
Suara panggilan untuk bersujud kepada sang pemilik kehidupan masuk ke dalam pendengaran Dania. Dania bangkit dari tidurnya, lalu keluar kamar. Segera membersihkan diri. Lalu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba. Rasa hatinya sedikit lega, karena sudah mengadu kan semua resah. Dania bangkit dari duduk nya dan melangkah keluar kamar.
Di dapur, sudah ada Bik Idah dengan suaminya, Mang Udin. Mereka lah yang selama ini merawat rumah peninggalan kakek dan nenek Dania. Sewaktu masih bekerja, Dania telah merenovasi rumah ini. Namun tidak meninggalkan bentuk aslinya.
" Eh...Neng Dania udah bangun. Neng mau minum susu atau teh?"
" Dania mau teh aja, Bik."
Bik Idah dengan cekatan membuatkan teh hangat dan menyodorkan kepada Dania. Tak lupa sepiring pisang rebus juga tersedia di meja.
" Maaf, Neng. Bibik belum nyiapin sarapan. Kalo Bibik dan suami, biasa sarapan pake pisang rebus atau singkong rebus. Dan semua itu, adalah hasil ladang di belakang."
Dania melihat ke arah Bik Idah.
" Tanah kosong yang di belakang Bik? Sekarang jadi kebun? "
" Iya, Neng. Kata si Mamang, sayang kalau di biarkan. Maaf ya, Neng. Bibik dan Mamang gak pamit sama si Eneng."
Dania tersenyum. Sedangkan Mang Udin tampak sungkan.
" Gak apa-apa, Bik. Malah bagus kan. Kalau kolam ikan gimana Bik?"
" Alhamdulillah, Neng. Bisa buat makan dan kadang-kadang anak-anak Bibik bisa ikut merasakan."
Dania manggut-manggut tanda mengerti. Memang rumah ini tidak terlalu besar, ada tiga kamar. Dan satu kamar di bagian belakang. Dan kamar itu di gunakan oleh Bik Idah dan suaminya. Halaman depan banyak di tanami bunga, dan bagian belakang ada lahan kosong yang di manfaatkan sebagai kebun singkong dan juga pisang. Tak luas, hanya cukup untuk kebutuhan rumah. Sedangkan di sisi kanan, ada kolam ikan Nila. Kolam itu juga tidak luas, dulu itu di buat hanya untuk mengisi rasa jenuh kakek Dania.
Dania memakan pisang rebus yang ada di meja. Mengisi perutnya yang kosong pagi itu. Semilir angin di pagi itu, membuat Dania merasakan damai. Saat Dania menikmati udara pagi di desa pagi itu. Di kediaman Pram, semua berjalan dengan diam. Pram tampak tak bersemangat memulai harinya. Sedangkan Cilla memakan sarapannya dengan sangat perlahan.
" Ayo Sayang. Nanti kamu terlambat ke sekolah."
Fatma memperhatikan cucu nya yang makan dengan menundukkan kepalanya.
" Cilla udah kenyang, Oma. Cilla pergi sekolah ya."
Cilla pun berpamitan. Setelah bersalaman dengan Papa serta Oma nya, Cilla pun pergi ke sekolah di hantarkan oleh supir. Sedangkan Pram hanya menatap makanan yang ada di meja. Fatma segera menyelesaikan sarapannya.
" Mi, Dania dimana?"
__ADS_1
Pram bertanya tepat di saat Fatma bangkit dari duduknya. Fatma terdiam sesaat.
" Mami gak akan memberitahu dimana Dania. Kalau kamu memang mencintainya, kamu akan berusaha mencarinya."
Pram terdiam. Namun dengan cepat Pram kembali mengambil ponselnya. Mencoba mencari dimana Dania. Namun sayang. Tak juga menemukan dimana keberadaan Dania.
Waktu terus bergulir, Dania yang berada di desa tengah meminta bantuan Buk Idah untuk membelikannya sebuah ponsel baru dan juga kartu yabg baru. Dania ingin mengganti nomor ponsel miliknya. Memang ini bukan solusi tapi Dania hanya ingin tenang untuk beberapa saat. Apalagi mengingat kandungannya yang sempat bermasalah.
Setelah mengabari Fatma mengenai, nomor ponselnya yang baru, Dania pun menyimpan ponsel dan kartunya yang lama. Lalu Dania berjalan ke halaman belakang di mana Buk Idah tengah membersihkan rumput liar yang bersemayam disana.
