Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 76


__ADS_3

Pagi ini Cilla merengek, dirinya sudah tidak betah berada di rumah sakit, itulah alasannya. Pram selalu berusaha tenang menghadapi putrinya itu. Bahkan ketika dokter datang untuk memeriksa, Cilla pun merengek.


" Cilla mau cepat pulang kan? Cilla harus minum obat teratur ya? Biar besok bisa pulang."


Dokter wanita yang bernama Wulan itu menjelaskan dengan sangat lembut pada Cilla.


" Cilla udah gak betah disini. Cilla mau pulang Bu Dokter."


" Iya, kita lihat dulu hari ini ya? Kalau keadaan Cilla makin membaik, sore ini Cilla bisa pulang."


Cilla tampak mulai tenang. Bahkan sarapannya pun sudah habis. Kini hanya tinggal meminum obat yang tersedia. Dania dengan telaten merawat Cilla. Bahkan setelah infusnya di buka, Cilla tak sedetik pun melepaskan Dania.


" Cilla, kasihan Bunda dong, Nak. Dari tadi kamu nempel terus. Bunda juga mau makan, biar Dede bayinya sehat."


Pram kembali membujuk Cilla agar mau melepaskan diri sejenak dengan Dania. Bagaimana pun, Dania butuh asupan nutrisi agar bayi dan ibunya sehat. Namun Cilla benar-benar tak melepaskan diri dari Dania. Hingga akhirnya, Pram berinisiatif menyuapi Dania.


" Aku bisa makan sendiri. Setelah ini, Cilla pasti-"


" Kamu dan anak kita butuh asupan nutrisi, Sayang. Sekarang buka mulut kamu, biar Mas suapin."


Mau tak mau Dania pun menerima suapan itu. Cilla terus memeluk Dania, dan sesekali mengusap perut Dania.


" Dede, Dede lagi bobo ya? Kakak udah gak sabar mau main sama Dede."


" Sabar Sayang. Gak lama lagi, Dede nya lahir."


Pram tersenyum tipis namun sendu di matanya. Dania yang melihat Pram menyeka sudut matanya langsung bertanya.


" Ada apa,Mas?"


"Terima kasih, Sayang. Kamu mau kembali. Walaupun demi Cilla. Mas berterima kasih. Dan maafkan Mas."


Dania menarik sudut bibirnya. Pram mengecup kening Dania. Bertepatan dengan Fatma yang masuk keruangan Cilla. Fatma menatap haru, pemandangan ini membuat hatinya bahagia.


" Oma.."


" Mami.."


Fatma melangkah mendekati Dania. Lalu meletakkan paper bag bawaannya.


" Mami bawa pesanan kamu. Ayo dimakan."


Pram menatap Dania. Terlihat wajah sumringah Dania saat ibu mertua menuruti keinginannya. Cilla berada di pangkuan Oma nya. Dan memperhatikan apa yang di makan Dania.

__ADS_1


Dania tersenyum dan mengucapkan terima kasih, saat melihat seporsi nasi kuning berada di hadapannya. Sementara Pram merasa tercubit.


" Pelan-pelan makannya,Sayang."


Fatma berkata pada Dania, saat melihat menantunya itu begitu antusias memakan nasi kuning yang di bawanya.


" Dari kemarin Dania pingin makan ini, Mi."


Pram dan Fatma saling pandang. Lalu Fatma mendesah pelan. Sedangkan Pram yang berdiri di dekat jendela, mengalihkan pandangannya keluar jendela.


" Kenapa gak bilang sama Mas, kalau kamu pingin makan itu."


Dania menunduk, lalu menatap Pram, dan menarik sudut bibirnya tipis, lalu menggeleng.


" Lain kali kamu bilang aja."


Ucap Pram dingin dan langsung meninggalkan ruangan Cilla. Fatma dan Dania hanya menatap punggung Pram yang berlalu. Dania pun menghentikan kunyahan nya. Fatma yang melihat itu, hanya bisa menghela nafas.


" Kok gak di habiskan, Sayang."


" Dania udah kenyang, Mi. Maaf ya, Mi."


Fatma tersenyum melihat wajah Dania yang merasa sangat tak enak hati.


" Gak apa-apa, Sayang. Yang penting kamu sudah menikmati itu, dan cucu Mami nanti gak ileran."


