Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 57


__ADS_3

Satu harian ini, Dania merasa bahagia. Bahkan rasa kesalnya terhadap Pram pun menguap begitu saja. Setelah memeriksakan diri di rumah sakit, dan mendapatkan hasil USG anak mereka, kini Dania telah mempersiapkan sebuah kotak yang berisi hasil testpack dan hasil USG.


" Sehat-sehat terus ya sayang. Kita kasih kejutan ke papa. Bunda yakin, papa akan bahagia."


Ucap Dania saat membelai perutnya yang masih rata. Usia kehamilannya baru menginjak 4 Minggu, tentu saja, masih panjang waktu untuk menyambutnya kehadiran buah hati mereka.


Dania memarkirkan mobilnya tepat bersebelahan dengan mobil Pram. Dania pun melangkah ringan masuk ke dalam rumah. Tidak ada siapapun. Saat Dania membuka kamar pun, Pram tidak ada disana. Namun Dania dapat melihat pintu ruangan kerja Pram terbuka sedikit. Dania mendengar suara mertua dan juga suaminya di sana. Entah apa yang mereka bicarakan. Dania mematung di depan pintu saat mertuanya melontarkan pertanyaan pada suaminya.


" Pram, apa kamu merasakan perubahan Dania akhir-akhir ini. Mami rasa, ada sesuatu pada Dania.."


" Maksud mami?"


" Pram, sepertinya Dania sedang mengandung. Mami dapat melihat perubahan di dirinya. Masa kamu enggak sich?


Dania tersenyum di balik pintu ruangan itu. Dirinya bahagia, ternyata mertuanya sangat memperhatikan perubahan yang terjadi dirinya.


Terdengar Pram menghembuskan nafasnya.


" Mi, Pram tidak ingin punya anak lagi."


Jeddeeeerrrrr....


Ucapan Pram sukses membuat senyuman itu menguap begitu saja dari bibir Dania. Rasanya Dania tak pernah menyangka, bahwa Pram akan berkata seperti itu.


" Apa maksud kamu, Pram? Kamu menikah dengan Dania. Sudah pasti kamu akan memiliki anak darinya. "


Suara Fatma terdengar meninggi.


" Mi, Pram gak mau nambah anak lagi. Cilla sudah cukup bagi kami."


Ucap Pram kemudian. Lalu Fatma mendengus kesal.


" Apa kamu sudah bicara dengan Dania? Apa dia setuju?"


Pram menggeleng.


" Pram belum bicara, tapi Dania pasti akan setuju Mi. Pram gak mau, Mi. Pram gak menginginkannya."

__ADS_1


Hancur sudah, Dania merasa dunianya hancur. Suaminya tak menginginkan anak dari nya. Air mata Dania luruh begitu saja. Di genggam nya erat kotak kecil yang tadinya akan di berikan nya pada Pram.


" Pram kamu keterlaluan. Mami gak nyangka, kamu bisa setega itu. Kamu gak bisa memaksakan ini. Pikirkan perasaan Dania. "


Fatma mulai terbawa emosi, membuat Dania semakin tersentuh dengan kebaikan mertuanya itu. Dania memilih masuk ke kamar, lalu mengguyur tubuhnya di bawah shower untuk menutupi tangis kecewa nya. Pram tak menginginkan anak darinya.


Sementara Pram dan Ibunya masih saling berbicara di ruang kerja Pram.


" Pram, anak itu adalah anugrah. Tapi kenapa kamu tidak menginginkan nya?"


" Mi...pram punya alasan sendiri."


" Katakan apa alasan kamu? Mami mau dengar. Ayo..."


Kali ini Fatma sedikit emosi. Membuat Pram semakin bingung. Tidak biasanya ibu nya terpancing emosi.


" Pram kalau alasan kamu, karena kamu belum yakin dengan hatimu, jangan pernah salahkan siapapun, jika nanti Dania pergi dari hidupmu membawa sebagian darimu."


Fatma pun keluar dari ruang kerja Pram. Dan masuk ke kamarnya. Di dalam kamar nya itu, Fatma menangis.


Flashback on


" Hallo, Ko."


Namun Fatma mendengar pembicaraan mereka. Fatma tersenyum bahagia. Cucu yang di idam-idamkan nya akan hadir. Setelah mengetahui hal itu, Fatma pun segera memutus panggilan. Namun tak lama, Fatma pun menghubungi Riko kembali.


