
Pram turun dari ranjang, dan masuk ke kamar mandi. Cukup lama karena dirinya ingin menenangkan Anaconda nya yang mulai meronta. Saat Pram sudah keluar dari kamar mandi, Dania juga sudah tampak duduk di tepi ranjang. Setelah Pram keluar, Dania pun segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Sepuluh menit kemudian, Pram sudah rapi dengan pakaiannya. Begitu pun dengan Dania yang keluar dari kamar mandi sudah menggunakan pakaian lengkap.
" Mau sarapan disini atau di bawah?"
" Mau ketemu Cilla. "
Pram tersenyum lalu mengecup kening Dania dalam.
" Segitu kangen nya, kalau Papa nya yang pergi, Bunda nya kangen gak ya?"
Pram berkata sambil menangkup wajah Dania. Tatapan yang penuh cinta di berikan pada Pram untuk Dania, membuat dirinya tersenyum dengan wajah yang merona.
" Ya udah, kita sarapan dulu, trus ke rumah Oma untuk menemui putri kita."
Setelah itu, sepasang suami istri itu pun keluar dari kamar, dan sarapan di restoran hotel. Pram tampak menikmati makanan nya, sedangkan Dania lebih banyak gugupnya.
Pram membawa Dania masuk ke dalam rumah yang merupakan milik Omanya. Setibanya mereka di halaman rumah itu, Dania semakin gugup. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Dania dan Pram di sambut langsung oleh Fatma.
" Sayang..."
" Mami..."
Pram dan Dania bergantian mencium tangan Fatma dan juga memeluknya. Fatma pun anak serta menantunya masuk ke dalam.
" Ayo, sayang. Kamu kenalan sama Oma. Oma itu, Ibu dari mami. Ayo sini."
Fatma membawa Dania ke belakang, disana Oma sedang memperhatikan beberapa cucu dan cicitnya. Termasuk Cilla.
" Mi, ada mantu Fatma."
" Sayang, sini. Ini Omanya Pram."
Dania maju dan mengulurkan tangannya untuk mencium tangan dari Oma suaminya itu. Umurnya memang sudah sangat tua. Tapi tak dapat di pungkiri bahwa Oma merupakan wanita yang sangat cantik. Wajah tua nya masih menyiratkan kecantikannya di masa muda.
" Siapa nama kamu?"
" Dania, Oma."
Dania terlihat sangat canggung, tak lama Cilla yang melihat Dania berdiri di dekat eyang buyutnya pun, berlari sambil memanggilnya.
" Bunda..."
Dania pun langsung membungkukkan badannya dan merentangkan kedua tangannya. Cilla berlari dan masuk dalam pelukan Dania. Dania langsung memeluk dan menggendong Cilla. Di hujaninya wajah Cilla dengan kecupan. Oma Salma yang melihat pun tersenyum kecil.
" Bunda kangen banget sama Cilla. Cilla gak kangen sama Bunda?"
__ADS_1
Dania bertanya pada Cilla. Cilla pun mengangguk.
" Kangen. Tapi disini Cilla banyak teman Bunda. Tuh.."
Cilla menunjuk ke arah para sepupunya. Dan benar saja, ada beberapa anak kecil yang sedang bermain disana.
Saat makan siang, mereka makan bersama. Oma Salma nampak mulai memperhatikan Dania.Tampak di awal Oma Salma seperti tidak menyukainya.
" Jadi sudah berapa lama kalian menikah?"
" Sudah hampir setahun, Oma. Dan Maaf ya Oma. Saat pernikahan Pram, Oma tidak di kabari. Semua mendadak Oma."
" Tadinya, Oma berpikir. Kalian sudah tidak menganggap Oma sebagai bagian dari keluarga kalian. Kau menikah tanpa memberi kabar. Dan saat Papi mu meninggal, Oma juga tidak di beri kabar. Kalian keterlaluan."
Oma, berkata sambil terus menatap lurus. Fatma mami nya Pram memegang punggung tangan Ibu nya itu.
" Maaf, Mi. Bukan kami menutupi semua ini. Tapi mengingat kesehatan mami yang saat itu sedang sangat tidak baik. Maka Fatma dan yang lain nya terpaksa tidak memberi tahukan mami dulu."
