Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 63


__ADS_3

Pram menggendong tubuh Dania menuju brankar yang telah menunggu. Dengan segera Dania di bawa menuju ruangan gawat darurat. Pram dan Fatma hanya bisa menunggu di luar saat Dania mendapatkan pertolongan. Tak lama, suara derap langkah menuju ke arah mereka. Reyhan dan Lena pun langsung bertemu dengan Pram dan juga Fatma.


" Tante, bagaimanapun keadaan Dania?"


Fatma hanya menggeleng. Sedangkan Reyhan hanya menatap tajam ke arah Pram. Tak lama, dokter pun keluar dari ruangan itu. Pram langsung bertanya.


" Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"


" Bersyukur lah, kandungannya masih bisa di selamatkan. Walau saat ini, Istri bapak harus mendapatkan perawatan intensif selama beberapa hari ke depan. "


" Istri saya hamil, Dok?"


" Iya, dan usia kandungan nya delapan Minggu. Saat trimester pertama, memang sangat rentan mengalami hal-hal seperti ini, dan pemicunya bisa jadi kelelahan, atau juga terlalu stress. Jadi saya minta agar Bu Dania tidak terlalu lelah dan banyak pikiran ya, Pak. Sebentar lagi, Bu Dania akan kita pindahkan ke ruang perawatan. Jadi saya permisi."


Semua orang saling tatap saat Pram melihat kearah mereka. Belum sempat Pram bertanya. Brankar Dania sudah di bawa oleh Suster menuju ruangannya. Pram menggenggam tangan Dania, sedangkan Dania masih belum sadarkan diri, akibat tindakan yang di lakukan oleh tim medis.


Setiba di ruangannya, Pram menatap sendu wajah Dania yang pucat.


" Mami tau Dania hamil?"


Ucap Pram saat di rasa Mami nya mendekat ke arah ranjang Dania. Fatma menghela nafasnya.


" Iya.. Dania juga yang meminta kami untuk tidak memberitahumu."


Kening Pram berkerut dalam. Lalu pandangannya beralih ke arah Maminya.


" Kenapa?"


Fatma menatap lurus ke arah Dania. Hatinya sedih saat mengingat saat Pram tak menginginkan anak dari Dania.


" Itu karena dirinya mendengar semua ucapan mu. Saat dirinya ingin memberitahumu tentang kehamilannya bulan lalu. Dania mendengar omongan kamu yang tak menginginkan anak dari dirinya. Dania hancur saat itu. "


Air mata Fatma luruh, dan bahkan kaki Pram seperti tak sanggup menahan bobot tubuhnya. Pram mundur selangkah.


" Dania begitu sedih, kedekatan mu dengan Chelsea, dan Kamu yang tak menginginkan buah hati darinya, selama ini, mami sering memperhatikan Dania yang melamun. Mami paham perasaanya, Pram. Seandainya kamu sudah tak menginginkan nya, lepaskan Dania, biarkan-"


"Mi..."


Pram menatap tajam. Sementara Reyhan dan Lena yang ada di ruangan itu, hanya mendengarkan. Reyhan tak tahu bagaimana harus bersikap. Dirinya hanya sepupu Pram, dan saat ini hanya sebatas teman. Dan Reyhan pun ingin menjaga perasaan Lena.

__ADS_1


" Pram, aku dan Lena pulang dulu. Besok aku kesini lagi."


Pram hanya mengangguk. Saat Reyhan dan Lena ingin keluar dari kamar, Pram pun mengucapkan terima kasih.


" Terima kasih, Rey. Sudah menuruti ngidamnya Dania."


" Bukan aku yang menurutinya, tapi Lena."


Pram menatap Lena dan Reyhan bergantian. Paham atas tatapan Reyhan. Lena pun buka suara.


" Iya,Pak. Dan tadi hanya Reyhan yang turun, karena saya-"


" Terima kasih, Lena. Maaf merepotkan mu."


Lena tersenyum tipis.


" Dania itu bukan hanya teman bagi saya, Pak. Dia adalah keluarga saya. Selama saya bisa, saya akan membantunya."


Setelah berkata seperti itu, Lena dan Reyhan pun pergi dari ruangan itu. Kini hanya tertinggal Fatma dan juga Pram yang menunggui Dania.


" Mi, mami pulang aja. Biar Pram sendiri yang menunggu Dania. Kasihan Cilla, Mi."


" Kamu gak apa-apa sendirian?"


