yang sedikit lebih panjang. Karena waktu sudah memasuki jam istirahat. Beruntung saat tiba di perusahaan milik Pram, belum waktunya Pram makan siang.


Tiba di lantai tempat suaminya bekerja,Dania tak mendapati sekretaris suaminya. Namun pintu ruangan itu sedikit terbuka. Dania ingin segera masuk, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang menangis di dalam sana.


"Aku dan Revan akan bercerai, Pram."


" *Sebaiknya kamu jangan gegabah, Sea. Bisa saja itu klien atau pun kerabatnya. Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau kerabat Revan banyak yang gak kamu ketahui?"

__ADS_1


" Aku gak tau....aku pusing Pram*."


Terdengar langkah, Dania semakin melihat sedikit dari celah pintu itu. Ternyata Pram sedang mendekat ke arah Chelsea yang sesegukan. Pram menarik kepala Chelsea, lalu membawanya dalam pelukannya. Dania tau, Chelsea dan Pram memang akrab dari lama, namun melihat Pram yang memeluk Chelsea, membuat Dania merasa sesuatu di dalam hatinya tergores.


__ADS_2