Dania hanya menunduk. Tak berani menatap Oma Salma. Sedangkan Pram yang paham akan kondisi ini, menggenggam tangan Dania.
" Lalu apa kalian paham, asal usul gadis ini?"
Seketika semua orang melihat ke arah Dania. Fatma melihat ke ibu yang melahirkannya.
" Mi, Dania ini gadis baik."
" Apa pekerjaan orang tuanya? Dan sebelum menikah dengan kau, apa pekerjaan nya?"
" Dania-"
" Saya yatim piatu, Oma. Dan pekerjaan-"
" Oma? Apa aku meminta mu memanggilku demikian?"
" Mi.."
" Oma.."
Pram dan Fatma memanggil secara bersamaan. Membuat Oma Salma menatap ke arah Fatma dan Pram bergantian.
" Maaf, Nyonya. Saya yatim piatu, dan sebelumnya saya bekerja di perusahaan orang tua Mas Pram. Hdn. Corp,"
Oma Salma hanya menatap sekilas, setelah itu, kembali menatap lurus. Beruntung anak-anak tidak ada di meja makan itu, mereka tengah menikmati makan siangnya di taman belakang. Di temani oleh pengasuh nya masing-masing.
" Apa pekerjaan mu sebagai sekretaris?"
Dania mengangguk. Lalu Oma Salma tersenyum sinis.
__ADS_1
" Kau merayu cucu ku dan menggantikan posisi istrinya? "
"Oma.."
" Mami..."
Lagi-lagi Dania dan Pram berbicara secara bersamaan. Membuat semua orang yang ada di meja makan itu, terperangah. Bahkan Pram sudah bangkit dari duduknya. Namun Dania memegang lengan Pram. Dan mengangguk pelan. Meminta Pram untuk duduk kembali. Makan siang belum di mulai. Tapi suasana sudah mulai tidak enak.
" Mi, jangan menuduh. Bisa jadi antara Pram dan gadis ini, memang saling mencintai."
Kali ini Fatur, adik bungsu Fatma yang angkat bicara. Oma Salma hanya menatapnya sekilas.
" Hhuufffhh... terserah lah. Sekarang baiknya kita makan. Sepertinya semua cucu ku menjadi orang bodoh. Setelah sebelumnya anakmu, dan kini anak Fatma."
Fatur hanya menatap ke arah Ibunya itu. Entah mengapa, Ibunya itu sangat tinggi menilai seseorang untuk masuk ke keluarganya.
Pram sudah mengepalkan tangannya. Lalu kemudian dia terkekeh kecil, seolah menyudutkan.
" Pantas saja, Bang Imran tak pernah datang ke rumah ini lagi. Ternyata Oma belum juga berubah. Masih memandang rendah orang lain."
Dania menggeleng. Namun Pram langsung bangkit dari duduknya. Menggandeng tangan Dania.
" Pram pamit. Ayo Sayang."
Pram menarik Dania dari meja makan itu.
" Mas, Aku mau Cilla."
Perkataan Dania membuat Pram menghentikan langkahnya. Dan membawa Dania bertemu Cilla. Pram menggendong Cilla. Dan meminta Mbok Sri untuk menyiapkan semua keperluan Cilla.
Fatma yang melihat Pram marah, langsung menemui Pram dan Dania. Fatma menatap sendu ke arah Dania. Sedangkan Pram tampak mengetatkan rahangnya. Menahan amarahnya.
" Mi, kami pulang lebih dulu. Mbok Sri tetap disini bersama mami ya. "
" Iya, Mbak."
Dania memeluk ibu mertuanya.
" Maafkan Oma, Sayang. Dan maafkan mami.."
Dania tersenyum menatap ibu mertuanya itu. Lalu mengusap air mata yang ada di pipi maminya.
" Gak apa-apa, Mi. Mami gak perlu minta maaf."
Tak lama, Om Fatur juga menghampiri Dania dan juga Pram.
" Pram,.maafkan Oma mu."
__ADS_1
" Pram pamit, om. Titip mami."
Setelah berkata seperti itu, Pram, Dania dan juga Cilla pergi meninggalkan rumah itu. Dengan di hantarkan oleh supir dari Om Fatur. Selama di perjalanan menuju Bandara, baik Pram maupun Dania hanya saling diam. Sementara Cilla tampak bingung dengan kedua orang tuanya.