" Neng Dania mau makan? Biar bubuk siapkan ya?"
Dania menggeleng.
" Gak, Bik. Kalau Dania mau makan, nanti Dania akan ambil sendiri."
Bik Idah yang melihat Dania duduk melamun datang menghampirinya.
" Neng, maaf kalau bibik lancang. Tapi sepertinya sejak datang kemarin, Neng banyak melamun? Apa Neng lagi ada masalah?"
Sementara Pram terus saja mencoba melacak keberadaan Dania. Tapi gagal. Nomor ponsel yang dimiliki Pram tak bisa di hubungi lagi. Pram benar- benar bingung. Bahkan sampai sore menjelang pun, tak ada sebutir nasi yang masuk ke perut Pram.
Fatma yang melihat Pram kebingungan pun hanya bisa menatap sendu.
" Maafkan mami, tapi mami harus lakukan ini, agar kamu menyadari siapa yang penting di hidup kamu."
Malam hari, saat di meja makan, Cilla yang biasanya tampak ceria, tapi malam ini Cilla hanya diam. Pram yang melihat perubahan putrinya membelai kepala nya.
" Cilla kenapa? Gak suka makanannya?"
Cilla menggelengkan kepalanya.
" Cilla kangen sama Bunda. Papa bisa telepon Bunda gak? Cilla mau bicara, sebentar aja."
Pram mengalihkan pandangannya. Mencoba menahan rasa sakit di hatinya.
" Sayang, Bunda udah tidur, jadi gak bisa di telepon. Besok aja ya?"
__ADS_1
Pram terpaksa berbohong. Cilla tampak kecewa, dan dengan segera Cilla menghabiskan makan malamnya. Setelah selesai, Cilla pun masuk ke kamarnya.
Pram pun tak bisa melanjutkan makan malamnya. Selera makannya turun. Membuat Fatma yang ada di sisi nya menatap sendu.
" Dania akan baik-baik saja, Pram. Kamu harus tetap menjaga kesehatan kamu. "
" Pram gak selera, Mi. Pram duluan, Mi."
Pram langsung menuju kamarnya. Pram memandangi foto Dania yang ada di ponselnya. Pram membelai foto Dania yang tersenyum lebar saat itu.
" Maafkan, Mas. Maafkan Mas yang tidak peka terhadap perasaan kamu. Mas akan terus mencari kamu, Mas gak mau kamu pergi dari hidup Mas. I love you, Dania. Love you..."
Pram menyeka air mata yang jatuh di pipinya. Pram membuka laci nakas, dan mendapati sebuah kotak. Pram tak pernah melihatnya selama ini. Pram membuka kotak itu, dan air matanya kembali luruh. Di kotak itu, ada sebuah testpack bergaris dua, serta foto USG milik Dania. Bahkan di dalamnya terdapat sebuah tulisan. " HAI PAPA..."
Namun kotak itu tidak pernah di berikan Dania. Karena saat ingin memberikan kotak itu, Dania mendengar pembicaraan Pram dan Fatma mengenai keengganan Pram memiliki anak lagi. Kini kotak itu ada di tangan Pram. Membuat Pram semakin merasa sakit dan bersalah.
" Maafkan Papa, Nak. Selama ini Papa gak menyadari kehadiran kamu. Bahkan papa menolak kamu sebelum kamu ada, maafkan Papa...maaf.."
Pram berjalan menuju balkon kamarnya. Memandang ke langit gelap. Menghirup udara malam, lalu menghembuskannya.
" Selamat malam, Sayang. Semoga malam ini kamu tidur dengan lelap. Dan jangan lupa untuk memimpikan Mas disini. Mas selalu menuggu kamu. Kebahagiaan Mas ada bersama kamu."
Pram kembali menghembuskan nafasnya. Lalu masuk ke kamar, dan merebahkan tubuhnya. Mencoba untuk tidur agar besok dirinya bisa kembali beraktivitas dan mencari Dania.
.
.
.
**Assalamualaikum, readers...
Makasih dukungannya ya...
Dan mohon maaf, besok malam aku gak Up,ππΌππΌππΌππΌ...
Terima kasih semua...love you...ππππ₯°π₯°π₯°**
__ADS_1