
Wajah Dania memerah menahan malu. Sedangkan karyawan Dania menunduk karena takut.
" Ma..maafkan saayya, Bu, Pak."
Pram tersenyum.
" Tidak apa-apa. Setelah keluar nanti tolong tutup pintunya ya. Saya dan istri tidak ingin di ganggu."
"Bbaaiikk, Pak."
Sebelum karyawan itu pergi, Pram memberikan lima lembar pecahan merah padanya.
" Ini...untuk apa Pak? Ibu dan Bapak gak mecat saya kan? Saya mohon Pak. "
Karyawan Dania itu memelas dengan mata yang berkaca-kaca.
" Itu untuk tutup mulut. Jangan sampai yang kamu lihat tadi tersebar di antara kawan kerja kamu."
Karyawan Dania mengangguk patuh. Lalu keluar ruangan dan meninggalkan Dania dan Pram di sana. Setelah pintu tertutup sempurna, Dania memukul lengan Pram.
" Kamu sih, mau nyosor aja. Malu maaasss...."
Bukannya marah, justru Pram tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Dania. Baginya tingkah Dania sangat menggemaskan. Rasanya saat ini, Dania ingin menyembunyikan wajahnya di lubang semut saja.
" Sekarang kamu makan. Biar kamu bertenaga."
Ucap Pram di iringi dengan seringai nakal. Membuat Dania bergidik ngeri. Setelah selesai makan, Dania meminta karyawannya untuk membawa bekas makan mereka keluar dari ruangan nya.
Kini Pram merebahkan kepalanya di paha Dania. Sedangkan Dania masih menatap ponselnya. Pram yang melihat Dania sedang sibuk dengan ponselnya pun mengambil ponsel itu dari tangannya.
" Lagi chatingan sama siapa sih? Suami sendiri di anggurin."
Dania berdecak kesal. Pasalnya saat ini dia sangat merindukan putri kecilnya itu. Tapi baik mertuanya ataupun mbok Sri tidak ada yang memberikannya kabar. Saat di hubungi pun mertuanya tidak menjawab panggilan nya.
" Lagi nungguin Cilla. Kangen mas .."
Pram merogoh saku celananya, dan membuka ponselnya. Di perlihatkan video Cilla yang sedang asik bermain dengan saudara yang seumuran dirinya.
__ADS_1
" Kenapa gak bilang?"
" Kamu gak tanya."
" Ish...dasar..."
Pram memiringkan tubuhnya. Dan kini memeluk perut Dania.
" Sudah tenang?"
Dania mengangguk. Lalu Pram menarik tangan Dania dan di satukan dengan tangannya. Di ciumnya punggung tangan Dania. Lalu menatap Dania dengan pandangan lembut.
Pram terus saja menduselkan wajahnya di perut Dania, Dania yang bersandar pada dinding ruangan itu pun semakin menahan tubuhnya.
" Mash..."
Dania meremang sambil menyebutkan nama Pram, saat ini, bukan hanya wajahnya yang mendusel di perut Dania. Tapi Pram juga mulai memainkan lidahnya di sana. Menimbulkan sensasi geli yang menjalar ke mana-mana. Sedangkan sebelah tangan Pram membelai punggung Dania.
Dania memejamkan matanya saat merasakan sensasi itu. Ada rasa geli yang membuat diri nya meremang. Tanpa sadar, tangan Dania meremas rambut Pram membuatnya menjadi acak-acakan.
Akibat ulahnya sendiri kini Pram pun tidak bisa menahan dirinya. Hampir saja Pram terbawa suasana, dan menerkam Dania disana. Seandainya Dania tidak mengingatkannya.
Pram akhirnya menegakkan tubuhnya dan bersandar di samping Dania. Atasan yang di pakai Dania sudah sedikit terbuka. Dan Dania kini tengah merapikan nya. Sedangkan Pram pun mulai mengatur nafasnya.
" Kita pulang yuk."
Dania mengangguk. Pram pun merapikan pakaian Dania. Lalu Pram merapikan rambutnya. Dan kini mereka keluar dari ruangan Dania setelah sebelumnya mengunci ruangan itu.
Selama di perjalanan menuju rumah, Pram selalu saja menggenggam tangan Dania. Sedangkan sebelah tangannya di pakai untuk memegang kemudi.
" Mas, aku gak kemana-mana, lepasin tangan aku. Fokus ke jalan. Nanti kita nabrak kalau begini."