" Napa, Lo? Tu tampang kusut bener."


" Dania...masih enggan meminta sesuatu sama gue."


Reyhan melipat bibirnya. Bingung harus menjawab apa. Dan dirinya juga belum berpengalaman soal itu.


" Sabar aja, mungkin dia masih enggan."


" Gue tau, gue salah. Tapi setidaknya kasih gue kesempatan untuk menebus kesalahan gue."


" Sabar aja, namanya bumil ya hormonnya naik turun. Gak usah di paksakan. Yang penting Lo harus terus sabar menghadapi Dania. Ntar lama-lama juga luluh."


Setelah merasa lebih baik, Pram pun kembali ke ruangan Cilla. Cukup lama Pram dan Reyhan berbincang, hingga tiba makan siang barulah Pram kembali. Fatma yang melihat Pram kembali akhirnya memutuskan untuk pulang.


" Mami pulang dulu ya? Kalau sore nanti Cilla sudah bisa pulang, kamu kabari mami. Biar mami jemput."


Fatma mencium Cilla dan juga Dania. Lalu menyentuh lengan Pram. Memberikan semangat pada putranya melalui belaian.

__ADS_1


" Kamu sudah makan?"


Pram bertanya pada Dania yang sedang menyuapi Cilla makan.


" Aku masih kenyang."


Dania menjawab namun tak melihat ke arah Dania. Pram mengambil piring di tangan Dania. Dan bergantian menyuapi Cilla.


" Biar Mas aja, kamu istirahat. Mas tau, tadi malam kamu kurang tidur."


Dania melangkah ke arah ranjang. Merebahkan tubuhnya. Sedangkan Cilla menatap papanya dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


" Kenapa Sayang?"


Cilla menarik ujung baju Pram, meminta Pram untuk mendekat ke arahnya. Cilla pun berbicara sangat pelan.


" Pa, jangan galak-galak sama bunda. Kasian, Pa. Nanti kalau bunda pergi lagi gimana? Cilla gak mau bunda pergi. Papa jangan galak-galak ya?"


Cilla mengangkat kelingkingnya. Dan meminta Pram mengaitkan dengan kelingking nya.


" Janji ya, Pa."


Pram pun mengangguk. Membuat senyum di wajah Cilla terkembang.


Sore harinya, ketika dokter datang, dan menyatakan bahwa kondisi Cilla sudah membaik, dokter pun mengizinkan Cilla untuk pulang. Dan setelah dokter itu pergi, Reyhan datang untuk membantu mereka bersiap. Mereka berjalan di lorong rumah sakit. Dan saat di lobby, mereka semua bertemu dengan Revan dan juga Chelsea. Wajah Chelsea tampak pucat.


Dania sempat melirik sekilas ke Pram yang sedang menggendong Cilla. Sementara tas pakaian mereka, dibawa oleh supir dan juga Reyhan.Ketika mereka berhenti di lobby, Dania meminta Reyhan menggendong Cilla.


" Mas Rey, tolong bawa Cilla ke mobil ya?"


Ucap Dania sambil berlalu, sedangkan Pram langsung melihat ke arah Dania. Pram sadar, dirinya sempat terhenti saat melihat Chelsea dan Revan.


" Biar aku aja, Rey. Terima kasih."


Pram berjalan, dan melewati Chelsea. Chelsea pun menatap Pram yang berlalu.


" Pram..."


Chelsea memanggil Pram. Namun Pram mencoba untuk tidak berbalik. Ada Dania yang harus di jaga hatinya saat ini. Apa lagi, Dania sedang hamil. Supir yang di tugaskan untuk menjemput mereka sudah berdiri dan membukakan pintu untuk Pram. Sudah ada Dania di dalamnya. Pram meletakkan Cilla terlebih dahulu, barulah dirinya masuk. Cilla berada di tengah-tengah mereka.


" Bunda, bunda gak akan pergi ninggalin Cilla lagi kan"


Cilla bertanya setelah mobil yang di kendarai oleh supir sudah berjalan meninggalkan parkiran rumah sakit. Dania tersenyum tipis, lalu membelai rambut Cilla yang keriting, dan mencium pucuk kepalanya.

__ADS_1


" Bunda akan tetap jagain Cilla."


Jawaban Dania menerbitkan senyum di wajah Cilla, tak luput juga senyum di bibir Pram.


__ADS_2