
Pram membuka ponselnya, dan memesan makanan di salah satu aplikasi pesan antar. Sedangkan Dania langsung memaki piyamanya. Dan kembali menggerai rambutnya.
" Tumben di gerai terus rambutnya?"
Ucap Pram sambil tersenyum jail. Sedangkan Dania berdecak kesal.
" Ini karena ulah kamu. Pantes aja, Mami, mbak Ratih, mbok Sri semua senyum-senyum lihat aku. "
Pram tertawa melihat Dania yang kesal. Lalu kembali memeluk tubuh Dania dari belakang.
" Dan.."
" Hm..."
" Mengenai perjanjian itu..."
Dania segera membalik tubuhnya. Lalu menatap mata Pram. Dan tersenyum.
" Gak apa-apa, Mas. Kalau mas mau melanjutkan isi perjanjian itu. Aku terima."
Pram mengangkat dagu Dania. Dan menatap matanya dalam.
" Aku ingin membatalkannya. Aku ingin kita memulai rumah tangga ini dengan selayaknya. Tidak ada perjanjian apapun. Apa kamu mau, Dania?"
Mata Dania berkaca-kaca. Dan Dania pun langsung memeluk Pram. Walau Pram belum menyatakan isi hatinya. Tapi Dania bahagia. Rumah tangganya bukan rumah tangga kontrak.
Pram melerai pelukan dan kembali bertanya pada Dania. Dan Dania pun mengangguk mengiyakan. Pram kembali memeluk Dania. Hatinya pun menghangat, karena Dania mau menerimanya.
Pram bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Dirinya memang ingin membangun rumah tangga yang semestinya, tanpa ada ikatan kontrak di antara mereka. Pram percaya, Dania adalah wanita yang tepat untuknya. Saat mereka masih saling memeluk, suara dari perut Dania kembali terdengar. Membuat Pram melepas pelukannya dan menatap Dania yang tampak tertunduk malu.
" Ayo kita turun, sepertinya cacing kamu sudah meronta semua."
Pram menggandeng tangan Dania. Dan saat mereka batu saja tiba di ruang makan, tak lama pesanan Pram pun datang. Security rumah Pram yang menghantarkannya.
Pram mengambil makanan itu, dan menghidangkannya di hadapan Dania. Ada sup buntut, ikan bakar, cumi pedas manis dan juga capcay.
" Mas, kenapa pesan sebanyak ini?"
" Ya sudah, kita bagi sama Pak satpam aja."
__ADS_1
Dania pun mengangguk, lalu mengambil sebuah rantang dan mengisinya dengan sebagian makanan yang di pesan oleh Pram. Tak lupa juga mengisi nya dengan nasi.
" Biar aku antar ke pak Satpam ya, Mas."
Namun Pram mencekal tangan Dania. Lalu memintanya untuk duduk.
" Biar Mas aja, Dania. Makanlah. Sudah sangat terlambat untuk makan siang."
Dania pun mengangguk. Lalu mengisi piringnya dan piring Pram dengan nasi serta lauk pauknya. Saat Dania selesai mengisi, Pram pun sudah kembali dari mengantar makanan. Kini mereka menikmati makan siang yang kesorean itu.
Dania membersihkan peralatan makan yang baru saja di pakai oleh mereka. Sedangkan Pram menuju lantai dua, dan masuk ke ruang kerjanya. Mengerjakan beberapa pekerjaan yang sudah masuk ke email nya. Sedangkan Dania berjalan ke arah taman belakang. Menikmati semilir angin sore. Hatinya merasa sepi, karena Cilla yang mami mertuanya yang belum menghubunginya.
" Cilla kok belum menghubungi ya?"
Gumam Dania sambil melihat ke arah ponselnya. Semilir angin sore membuai Dania, membuat gadis manis itu memejamkan matanya. Entah berapa lama Dania tertidur di gazebo taman belakang rumah itu, hingga Pram mencarinya. Pram melipat tangannya, dan menggeleng kan kepala melihat Dania yang tertidur disana.
" Kamu menggemaskan, Dania..." Batin Pram.
Pram pun mendekati Dania, membelai wajahnya. Lalu Pram mengangkat tubuh Dania untuk di pindahkan ke dalam kamar. Sedangkan Dania yang masih tertidur pulas tak terganggu sama sekali.