Pram tersenyum lalu melepaskan tangan Dania. Setibanya di rumah. Pram terus saja menggenggam tangan Dania. Dan kini mereka bergandengan tangan masuk ke dalam kamar.
Dania meminta izin untuk masuk ke kamar mandi. Dan di balas dengan anggukan oleh Pram. Namun sebelum Dania masuk, Pram memberikannya sebuah Paper bag berisi pakaian dinas yang harus di pakainya.
Dania membuka paper bag pemberian Pram di kamar mandi, dirinya tercengang melihat isinya.
__ADS_1
" Apa-apaan ini, sejak kapan Mas Pram membelinya. Bisa masuk angin aku kalau pakai beginian." Batin Dania. Sambil memajang baju itu.
Pintu kamar mandi terbuka, Pram menatap Dania yang keluar menggunakan baju yang di berikan olehnya. Pram meneguk saliva nya sendiri. Baju itu begitu kontras dengan warna kulit Dania. Dania menutup dada dan bagian paha nya dengan tangannya. Pram yang terpana menatap Dania tanpa kedip.
Pram mendekati Dania. Lalu mengangkat dagunya. Pram mengecup dan me-lum-at lembut bibir gadis itu. Dania yang sudah terbiasa dengan aksi bibir Pram, kini mulai membalas. Pram mengigit kecil bibir Dania agar membuka mulutnya. Lalu Lidah Pram menerobos masuk ke dalam rongga mulut Dania. Lidah mereka saling membelit. Mereka kini saling bertukar Saliva.
Dania meremas lengan Pram, saat dirasa bibir Pram mulai menggigit kecil cuping telinga nya. Pram dengan perlahan dan tanpa melepas ******* di telinga Dania membawa Dania ke atas ranjang.
Tubuh Dania di rebahkan oleh Pram di ranjang berukuran king size yang selama ini mereka tiduri bersama. Dania melenguh dan meremas rambut Pram setiap kali Pram mampu menemukan titik lemahnya.
Dania di buat menegang di saat tangan Pram dengan lembut dan perlahan membelai puncak bukit kembarnya. Dania benar-benar merasa geli bercampur dengan sensasi lain yang belum pernah di rasakan sebelumnya. Dania hanya mampu menggigit bibir bawahnya saat Pram dengan sengaja me-ng-his-ap puncak gunungnya. Tangan sebelahnya tak henti bergerilya di puncak yang satunya.
Dania terus menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan. Dan mencoba menahan suara yang akan meluncur dari bibirnya.
" Lepaskan, Sayang. Sebut namaku..."
Setelah itu, Pram semakin meningkatkan permainan nya. Membuat Dania semakin tak tahan untuk tidak memanggil namanya.
" Mmmaassshhhh...."
Entah sejak kapan, kain yang ada di tubuh Dania terlepas, namun yang pasti, kini Dania sudah seperti bayi. Sedangkan Pram masih mengunakan boxer. Permainan Pram terus menjalar hingga ke bagian bawah perut Dania.
Pram membuka nya, sedangkan Dania mencoba menutup dengan tangannya. Pram membelai dan menemukan titik rasa Dania. Pram dengan pelan mendorong menerobos masuk ke dalam nya. Membuat Dania menjerit tertahan dan menggigit bahu Pram. Pram hanya semakin menekan dan membiarkan sementara tanpa bergerak sama sekali. Menunggu sampai Dania tenang, barulah Pram mengayuh perahunya menuju pulau cinta mereka.
Dania yang semula merasa sakit, kini tengah menikmati apa yang sedang Pram kerjakan saat ini. Perlahan-lahan Dania mulai menikmati. Hingga akhirnya, Pram semakin mempercepat laju perahunya untuk segera mencapai pulau itu. Setelah mendapatkan tepiannya, kini Pram pun terkulai lemas di atas tubuh Dania. Nafas mereka saling memburu. Setelah mencium kening Dania, Pram pun merebahkan tubuhnya ke samping. Dan menatap Dania yang masih memejamkan matanya.
" Terima kasih,..."
Ucap Pram sambil mencium kening Dania dan merengkuhnya masuk ke dalam pelukannya.
.
.
. **Hai readers....jangan lupa like, vote dan gift nya ya...Jangan lupa mampir di ceritaku yang lain. Judulnya...
" SUAMIKU MILIK KEKASIHNYA"
__ADS_1
Jangan lupa ya sayang-sayang kuh...😘😘😘**