
Kamar Pram di ketuk, membuat Pram melangkah menuju pintu dan membukanya. Ada Mbok Sri yang sedang gugup di depan pintu. Sementara waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.
" Ada apa, Mbok??"
Tanya Pram dengan suara serak khas bangun tidur. Mbok Sri tampak bingung.
" Iiiitu Tuan, Nona Cilla, badannya demam, trus sekarang mengigau memanggil Nyonya Dania.."
Pram terkejut, dan langsung berlari ke kamar Cilla. Di sentuh nya dahi Cilla, Cilla demam tinggi tapi tubuhnya menggigil. Matanya terpejam, namun bibirnya terus memanggil Dania.
" Bunda...Bunda...Cilla mau Bunda..."
Suaranya lirih, membuat Pram terenyuh. Tanpa banyak kata, Pram langsung mengangkat tubuh Cilla, dan meminta Mbok Sri untuk memanggilkan Tejo. Malam itu juga Pram membawa Cilla ke rumah sakit.
Tejo membawa mobil dengan kecepatan tinggi, dan jalanan malam yang senggang membuat mereka lebih cepat sampai. Setibanya di rumah sakit keluarga, Reyhan tengah berjaga di IGD. Melihat Pram yang datang sambil menggendong Cilla membuatnya berlari menghampiri.
" Cilla kenapa?"
" Cepet tolongin anak gue. Cilla demam tinggi."
Reyhan segera menangani Cilla begitu Pram menidurkannya di brankar. Reyhan meminta perawat untuk membawa Pram keluar selama dirinya melakukan tindakan. Akhirnya malam itu, Cilla mendapatkan perawatan di rumah sakit. Tangan Cilla di infus. Setelah demamnya sedikit turun, Reyhan memindahkan Cilla ke ruangan khusus keluarga pemilik rumah sakit.
" Ada apa? Kenapa Cilla bisa sampai seperti ini?"
Tanya Reyhan sesaat setelah Cilla sudah ada di ruangannya. Pram menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu menceritakan semuanya pada Reyhan.
" Minta Dania untuk pulang, karena hanya itu obat untuk Cilla saat ini. Selesai kan masalah kalian, kasihan Dania saat ini sedang mengandung, terlalu stres bisa membahayakan kandungannya."
" Hm..Aku tahu. Tapi Dania mengganti nomor ponselnya. Aku gak bisa menghubungi dia."
Reyhan mengerutkan keningnya.
" Jadi selama sebulan ini kalian tidak ada komunikasi? Pram, kamu bukan orang sembarangan, masa gak bis menemukan Dania?"
" Mami yang melindungi nya. Mami yang menutup semua akses ku untuk menemukan Dania. Aku bingung."
Reyhan menepuk pelan bahu Pram. Melihat sepupunya itu kebingungan dan kalut, meluluhkan hati Reyhan.
" Aku akan bantu. Masalah kalian harus di perjelas. Dan aku rasa Dania menjauh untuk menenangkan dirinya sejenak."
" Makasih, Rey."
" Hm...aku kembali ke IGD. Sekarang Lo juga istirahat."
Setelah kepergian Reyhan, Pram duduk di tepi brankar Cilla. Menggenggam tangannya yang bebas. Tak lama, Cilla kembali mengigau.
__ADS_1
" Bunda...bunda kapan pulang?"
" Sayang, ini Papa. Papa akan bawa bunda pulang. Cilla sembuh ya?"
Pram membelai rambut Cilla. Tak lama, Fatma datang, setelah sebelumnya Pram meminta Tejo dan Mbok Sri untuk menjemput.
"Bagaimanapun keadaan Cilla? "
Tanya Fatma khawatir. Pram menghela nafasnya. Lalu kembali menatap Cilla.
"Cilla kangen Bundanya, Mi. Tadi Cilla sempat mengigau memanggil nama Dania. Please, Mi. Kasih tau Pram, Dania dimana? Pram udah meminta orang untuk mencarinya, tapi sampai sekarang gak ketemu, Pram mohon, Mi. Ini kesalahan Pram, jangan Cilla yang jadi korbannya."
Fatma bergeming. Menatap Cilla yang terbaring di ranjang rumah sakit, dan dengan wajah yang pucat. Serta tangan yang di infus. Fatma mengetik sesuatu di ponselnya, dan tak lama, ponsel Pram berbunyi. Sebuah pesan masuk yang berisi alamat dimana Dania berada.