Pram meletakkan Dania di ranjang dengan sangat hati-hati. Lalu menutup tirai jendela, dan menyelimuti Dania. Pram kembali berkutat dengan laptop di pangkuannya. Sedangkan di sisinya Dania sedang tertidur nyenyak.
" Terima kasih. Mandilah, trus kita sholat bersama."
Dania pun mengangguk, lalu masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Dania memandangi wajahnya di depan cermin. Ini sebuah mimpi atau kenyataan. Dania mencubit pipinya sendiri, dan memang ini nyata.
Dania keluar dari kamar mandi, dan sudah menggunakan pakaian nya. Sedangkan Pram sudah rapi dengan Koko dan sarung serta peci yang menghiasi kepalanya. Dania mengambil mukenah lalu memakainya. Sambil menunggu kumandang Adzan, Pram dan Dania mengaji bersama. Terlihat sangat romantis, begitu pula dengan Pram. Pram merasa saat ini adalah saat paling indah di hidupnya.
Saat mendengar kumandang Adzan. Dania dan Pram menyelesaikan kegiatannya. Lalu mereka pun memulai sholat. Di imami oleh Pram. Hati Dania menghangat saat ayat-ayat suci terdengar lantang keluar dari bibir Pram.
Setelah mengucapkan salam, kini Dania menjulurkan tangan pada Pram. Dania mencium takzim tangan Pram, sedangkan Pram mendarat kan ciuman yang lama di kening Dania. Kedua insan ini, mencoba memulai kehidupan rumah tangga yang sebenarnya.
Setelah menyusun alat sholat, Pram dan Dania pun kembali keluar rumah untuk mencari makan malam.
" Kita ke cafe aku aja, Mas."
" Dania, Mas masih sanggup untuk membelikan kamu makanan."
" Bukan begitu, aku masih kenyang. Aku cuma pingin makan, makanan ringan aja."
__ADS_1
" Oke, tapi kita di ruangan kamu aja, ya."
Dania mengangguk. Setibanya di cafe, ternyata suasana Cafe cukup ramai. Dania langsung menuju pantry, dan Pram langsung menuju ruang kerja Dania.
Dania memesan beberapa makanan dan meminta karyawan nya membawa ke ruangannya. Pram masih menunggu Dania dari lantai dasar, karena ruangan itu terkunci, jadi Pram tak bisa masuk.
" Maaf ya, Mas. Kuncinya di aku. "
Pram hanya tersenyum. Dan Dania pun membuka ruangannya. Pram dan Dania pun kembali duduk di karpet. Selonjoran. Mereka berdua sama-sama saling menggenggam tangan. Sedangkan Pram sesekali mencium punggung tangan Dania. Pram bersikap terlalu manis malam ini. Membuat Dania salah tingkah.
" Kita kayak ABG ya. Padahal udah tua."
" Yang tua itu kamu, mas. Aku sih masih muda."
Pram tertawa mendengar perkataan Dania. Lalu kembali menatap wajah Dania.
" Apa impian mu?"
Dania menoleh sesaat pada Pram. Lalu tersenyum.
" Aku cuma ingin menjadi berguna bagi orang lain, Mas."
" Hanya itu?"
"Hum.." Jawab Dania sambil mengangguk.
" Apa kamu gak memimpikan sebuah pesta pernikahan seperti yang di impikan para wanita gitu? Atau honeymoon kemana gitu?"
Dania menipiskan bibir nya. Lalu menggeleng.
" Aku gak ingin menjadi pengantin yang menyedihkan mas. Karena aku yatim piatu. Keluarga pun tidak ada, hanya nenek dan kakek aja."
Ucap Dania dengan air mata yang menetes. Pram lalu mengusap air mata di pipi Dania.
" Sekarang kamu punya aku. Jangan pernah merasa sendiri lagi. Aku ada untuk kamu..."
Dan kembali Pram menautkan bibir nya bibir dengan .Dania. Saat mereka masih menautkan bibir, karyawan Dania masuk, karena melihat pintu ruangan Dania yang terbuka lebar.
" Maaf...Bu, Pak..."
__ADS_1