Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Ekstra Part 3


__ADS_3

" Masuk.."


Tari hanya diam, tak bergerak.


" Masuk, Tari. Apa perlu aku memaksamu."


Tari diam saja, namun bahunya bergetar. Riko sadar, gadis di hadapannya ini masih ketakutan. Riko membuka pintu mobil di bagian kirinya. Lalu menggandeng tangan Tari dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Riko menjalankan mobilnya. Sedangkan Tari hanya menatap keluar jendela. Tari melihat Riko melewati hotel dimana resepsi dan mereka menginap. Tari menatap Riko, sedangkan Riko terus saja menatap ke arah jalan.


" Pak,kita sudah lewat. Kita mau kemana?"


"Pak Riko..."


Riko tak menjawab. Tak berselang lama, Riko memarkirkan mobilnya di basement sebuah apartemen. Riko membuka pintu di bagian Tari, dan meminta Tari keluar. Tari keluar dengan rasa takut. Pipi Tari pun semakin tampak memar bekas tamparan lelaki itu tadi. Riko yang melihatnya pun mendesah kasar.


Riko menggandeng tangan Tari, lalu masuk ke dalam lift. Riko memencet nomor lantai. Setelah sampai Riko kembali menarik Tari keluar dan menuju unitnya. Riko membuka unitnya, dan membawa Tari ke dalamnya. Tari kembali merasa ketakutan.


" Kennaapa bapak bawa saya kesini?"


" Duduk dan diam disitu."


Riko pun berlalu meninggalkan Tari di sofa. Riko mengambil kotak obat di dalam kamarnya. Dan juga mengambil sebuah mangkok dan juga sapu tangan. Riko duduk di depan Tari dan meletakkan baskom berisi air itu di meja. Riko mengompres bekas luka lebam di pipi Tari. Tari hanya mampu meringis. Bukan hanya itu, Riko juga membantu mengoleskan salep agar lebamnya segera tersamarkan.


" Buka hoody yang kamu pakai itu."


Tari membulatkan matanya, namun Tari sadar hoody itu milik Riko. Dengan perlahan, Tari membuka hoody yang di pakainya. Menyisakan kemeja yang telah robek. Riko juga meminta Tari untuk membuka kemejanya.


" Pak, saya tau, saya salah tengah malam berkeliaran. Tapi sumpah demi apapun, saya bukan gadis nakal."

__ADS_1


Tari langsung bangkit dan ingin pergi, namun tangannya di cekal oleh Riko.


" Kamu buka atau saya yang buka."


" Tetapi Pak..."


Tari hanya bisa menangis. Rasanya harga dirinya benar-benar sudah tidak ada lagi. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Riko langsung membuka kemeja Tari dengan satu hentakan. Hingga kancing nya bertaburan. Tari meneteskan air matanya, dan memalingkan wajahnya dari Riko. Beruntung, Tari masih menggunakan tank top untuk dalaman kemejanya.


Riko mengompres lengan atas hampir ke bahu Tari, tepat dimana kemeja nya tadi robek. Ada luka bekas kuku laki-laki itu. Pergelangan tangan Tari juga tampak kebiruan.


" Saya cuma mau ngompres luka kamu. Kamu jangan berpikiran aneh-aneh."


Riko mengompres dekat luka itu membuat tari meringis kesakitan. Bahkan kini Tari meremas tangan Riko. Riko hanya menatap tangannya yang di remas oleh Tari. Tubuh Tari memang istimewa, tubuh Tari dengan mudah sekali memar jika ada sesuatu yang mencederainya. Sedangkan Tari sendiri pun sangat lemah akan rasa sakit.


Riko terus mengompres luka itu, sambil memperhatikan wajah Tari Yangs Edang kesakitan. Entah mengapa Riko suka melihat wajah itu. Saat wajah mereka saling mendekat, entah mengapa Riko dengan berani ******* bibir ranum milik Tari. Membuat Tari membulatkan mata karena terkejut.


