Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 36


__ADS_3

Pram langsung duduk di meja yang mereka tempati, Kini tangan pria itu sudah melingkar di pinggang ramping Dania. Membuat Dania terkejut. Tapi berbeda dengan Reyhan. Lelaki itu tampak menunjukkan wajah tak sukanya.


" Siapa yang minta kamu manggil dia Aa'?"


" Hm...itu, Pak Riko, Mas."


Pram mendecih, lalu memutar matanya. Sementara Riko tersenyum mengejek.


" Gak pantes Lo, di panggil Aa'. Lo pantesnya di panggil kakek."


" Gue gak setua itu, Bambaaannnggg..."


Melihat tingkah kedua orang itu, membuat Dania mengulum senyum. Ternyata Pram bisa juga bercanda dengan para sepupunya. Namun Dania melihat Reyhan dan Pram yang saling pandang dengan tatapan permusuhan.


Setelah mereka bercengkrama, kini para sahabat Pram dah Chelsea juga hadir di acara itu. Pram dan Riko pun bergabung dengan teman semasa kuliah dulu, mereka bernostalgia, bisa di bilang pernikahan ini menjadi ajang reuni dadakan bagi mereka.


Melihat Pram dan Riko yang sedang bercengkrama dengan teman-teman nya, Dania memilih untuk ke salah satu sudut ruangan. Sedangkan Cilla sedang bersama sang Oma. Dania duduk menyendiri, tak lama Reyhan datang menghampiri Dania.


" Kok menyendiri, Dan?"


Dania yang merasa mengenal suara itu pun, melihat ke sampingnya. Dan Reyhan sudah duduk di sebelahnya.


" Eh, Mas Reyhan. Mas Pram dan Pak Riko sedang bersama teman-temannya. Aku gak kenal dan gak paham pembicara mereka."


Reyhan mengangguk, Reyhan pun memilih menemani Dania. Mereka berbincang, sifat Reyhan yang hangat dan bisa mencairkan suasana membuat Dania sesekali tertawa. Begitu juga Reyhan senyum terus terkembang selama perbincangan itu terjadi.


Pram memang sedang berbincang dengan temannya, tapi sesekali pandangan Pram melihat ke arah Dania. Saat Dania masih duduk sendiri, Pram tak begitu mengkhawatirkan nya. Namun saat Reyhan hadir dan mereka berbincang dan membuat Dania tertawa, membuat perhatian Pram terbagi dua. Riko yang memahami langsung tersenyum penuh arti.


" Kau sudah jatuh cinta pada Dania, tapi kau membohongi dirimu sendiri, Pram..Lihat saja, saat Dania tau semua ini, dan dia pergi darimu, maka kau akan menyadarinya, bahwa hatimu sudah jatuh padanya, dan kau akan sulit meyakinkannya kembali.." Batin Riko.


Pram sesekali melirik lagi ke arah Dania dan Reyhan. Sepertinya obrolan mereka begitu asik sampai Dania tertawa dan sesekali mendaratkan tangannya di lengan Reyhan. Entah apa pembicaraan mereka. Tapi yang jelas, Pram sangat kesal dengan tawa Dania.


Pram pun akhirnya undur diri dari sekelompok temannya. Lalu menghampiri Dania yang masih asik tertawa dengan Reyhan.


" Sepertinya pembicaraan kalian sangat asik ya. Sampai tidak sadar ada aku disini."


Dania dan Reyhan menatap ke arah Pram.


" Mas.."


" Baiklah, Dani. Aku pergi dulu. Lain kali kita lanjutkan lagi pembicaraan kita ya?"


Dania mengangguk, lalu melambaikan tangannya. Bersamaan dengan Reyhan pergi dan melambaikan tangannya pada Dania. Pram duduk di kursi yang di duduki oleh Reyhan tadi.

__ADS_1


Pram mengamati Dania yang masih menatap ke arah Reyhan melangkah. Hingga akhirnya Pram berdehem. Membuat Dania melihat ke Pram


" Mas kenapa? "


" Gak apa-apa. Ayo kita makan. Kamu belum makan kan?"


Dania menggeleng, saat akan melangkah, Fatma dan Cilla menghampiri mereka.


" Pram, mami pulang sekarang ya?"


" Loh, kenapa Mi?"


" Pram, Oma kamu menelpon mami, katanya kangen sama Cilla. Mami mau kesana. Kamu tau sendiri kan, Oma kamu bagaimana. Bisa-bisa dia ngambek dan ujung-ujungnya masuk rumah sakit lagi."


" Tapi kan harus malam ini juga mami berangkat ke Singapura kan? Besok pagi kan bisa. Ini udah malam loh, Mi."


