Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 82


__ADS_3

Sementara di ruangan bersalin, Dania tengah memperjuangkan hidupnya. Dan Pram kembali di hadapkan dengan adegan yang membuatnya trauma. Menemani istrinya melahirkan buah cinta mereka, lalu pergi untuk selamanya. Kenangan itu terus berputar di kepalanya. Dania yang terus menggenggam tangan Dania, melihat dahi Pram yang berkeringat.


" Mas, kalau kamu gak kuat. Kamu keluar aja. Aku gak apa-apa kok. Insha Allah aku kuat."


Pram menatap wajah Dania yang. sedang menahan rasa sakit. Sungguh Pram tak tega. Pram memberikan dirinya untuk menghadapi traumanya.


" Janji sama Mas, Dania. Kamu gak akan meninggalkan Mas sendiri. Mas gak akan sanggup."


Pram tergugu dan meletakkan kepalanya di kedua tangan mereka yang bersatu. Dania mengangguk. Dan Dania kembali meremas tangan Pram saat merasakan kontraksi.


" Dok, bagaimana kalau operasi aja. Saya gak tega melihat istri saya kesakitan."


Namun Dania menggeleng.


" Aku mau lahiran normal, Mas."


Setelah beberapa waktu menahan sakit karena kontraksi, kini Dania pun siap membantu buah cinta mereka untuk melihat dunia. Dania terus mengikuti instruksi yang di berikan oleh dokter yang menangani nya.


" Ayo, Sayang. Kamu pasti bisa, kamu kuat. Ayo.."


Dania terus mengatur nafas, agar dirinya kuat membantu buah cintanya melihat Bunda dan Papanya. Tak lama suara tangis bayi pun terdengar, Pram terus menciumi pucuk kepala Dania. Bahkan Pram menangis sesegukan di dalam ruangan itu.


Dokter dan beberapa perawat yang membantu persalinan Dania pun tersenyum menyaksikan Pram yang sangat mencintai istrinya.


" Selamat ya Bu, Pak. Anaknya laki-laki. Sehat dan selamat."


Dokter wanita itu memberikan kabar pada Dania dan Pram. Bahkan Pram sampai melakukan sujud syukur atas kelahiran dan keselamatan kedua orang yang di cintainya.


Setelah meletakkan baby boy itu di dada nya. Pram pun membelai anaknya dengan sangat pelan. Dan air mata Pram tak hentinya mengalir.


" Pak, ibunya kita bersihkan dulu ya. Bapak bisa tunggu di luar."


Pram pun kembali mengecup Dania bertubi-tubi. Membuat dokter tersenyum menyaksikan itu. Fatma dan yang lainnya masih harap-harap cemas, menunggu Pram keluar dari ruangan itu. Begitu pintu terbuka dan Pram keluar dari sana, Fatma langsung mendekat.


" Bagaimana Pram, bagaimana keadaan Dania dan cucu mami?"


Pram tak menjawab, namun langsung memeluk Fatma dan menangis tergugu di pelukannya.


" Pram, ada apa?"

__ADS_1


" Mi, Pram kembali jadi Papa, Mi. Anak Pram lahir dengan selamat. Begitu juga dengan Dania, Mi. "


" Alhamdulillah..."


Serentak semua orang mengucapkan syukur atas kelahiran dan keselamatan kedua nya. Tak lama, brankar yang membawa Dania keluar dari ruang perawatan. Begitu juga inkubator yang membawa bayi mereka. Walau berat badan bayi boy mereka masih kurang, namun dokter mengatakan bahwa kondisinya sehat.


Fatma langsung mencium Dania yang terbaring di brankar. Dan mengucapkan selamat. Begitu juga dengan Tante Delila dan Tari.


" Selamat ya Sayang."


" Selamat sayangku."


Dania yang masih merasa lemah pun hanya bisa mengangguk sambil menampilkan senyum. Pram terus saja menggenggam tangan Dania saat brankar nya di bawa menuju kamar yang akan di tempatinya untuk beberapa hari ke depan.


Setelah menghantarkan Dania ke kamarnya. Kini Fatma, Delila dan Tari menuju ruang perawatan bayi. Fatma ingin melihat cucu nya. Walau hanya dari kaca pembatas, itu sudah membuat Fatma bahagia. Bayi Pram dan Dania tampak beberapa kali mengerjapkan matanya.