Fatma pun pergi setelah sebelumnya mencium kening Dania. Kini di ruangan vvip itu hanya ada Pram dan Dania. Pram menggenggam tangan Dania, lalu menciumnya. Kini dirinya sadar, bahwa kenapa akhir-akhir ini, Pram sangat suka membelai perut rata Dania. Ikatan batin antara dirinya dan calon anaknya yang membuatnya ingin melakukan itu.


" Maafkan Papa, Sayang. Karena ketakutan Papa, Bunda sampai merahasiakan keberadaan kamu. Maafkan Papa yang tidak peka akan kehadiran mu. Maafkan kebodohan papa, Nak. Maaf."


Air mata Pram menetes di pipinya. Sambil terus membelai perut Dania, tak henti-hentinya Pram meminta maaf.


Tak sedetik pun, Pram melepas genggaman tangan Dania. Bahkan Pram tertidur sambil duduk, dan kepalanya bersandar pada ranjang Dania. Dania yang mulai sadar, pun merasa sebelah tangannya kebas. Dania menggerakkan tangannya, dan Pram yang merasa pergerakan itu, langsung membuka matanya. Dan di lihatnya Dania yang sudah sadar.


" Sayang, kamu sudah sadar? Mas panggilkan dokter ya?"


Pram memencet tombol untuk melakukan panggilan terhadap dokter yang menangani Dania. Tak lama dokter pun datang untuk memeriksa Dania. Setelah melakukan pemeriksaan dan bertanya beberapa hal, Dokter pun kembali. Kini hanya ada Dania dan juga Pram disana.


Pram menatap dengan tatapan rasa bersalah pada Dania.


" Maafkan, Mas."

__ADS_1


Dania melihat ke arah Pram. Lalu mengalihkan pandangannya.


" Maafkan Mas, Sayang. Maafkan Mas yang tidak peka terhadap keadaan kamu. Maafkan Mas yang sudah berpikiran buruk terhadap kamu. Maafkan-"


" Aku mau kita pisah aja, Mas."


Bagai disambar petir, Pram mendengar penuturan Dania. Pram tak ingin kehilangan Dania. Pram menggelengkan kepalanya dengan cepat.


" Enggak, enggak Dania. Mas gak mau. Sampai kapan pun Mas gak akan mau."


Air mata Dania jatuh. Namun Dania tak ingin menatap Pram.


" Kamu gak menginginkannya, Mas. Aku gak mau, jika nantinya dia akan merasakan kalau kehadirannya memang tak di inginkan. Maka lebih baik, kita berpisah dari sekarang, setidaknya dia tidak terlalu terluka jika nanti dirinya hanya memiliki satu orang tua yang menginginkan nya."


Dania berkata di sela isak tangisnya. Rasanya terlalu lelah untuk memikirkan bagaimana nasib anaknya nanti, jika Papa kandungnya pun tak menginginkan kehadiran nya.


Sedangkan Pram mencoba menekan ego nya untum tidak berdebat dengan Dania. Kondisi Dania yabg sangat lemah, membuatnya tidak ingin membantah ataupun mengindahkan alasan Dania yang mengingatkan perpisahan.


" Kamu gak boleh banyak berpikir, Sayang. Sebaiknya kamu istirahat. Kesehatan kamu jauh lebih penting. Nanti kita bicarakan lagi, setelah kamu benar-benar sehat dan pulih."


Pram mengalihkan pembicaraan. Pram membenarkan letak selimut Dania, sambil menyeka air mata yang jatuh di ujung mata Dania.


" Istirahatlah, Mas akan duduk disini. Mas mohon jangan berpikir yang tidak baik untuk saat ini. "


Dania kembali diam dan tak ingin menatap Pram. Pram yang paham akan hal itu, membiarkan Dania meredakan emosinya. Walaupun sebenarnya dirinya sangat sedih, Dania tak ingin menatap wajahnya. Dania pun kembali memejamkan matanya, sedangkan Pram tak dapat kembali tidur,setelah mendengar keinginan Dania. Rasanya akan sangat berat kehilangan seorang Dania.


" Sampai mati pun, Mas tidak akan melepaskan kamu, Sayang. Mas akan terima setiap hukuman yang kamu berikan, tapi tidak dengan perpisahan. Jika memang kita harus berpisah, maka kematianlah yang akan memisahkan kita." Gumamnya.


.


. **Assalamualaikum...


Minal aidzin Wal Faizin


Mohon maaf lahir dan batin


Selamat hari raya Idul Fitri 1443 H


Terima kasih readers tersayang. 🥰🥰🥰❤️❤️

__ADS_1


Dan aku mohon untuk dukungan, like, vote,dan giftnya ya...☺️☺️☺️


Terima kasih...love you all...🥰🥰🥰😘😘😘**


__ADS_2