
Pram tiba di cafe Dania, namun Dania sudah mengingatkan semua karyawannya, agar tak ada yang menggangu nya. Siapa pun itu. Dania butuh sendiri saat ini. Karyawan Pram berbohong dengan mengatakan bahwa Dania tidak ada di tempat. Pintu ruangan sengaja di kunci.
Pram kembali ke rumah, namun Dania tak ada. Saat dirinya bertanya pada Mbok Sri. Mbok Sri mengatakan Dania belum kembali sejak pagi. Pram mulai panik, namun tak berapa lama, datang taksi dan Dania pun turun.
" Sayang, kamu dari mana?Mas tadi ke cafe kamu gak ada."
Dania menatap Pram. Lalu menipiskan bibirnya. Wajah Dania tampak pucat.
" Sayang, kamu kenapa? Sakit? Wajah kamu pucat."
Pram memeriksa kening Dania. Namun Dania dengan pelan, menarik tangan Pram dari keningnya.
" Aku gak apa-apa. Aku mau istirahat."
Dania melangkah masuk, meninggalkan Pram yang mematung di depan pintu. Sedetik kemudian, Pram pun berlari mengejar Dania yang sudah lebih dulu tiba di tangga. Pram membantu Dania menuju kamar.
Setibanya di kamar, Dania masuk ke kamar mandi. Denyut di kepalanya semakin terasa, Dania memejamkan mata mencoba menjaga keseimbangan. Saat membuka mata, Dania merasa dunia berputar hingga dirinya pun hampir terjatuh, namun dengan sigap, Pram menahan tubuh Dania.
" Sayang...kamu kenapa? "
" Kepalaku pusing, aku mau tidur."
Pram membaringkan tubuh Dania di ranjang. Dengan perlahan, Pram membuka pakaian Dania, dan menggantinya dengan baju rumahan. Dania membiarkan semua yang di kerjakan Pram. Kepalanya begitu berdenyut, hingga Dania tak sanggup untuk membuka matanya.
Pram menatap wajah Dania yang pucat. Dan juga hidungnya yang memerah.
" Apa kamu habis menangis? Apa yang membuat kamu begitu sedih, Sayang? Kenapa kamu gak cerita ke Mas. Apa masalah kamu?"
Pram beruntun bertanya, namun semua tak ada jawaban. Dania memejamkan matanya. Sedangkan Pram dengan telaten, memijat kepala Dania. Pijatan lembut di kepala Dania mampu membuat Dania tertidur.
Pijatan lembut terus dilakukan Pram sampai Dania benar-benar terlelap. Barulah Pram membersihkan tubuhnya. Lima belas menit kemudian, Pram keluar dari kamar mandi, dan menatap Dania yang masih terlelap. Namun, saat Pram membelai wajah pucat Dania, Pram melihat dahi Dania yang berkeringat. Sementara pendingin udara di kamar itu menyala. Keringat membasahi kening Dania, tak lama Dania bangkit dari tidurnya, dan berlari ke kamar mandi.
Hoek...
Hoek...
Hoek...
Dania memuntahkan semua isi perutnya. Tubuh Dania yang lemah, di tambah dengan Dania yang memuntahkan semua isi perutnya, semakin membuat Dania lemas. Pram yang setia mengikuti, memegangi Dania, dan kini menggendong wanita yang di cintainya itu menuju ranjang mereka.
__ADS_1
Pram menuju dapur, di sana sudah ada Fatma dan Cilla. Mereka melihat Pram yang membuatkan teh hangat langsung bertanya.
" Kami buat teh untuk siapa, Pram?"
" Buat Dania, Mi. Dania sakit. "
" Bunda sakit??? Cilla mau lihat Bunda."
" Boleh, tapi jangan ganggu Bunda. Kasihan Bunda lagi sakit."
Cilla langsung berlari menuju kamar Pram dan Dania. Sedangkan Fatma pun ikut menemani Cilla. Cilla membuka pintu kamar orang tuanya. Tampak Dania yang terbaring lemah. Dengan wajah yang sangat pucat.
Tak lama, Pram pun datang dengan membawa secangkir teh hangat. Sebenarnya Pram tidak tega untuk membangunkan Dania. Tapi Dania harus meminum teh itu, agar Dania sedikit segar dan menghangatkan tubuhnya.