" Selamat datang di dunia Sayangnya Oma. Kamu harus menjadi anak yang kuat. Sekuat Bunda kamu saat hamil dan melahirkan kamu, Sayang. Cepat keluar dari sana ya, Oma sudah tidak sabar ingin menggendong kamu."


Delila mengusap punggung iparnya itu. Memberikan semangat pada Fatma.


" Itu cucu ku, Del. Aku bahagia sekali. Seandainya Mas Sofyan masih ada, pasti dia yang paling bahagia saat ini."


Tari memandang haru kedua wanita yang tak muda lagi itu. Lalu Tari pun teringat Lena dan Reyhan.


" Astaghfirullah..."


Pekik Tari dan membuat kedua wanita itu melihat dan langsung bertanya pada Tari.


" Ada apa, Nak. Kenapa?"


Delila bertanya pada Tari. Dan membuat Tari menyengir kuda.


" Tante, Lena dan Reyhan dimana ya? Apa ketinggalan di lobby rumah sakit? Apa mereka nyasar ya Tante? Duh, mana Tari gak bawa ponsel lagi. Gimana nyarinya tante, kalau temen Tari itu sampe hilang gimana??"


Tari dalam mode panik sendiri. Sedangkan kedua wanita itu, saling pandang dan menggelengkan kepalanya. Bahkan Delila pun sampai tersenyum gemas. Kemudian mencubit kedua pipi Tari yang cubby.


" Mereka ada di IGD, Sayang."


" Hah? kok Tante tau?"

__ADS_1


Fatma terkekeh melihat Tari yang seperti orang kebingungan.


" Sudah, sudah, kamu gak perlu bingung. Sekarang kita kembali ke ruangan Dania aja lagi ya. Temen kamu itu gak bakalan hilang. Ayo."


Delila langsung mengajak Tari pergi dari sana. Kini mereka bertiga sudah ada di ruangan Dania. Tak lama, Om Robert dan Riko pun datang ke rumah sakit.


" Selamat ya Dania. Sekarang sudah menjadi ibu."


Ucapan Riko membuat Dania membulatkan matanya dan melayangkan protes pada Riko.


"Aku memang udah jadi ibu, Riko. Kamu lupa, anak ku yang satunya sekarang ada di rumah?"


Riko menggaruk tengkuknya. Tak lama, Pram, Riko dan Om Robert pun keluar dari ruangan Dania. Mereka ingin membicarakan mengenai Chelsea.


" Pram, semua udah aku urus. Tapi untuk saat ini, Chelsea belum bisa di mintai keterangan. Dia masih berteriak. Memanggil nama kamu. Bahkan tadi di dalam, dia sempat meneriaki nama Dania."


Rahang Pram mengeras, seandainya Chelsea adalah seorang lelaki, mungkin saat ini Pram langsung menuju rumah sakit, dan menghajarnya habis-habisan.


"Gue mau Lo urus dia, gue udah gak mau berhubungan dengan nya lagi. Dasar gila."


Riko mencebik.


" Gila-gila, tapi Lo pernah tergila-gila sama dia. "


Pram membulatkan matanya. Sedangkan Om Robert tampak menahan senyum mendengar celetukan Riko. Lalu Tari pun keluar dari ruangan Dania.


" Mau kemana, Tar?"


" Aku mau ke IGD, Pak Pram. Cuma bingung, IGD nya di sebelah mana."


Riko pun langsung menawarkan diri untuk menemani Tari ke IGD. Robert hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah keponakannya itu.


"Usaha teroooossss....biar lepas tu gelar jomblo di badan Lo."


Ucap Pram saat Riko melewatinya. Membuat Riko langsung memukul kepala Pram.


"Sialan, Lo. Kualat Lo mukul pala orang yang lebih tau dari Lo."


Riko tak menghiraukan ucapan Pram. Bahkan kini dirinya tampak mulai mengakrabkan diri dengan Tari. Kini Tari dan Riko sedang berjalan menuju ruangan IGD. Dan saat tiba di ruangan itu, Lena dan Reyhan tidak ada disana. Lalu Riko membawa Tari menuju ruangan pribadi Reyhan. Saat pintu di buka oleh Riko, tampak Reyhan dan Lena yang saling bertukar Saliva.

__ADS_1


" Lena..."


__ADS_2