" Assalamualaikum, Tante."


" Waalaikumsalam, Riko. Riko, Tante mau tanya. Tapi Tante minta kamu jawab dengan jujur."


" Ya , Tante ku, Sayang. Ada apa?"


" Apa benar, Dania hamil? Kamu jangan bohong. Tante sudah mendengarnya tadi. Saat kamu menghubungi Tante."


Dan pada akhirnya Riko pun menceritakan semuanya. Fatma bahagia. Dan saat tadi dirinya ingin memberitahukan mengenai kondisi Dania, namun jawaban Pram membuat Fatma terluka.


Flashback off.

__ADS_1


Sementara Dania melangkah dengan gontai dari kamar mandi. Tak menyangka, Pram tak menginginkan buah cinta dari dirinya. Dania segera menyeka air mata yang jatuh. Dan membelai lembut perutnya yang masih rata.


" Bunda menginginkan mu, Nak. Kamu harus kuat dan bertahan. Bunda sayang kamu."


Dania segera memakai pakaiannya, bertepatan dengan Pram yang masuk ke kamar. Pram menatap ke arah Dania. Ada perubahan di mata Dania.


" Sayang,.kapan kamu pulang?"


Pram mendekati Dania, namun Dania menghindar. Dania memilih memakai pakaiannya ke dalam kamar mandi. Lagi-lagi air mata Dania jatuh.


Dania keluar kamar mandi, dan Pram sedang mengotak-atik ponselnya. Melihat Dania di depan pintu, Pram pun segera meletakkan ponsel itu di atas nakas.


" Sayang, tolong dengarkan penjelasan, Mas. Mas gak mau masalah ini berlarut-larut."


Pram memegang tangan Dania yang hendak berlalu. Dania pun berbalik ke arah Pram. Menatap dingin lelaki yang telah menjadi suaminya sejak dia tahun lalu ini.


" Penjelasan apa? Membenarkan sikap kamu yang selalu mendahulukan perasaan wanita itu?"


" Bukan seperti itu, Dania..."


Dania menyungging senyumnya. Lalu tertawa getir.


" Seandainya, aku yang ada di posisi kamu. Seorang lelaki memelukku, apa kamu terima?"


" DANIA..."


Pram meninggikan suaranya. Membuat Dania bergetar dan terkejut. Pasalnya baru kali ini, Dania mendapatkan perlakuan seperti itu. Jika dulu, Dania tak pernah peduli, berbeda dengan sekarang. Hatinya sangat terluka.


Dania mundur selangkah, Pram yang menyadari hal itu, segera mendekati Dania, dan ingin memeluknya. Namun Dania menaikan satu tangan, memberi isyarat agar Pram tidak mendekat. Air mata Dania luruh seketika itu juga. Terluka, kecewa ,sedih, dan marah semua menjadi satu.


Dania melangkah pelan, lalu naik ke ranjang. Di tutupnya tubuhnya dengan selimut. Dan Pram sangat tahu, saat ini Dania tengah menangis di sana. Pram mendekat ke sisi ranjang, dimana Dania menenggelamkan diri di balik selimut.


Pram lepas kendali, dan berakibat fatal. Dirinya membentak Dania. Bahkan suaranya sangat kuat saat itu. Pram ingin membelai Dania, namun tangannya berhenti di udara. Pram meremas rambutnya sendiri, dan menyesali perbuatannya. Membentak dan meninggikan suara di hadapan Dania. Sungguh itu di luar kendalinya.


Pram menyesal, apalagi saat melihat tubuh Dania bergetar. Rasa bersalah semakin menyelimutinya. Pram masih melihat tubuh Dania bergetar. Dirinya sadar sudah sangat keterlaluan terhadap Dania.


" Maafin Mas, Sayang."

__ADS_1


Pram berkata lirih. Hatinya sangat sakit melihat Dania yang menangis. Lelaki yang seharusnya menjadi sandaran saat dirinya menangis tapi kini dia lah yang menyebabkan air mata Dania jatuh. Cukup lama Pram berada di sisi Dania. Namun tak berani menyentuh nya. Pram melihat selimut Dania berhenti bergetar, saat membukanya, Pram semakin merasa bersalah, Dania tertidur di sela tangisnya. Bahkan air mata masih jatuh dari sudut matanya.


" Maafin mas...Sayang..."


__ADS_2