" Sayang, bangun dulu, minum teh nya. Biar badan kamu hangat."
Dania hanya menggumam pelan. Setelah matanya terbuka, Pram pun membantu Dania untuk duduk, dan membantu Dania agar mudah meminum teh hangat buatannya itu.
" Bunda sakit??"
Cilla tampak berkaca-kaca melihat Dania yang lemah. Dania menampilkan senyum terbaiknya untuk Cilla. Lalu meminta Cilla masuk ke dalam pelukan nya. Cilla memeluk Dania. Dan Dania pun menghujani pucuk kepala anak cantiknya itu dengan banyak kecupan.
Begitu banyak pesan yang Dania sampaikan. Dan dalam keadaan kurang sehat pun, Dania masih mengingat kebutuhan Cilla. Cilla mengangguk setuju dengan semua permintaannya Dania.
" Kita ke rumah sakit aja ya, Sayang. Wajah kamu pucat. Mami khawatir, Nak."
Dania kembali tersenyum, melihat mertuanya begitu memperhatikan dirinya membuat hati Dania menghangat.
" Dania gak apa-apa, Mi. Dani cuma butuh istirahat aja."
Fatma dan Cilla pun langsung mengerti. Tak lama, keduanya keluar meninggalkan kamar Dania. Dania pun masih duduk sambil menyender di headboard ranjang. Pram mendekati Dania yang duduk sambil memejamkan matanya.
" Ada apa, Sayang?"
Pram membelai pipi Dania. Membuat Dania membuka matanya, dan menatap Pram. Tatapan yang di rasa Pram sangat berbeda hari ini. Tatapan yang menuntut.
" Aku mau istirahat. "
" Sebentar lagi, ya? Mbak Ratih sedang membuatkan bubur untuk kamu. Setelah makan bubur itu, kamu bisa istirahat. Oke?"
__ADS_1
Dania menjawab dengan anggukan. Pram menatap wajah yang kembali memejamkan mata itu. Tanpa di sadari Dania, Pram melihat air mata yang jatuh di sudut mata Dania.
Pram menyeka air mata itu. Dan mengerutkan keningnya.
" Apa masalah kamu, Sayang. Bicara sama Mas. Selama ini, kita selalu berbagi bersama kan? Kenapa hari ini, Mas merasa kamu menyimpan masalah?
Lalu pintu kamar di ketuk, tampak mbak Ratih datang membawa nampan berisi mangkuk bubur dan air putih. Pram menerima itu, dan menutup pintu kamar kembali. Pram menyendok kan bubur itu dan di sodorkan pada Dania.
" Makan dulu, Yang. Nanti lanjut istirahatnya."
Dania membuka matanya, dan menerima suapan dari Pram. Hanya beberapa suapan yang masuk. Setelah itu, Pram memberikan air putih serta obat pada Dania. Setelah meminum itu, Dania pun kembali merebahkan dirinya. Kali ini tentu saja, dengan lengan Pram sebagai bantalan nya. Pram melakukan itu, dan Dania hanya bisa menerima.
Pram terus membelai rambut, dan juga pipi Dania. Hingga dengkuran halus terdengar. Setelah di rasa Dania sudah sangat terlelap, Pram pun pelan-pelan menarik tangannya. Pram turun untuk mengisi perutnya yang sudah lapar.
" Bagiamana keadaan Dania, Pram?"
Fatma bertanya pada putranya yang tampak sedang memakan makan malamnya seorang diri. Fatma dan Cilla sudah lebih dulu makan.
" Masih lemas, Mi. Sekarang sudah tidur."
" Apa kalian ada masalah? "
Pram menatap Mami nya sekilas, lalu melanjutkan makan malamnya.
" Pram, bukannya mami mau ikut campur, tapi mami lihat sorot mata Dania hari ini berbeda. Apa kalian bertengkar, Nak?"
" Enggak, Mi. Kami baik-baik saja. Bahkan Dania tadi sempat ke kantor untuk menghantarkan makan siang Pram."
.
.
.
**Assalamualaikum...aku double up ya malam ini sayang-sayang kuh...😘😘😘
Jangan lupa vote, komen, like dan gift serta ratingnya ya..😊😊
Terima kasih 😘😘😘**
__ADS_1