" Itu alamat Dania. Pergilah, jemput Dania. Dania dan Cilla saling terikat."
Pram langsung pergi begitu saja, setelah menitipkan Cilla pada Oma nya. Pram hanya pulang untuk berganti pakaian. Jalanan yang senggang membuatnya bisa melajukan kendaraannya di atas rata-rata. Rasa rindu pada Dania membuatnya begitu semangat.
Pram tiba di alamat yang di tuju sekitar pukul delapan pagi. Udara di desa memang sangat sejuk. Pram tiba di sebuah rumah sederhana. Di pandanginya rumah itu. Lalu Pram keluar dari mobil, mengetuk pintu yang masih tertutup rapat.
Bik Idah yang membukakan pintu, karena kondisi Dania yang kurang sehat, membuatnya kembali istirahat setelah subuh.
" Assalamu'alaikum, maaf Bu, apa benar ini rumahnya Dania?"
Saat Bik Idah sedang bertanya, Dania pun tampak keluar dari kamar. Pram langsung masuk, dan memeluk Dania.
" Sayang,...."
Bik Idah pun hanya saling tatap dengan suaminya. Melihat seorang lelaki tampan datang di pagi itu, dan langsung memeluk Dania.
" Mas.."
" Sayang, Mas kangen. "
Pram menangkup wajah Dania. Keningnya berkerut, melihat wajah Dania yang pucat, dan suhu tubuhnya yang hangat.
" Maaf, Aden ini suaminya Neng Dania?"
Pram mengangguk. Dania yang masih bingung dengan kedatangan Pram hanya bisa mengangguk.
" Sayang, kamu sakit, wajah kamu pucat, dan tubuh kamu juga hangat."
" Aku baik-baik aja."
Tak lama, Buk Idah meninggalkan mereka berdua. Pagi tadi Dania meminta di buatkan bubur, karena Dania sedang tidak berselera makan. Bubur dan ikan nila panggang sudah tersedia di atas meja.
__ADS_1
" Neng, sarapan dulu, dari malam neng belum makan apa-apa kan? Kasihan di Dede kalau Neng gak makan."
Bik Idah meminta Dania untuk makan. Pram pun melihat ke arah Dania. Lalu mengikuti arah langkah Dania. Dania duduk di kursi, dan Pram juga ikut duduk di hadapannya. Dania melihat ke arah Pram, jelas tampak wajah lelah dan juga tirus milik Pram. Kumis dan jambang tipis mulai menghiasi wajahnya.
" Ayo mas, makan."
" Kamu yang lebih penting. Ada anak kita yang butuh nutrisi."
Dania menunduk, lalu mengangguk. Baru dua suap, Dania pun menanyakan kedatangannya.
" Dari mana Mas tau aku disini?"
" Dari Mami."
Degh, Dania merasa ada yang tidak beres. Apa yang terjadi sampai mertuanya itu memberitahukan alamat nya disini.
" Ada apa? apa terjadi sesuatu dengan Cilla?"
Pram menahan Dania. Bagaimana mungkin, Dania bisa tahu. Apa mungkin Mami yang telah memberitahunya? Pram membatin.
" Jawab, Mas. Apa terjadi sesuatu dengan Cilla?"
" Tenang, Dania. Selesai kan dulu makan nya."
Pram berusaha membujuk Dania. Namun Dania dengan memaksa terus mendesak Ptam.
" Cilla malam tadi di larikan ke rumah sakit, Cilla tiba-tiba demam tinggi dan mengigau memanggil kamu."
Sendok di tangan Dania jatuh. Air matanya juga luruh. Dengan cepat, Dania masuk ke kamarnya. Mengganti pakaian dan mengambil tas sandang. Dan meminta Pram membawanya menemui Cilla. Pram pun berusaha menenangkan Dania.
" Sayang, Tenang. Mami ada disana untuk menjaga Cilla."
" Aku mau ketemu sekarang. Kalau Mas gak mau pergi, aku pergi sendiri sekarang."
Dania berjalan mendahului Pram, dengan cepat Pram memegang tangan Dania.
" Oke, kita pergi sekarang."
Dania pun berpamitan pada Bik Idah. Selama perjalanan Dania tak hentinya menangis. Dan menghubungi mertuanya. Hatinya tenang saat mertuanya melakukan panggilan video, dan terhubung dengan Cilla.
" Bunda..."
Panggil Cilla pelan.
" Iya, Sayang. Bunda pulang, Nak. Maafin Bunda ya?"
__ADS_1