
Pagi ini, setelah berpikir semalaman, Tari akhirnya menemui Riko diruangannya.Riko menjawab ketukan dari Tari tanpa menoleh sedikit pun dari berkas yang ada di hadapannya.
" Ada apa, Tar?"
Riko bertanya tanpa melihat ke arah Tari.
" Saya mau menikah dengan Bapak."
Riko menghentikan gerakan tangannya. Bahkan pena yang ada di tangannya pun terjatuh. Riko menatap Tari tak percaya. Namun senyuman terbit di bibirnya.
" Kamu serius??"
" Kalau Bapak mau mundur, saya juga gak apa-apa. Saya permisi, Pak."
Tari langsung balik badan. Dan dengan cepat Riko menarik tangan Tari. Hingga tubuh Tari menabrak tubuh bidang Riko.
" Tidak, Aku bahagia. Akhirnya kamu mau menerima pernikahan ini. Sekarang kamu tulis surat pengunduran diri kamu. Dan serahkan pada HRD. Sekarang."
Ucap Riko sambil membimbing Tari untuk duduk di kursinya. Merasa tindakan Riko berlebihan, Tari pun akhirnya mencekal tangan Riko.
" Saya akan tetap bekerja. Dan pernikahan ini hanya di langsungkan sesederhana mungkin. Tidak ada pesta, ataupun tamu undangan lain. Selain keluarga inti. Apa bapak terima?"
Riko diam sejenak. Menatap heran pada wanita yang berdiri di hadapannya.
" Setiap wanita itu punya pernikahan impian. Dan aku akan mewujudkan itu. Untuk kamu, Tari."
Tari menggeleng.
" Pernikahan impian saya sudah musnah. Sekarang saya menikah hanya untuk Dia."
Ucap Tari lirih dan menunduk ke arah perutnya. Riko langsung menatap sendu. Riko sadar ini adalah kesalahannya.
" Maafkan aku, Tar."
Ucap Riko dengan nada sangat menyesal. Sedangkan Tari tampak menyeka ujung matanya. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Saya sudah selesai bicara. Saya permisi."
Namun beberapa langkah, tubuh Tari sedikit limbung, membuat Riko segera memegang Tari dan membantunya untuk dudu k di sofa yang ada di ruangan nya. Bahkan Riko langsung menelpon Reyhan. Walau dengan sedikit kesal, akhirnya Reyhan pun datang ke kantor Riko saat itu juga.
" Lo kebiasaan memang ya Ko. Sejenak jidat Lo aja. Lo gak tau, gue baru aja seneng. Udah Lo ganggu aja."
__ADS_1
" Gak usah ngomel kayak emak-emak kurang belanja deh. Sekarang Lo periksa aja calon istri gue."
Ucap Riko saat melangkah ke ruangannya. Karena Riko tadi langsung menunggu Reyhan di bawah. Reyhan masuk ke ruangan Riko dan melihat Tari yang terbaring lemah disana.
" Gilak Lo. Kenapa gak langsung di bawa ke rumah sakit, Ko. Tari pucet banget gini."
Saat Reyhan akan mengangkat tubuh Tari. Riko langsung mendorong tubuhnya kesamping. Membuat Reyhan mengaduh .
" Apaan sih Lo, Ko. Maen dorong-dorong aja."
" Lo yang apa-apa an. Enak aja maen gendong istri orang."
Reyhan mendecak kesal.
" Calon Ko. Masih CALON.."
Riko tak memperdulikan ucapan Reyhan. Lalu dengan cepat mengikuti langkah Riko yang sedang menggendong tubuh Tari. Karyawan yang melihat Riko keluar dari lift dengan menggendong Tari pun saling berbisik.
" Rey... cepeeettt...lelet amat sih Lo."
" Iya..iya, dasar sepupu luck nut."
Setibanya di rumah sakit, Tari langsung mendapat perawatan. Dokter kembali mengingatkan kondisi Tari.
" Kondisi pasien sangat lemah, Pak. Tolong jangan buat pasien berpikir terlalu keras, apalagi sampai tidak bisa tidur. Ini sangat berpengaruh untuk kesehatan janin yang di kandungnya. "
Dokter perempuan yang sudah berusia lima puluhan itu pun mengingatkan Riko. Setelah memberikan penjelasan, dan mengatakan bahwa sebentar lagi Tari akan di pindahkan ke ruang perawatan, Dokter yang bernama Isma itu pun pamit.