" Iya, tapi mau mami kemas-kemas dulu. Lagian Mbok Sri juga belum mami beri tau."


" Mbok Sri ikut mami?"


Tanya Dania. Fatma tersenyum.


" Iya sayang, mbok Sri ikut. Biar ada yang bantuin mami jagain Cilla. Kamu gak apa-apa kan mami tinggal. Nanti kamu bisa nyusul bareng Pram."


Dania mengangguk. Tapi wajahnya tampak sedikit sedih.


Tanya Cilla membuat Dania mengerjakan matanya dan tersenyum. Pram pun lebih dulu menggendong Cilla saat dirinya melihat gerakan Dania yang akan mengangkat putrinya itu.


" Cilla senang akan ikut Oma?"


Cilla mengangguk sumringah. Membuat Dania pun ikut tersenyum. Lalu mereka pun berpamitan kepada pemilik acara lalu pulang ke rumah.


Dania hanya diam sambil memangku Cilla. Fatma yang tahu perasaan Dania, memegang pundaknya.


" Nanti kalau kamu kangen. Kamu bisa menyusul bareng Pram, Sayang. Oma pasti senang bertemu dengan kamu."


Dania hanya menipiskan bibirnya. Lalu membelai rambut keriting putri kecilnya itu. Sedangkan Cilla tampak sudah tertidur di pangkuan Dania. Sepertinya tidur di pangkuan Dania menjadi hobi baru Cilla.


Setibanya di rumah, dan setelah supir memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Pram lebih dulu turun. Pintu bagian Fatma di bukakan oleh Supir, sementara di bagian Dania di bukakan oleh Pram.


" Biar saya aja, Pak. Bapak bis langsung pulang. Dan ini untuk bapak."


Pram memberikan dua lembar pecahan berwarna merah.

__ADS_1


" Gak usah, Den. Ini kan memang tugas saya."


" Gak apa-apa, Pak. Ambil aja."


Supir keluarga itu pun merasa sangat segan. Tangannya masih diam, tak berani mengambil pemberian Pram.


" Ambil aja, Pak Budi. Rezeki gak boleh di tolak."


Fatma menimpali. Pak Budi sopir keluarga mereka. Dan sudah sangat lama bekerja dengan keluarga Pram.


" Terima kasih Den. Nyonya. Saya pamit."


Dania masih berada di dalam, saat Pram memberikan sedikit tambahan untuk Pak Budi. Dania hanya menyaksikan interaksi itu. Lalu Pram mengambil Cilla dari pangkuan Dania. Saat Cilla sudah dalam posisi nyaman. Pram pun menjulurkan tangannya ke arah Dania.


" Ayo masuk. "


Dania mengangguk. Lalu menerima uluran tangan itu. Mereka masuk dengan saling bergandengan tangan. Pram meminta Mbok Sri untuk menggantikan baju Cilla. Sedangkan Dania dan Pram masuk ke kamarnya.


Pram langsung membuka jas yang dipakainya menyisakan kemeja yang kini sudah tergulung sampai siku. Pram berjalan ke arah balkon kamarnya menikmati semilir angin malam. Pram mengambil sebatang rokok lalu menyulut nya.


Sampai rokoknya habis, Dania belum juga keluar dari kamar mandi, membuat Pram mengerutkan keningnya. Pram masuk dan mengetuk pintu kamar mandi.


" Dan... Dania...kamu gak apa-apa kan? Dan .."


Pram memanggil Dania yang ada di dalam kamar mandi. Sedangkan Dania yang ada di dalam kamar mandi tengah kebingungan, pasalnya resleting gaun yang di pakainya macet, dan membuat Dania kesulitan menurunkan resleting gaun itu.


" Iiiya mas ..aku gak apa-apa..."


" Trus kenapa lama? Nanti kamu masuk angin Dania."


Dania pun membuka pintu kamar mandinya, Dan menunduk, bibirnya melipat dan terlihat kebingungan. Pram pun yang melihat Dania kebingungan mengerutkan keningnya.


" Kenapa kamu belum ganti baju?"


" Mas...itu ..hm.."


" Apa Dania?"


" Mas, boleh panggilkan mbok Sri atau mbak Ratih?"


" Untuk apa?"


" Hm...resleting gaun aku macet, jadi aku gak bisa membukanya."

__ADS_1


Dania menunjukkan bagian belakang tubuhnya. Dan benar saja, resleting itu belum seutuhnya turun. Punggung mulus Dania sedikit mengintip. Membuat Pram meneguk salivanya.


Glek...


__ADS_2