Riko terus memainkan bibirnya di atas bibir Tari, hingga kini posisi Tari tepat di bawahnya. Tari pun tergoda dengan permainan bibir yang di mulai oleh Riko. Perlahan, Riko terus turun menuju leher jenjang milik Tari. Menghisap dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Riko terus menjelajah, hingga bagian atas Tari terbuka sempurna.


Tari sadar, apa yang mereka lakukan dini hari tadi atas dasar suka sama suka. Tari hanya mampu menahan sesegukan. Dengan tubuh yang rasanya remuk, dan inti tubuhnya yang perih, Tari meninggalkan apartemen Riko. Sedangkan Riko tertidur pulas setelah itu. Karena kemejanya telah rusak, mau tak mau, Tari kembali memakai hoody milik Riko malam tadi. Dan Tari langsung pulang ke apartemen miliknya.


Riko terbangun dari tidurnya di saat matahari sudah mulai meninggi. Cahaya yang masuk ke kamarnya membuat tidurnya terusik. Riko terbangun dan sadar dalam keadaan tak berbusana. Riko mengingat apa yang terjadi dini hari itu, dan menyesalinya. Riko mengusap wajahnya kasar, lalu meninggalkan ranjang yang berbalut sprei berwarna abu-abu itu. Riko sadar dia telah melakukannya dengan Tari.


Saat Riko sudah selesai dengan ritual kamar mandinya, Riko pun bersiap membereskan ranjang miliknya itu, karena Riko sangat tidak suka ranjang nya berserakan. Saat menyingkap selimut, Riko terpaku melihat noda merah yang sangat jelas disana. Riko tercengang. Riko merabanya, dan kejadian itu pun teringat, itu adalah tempat dimana Tari berada dini hari itu. Jelas sudah, Riko telah merusak seorang gadis polos.


Riko menggenggam seprei itu.


" Bodoh...kau bodoh Riko. Aaarrrrrggggghhhh..."


Riko mengamuk di kamar itu sendiri. Lalu bergegas mencari Tari, dan berharap Tari masih ada di sana. Namun Riko tak menemukan siapapun. Tas dan sepatu yang di pakai Tari malam tadi sudah tidak ada. Hanya ada kemeja dan juga bekas obat. Dan Hoody milik Riko pun tak ada disana.

__ADS_1


Riko bergegas meninggalkan apartemen miliknya, dan mengendari mobil nya menuju hotel di mana resepsi berlangsung. Saat Riko datang, semua orang tengah menikmati makan siangnya.


" Hai Ko...sini."


Reyhan melambaikan tangan ke arah Riko. Riko tak melihat Tari disana. Hanya ada dua pasangan , yaitu Lena dan Reyhan. Serta Pram dan Dania. Riko menjatuhkan bokongya di kursi yang ada disana.


" Kayak nya Lo capek banget, Ko. Dari mana aja?"


Riko hanya menggeleng kan kepalanya. Dan memesan kopi untuknya. Kopi yang di minta Riko sudah tersedia.


" Gue heran sama Tari, kok tiba-tiba dia check out duluan ya? aneh tu anak."


Kopi yang baru saja si sedap oleh Riko pun berhasil muncrat dari mulutnya. Membuat Reyhan dan Pram menatap ke arahnya


" Pelan-pelan, Ko. Gak ada yang minta."


" Sorry...sorry, panas."


Semua orang menggelengkan kepalanya.


" Lagian gue heran sama Lo. Kita yang kerja rodi, kok mukak Lo yang kayaknya lelah banget. Habis ngapain aja Lo?"


Ucap Reyhan, yang di balas dengan tatapan tajam oleh Lena.


" Gue ..gue gak ngapa-ngapain kok."


Ucap Riko sedikit terbata. Riko lalu mencoba bertanya pada Lena dan Dania.


" Temen kalian udah check out duluan? Kapan?"

__ADS_1


" Pagi tadi. Tapi herannya Tari tu wajahnya sendu banget. Trus matanya juga agak bengkak gitu. Aku heran Dan, gak biasanya Tari gitu."


__ADS_2