Reyhan menepuk pundak Riko.
" Emang kenapa lagi sih?"
Riko pun akhirnya menceritakan semuanya. Awal dari makan siang kemarin hingga pagi ini. Dan membuat dirinya manggut-manggut.
" Selamat ya. Dan tau gak Lo, ternyata istri gue ngidam. Makanya dia minta mangga muda Lo. Jadi ntar kita punya anak cuma beda dua bulan doang."
Riko dan Reyhan pun saling berpelukan. Tak lama tampak perawat membawa ranjang Tari. Tari masih dalam keadaan tertidur. Setibanya di ruangan, Riko pun segera menghubungi Bundanya. Serta Fatma Tante nya. Sebelum menutup panggilan, Riko sempat berpesan pada Bundanya untuk membuatkannya sayur asem. Aneh. Tapi itulah yang terjadi.
Hampir satu jam kemudian, Delila dan Fatma datang. Tampak Riko sedang menatap layar laptopnya. Dan jarinya mengetik sesuatu di sana. Setelah menjawab salam dari Bunda dan Tantenya, Riko langsung bertanya tentang pesanannya.
" Bun, Sayur asem nya mana?"
__ADS_1
" Nih..."
Delila langsung menyerahkan wadah yang berisi sayur permintaan Riko itu. Tak lupa ada nasi juga ayam goreng sebagai pelengkap dan sambel terasi.
" Tante, Bunda, Riko makan dulu ya. Udah gak sabar banget."
Delila dan Fatma saling pandang. Dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Riko langsung makan dengan lahap. Sementara Delila menatap calon menantunya yang kini tengah tertidur efek dari obat yang di berikan. Di tangan kirinya terpasang infus. Delila membelai rambut Tari dan mencium keningnya.
Setelah selesai makan, Riko pun langsung mengajak Bunda dan Tante nya itu bicara. Tidak di ruangan itu, karena Riko tak ingin Tari terganggu. Mereka pun berbicara di luar ruangan Tari. Nun sesekali Riko memperhatikan Tari dari kaca yang ada di pintu.
" Ya sudah, kita turuti aja maunya Tari. Kalau soal dia masih mau kerja, nanti bisa kita bujuk lagi. Yang penting saat ini, kamu tetap jagain Tari. Ingat Riko, Tari adalah ibu dari calon anak kamu. Walau kamu tidak mencintainya, tapi Tante minta kamu jangan menyakiti dirinya lagi."
Riko mengangguk, namun hatinya terasa sakit, saat Tante Fatma menyebut Riko menikahinya bukan karena Cinta. Setelah pembicaraan itu selesai. Mereka bertiga pun kembali masuk ke ruangan Tari.
Ada raut bahagia di wajah Delila. Akhirnya Tari mau menikah dengan Riko. Setelah menunggu hampir satu jam. Tari pun bergerak, menandakan dirinya mulai terbangun. Delila langsung menghampiri ranjang Tari. Dan berdiri di dekatnya. Tari mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk.
" Sayang, kamu sudah bangun?"
Tanya Delila lembut pada Tari. Tari langsung mengangguk. Saat Tari akan bangkit, Delila melarangnya.
" Kamu mau apa, Sayang?"
" Tari mau minum, Tante. Tari haus."
Delila pun membantu Tari minum menggunakan sedotan. Sedangkan Riko yang baru saja kembali dari kantin, langsung menghampiri Tari.
" Kamu udah sadar? Mau makan? Atau mau minum? Kamu mau roti? Atau biskuit? Makan buah ya? Iya...mau ya?"
Begitu banyak rentetan pertanyaan dari Riko. Membuat Tari hanya menggeleng kepalanya.
" Kamu harus makan, demi dia."
Riko berusaha membujuk Tari. Sedangkan Delila dan Fatma hanya menonton apa yang di lakukan oleh Riko.
" Kayaknya putramu sudah jatuh cinta sama Calon istrinya. Dari perhatiannya aja aku percaya, sebentar lagi Riko bakalan bucin sama Tari."
Bising Fatma pada Delila yang di jawab dengan anggukan oleh Delila.
" Sepertinya kebucinan Pram pada Dania, bakalan nurun sama Riko ini Mbak."
Jawab Delila kemudian. Membuat Kedua wanita yang sudah tak lagi muda itu tertawa pelan.
__ADS_1