
Tujuh bulan sudah usia kandungan Tari. Setiap hari Tari selalu mengikuti apa yang dokter perintahkan. Tapi pagi ini, ada rasa aneh yang di rasakan Tari. Bayinya tak bergerak sejak subuh tadi. Tari membelai perut buncitnya. Biasanya bayinya akan merespon. Tapi pagi ini, Tari tak merasakan apa-apa.
" Kenapa, Sayang? Princess aktif ya?"
Tanya Riko yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tari menatap Riko. Sebenarnya Tari ingin cerita, namun Tari tak ingin menambah beban pikiran Riko. Apalagi pagi ini Riko ada rapat penting.
" Sini Tari bantu keringakan rambut Abang."
Tari membantu Riko, namun Riko langsung membalikkan tubuhnya. Jadi kini Riko berhadapan dengan bagian dada Tari. Riko terus saja menciumi perut Tari. Dan juga membelainya.
" Bang, nanti rambutnya gak kering-kering kalau gini terus."
Riko tak memperdulikan ucapan Tari. Seperti nya bermain dengan perut Tari yang membuncit adalah sesuatu yang menyenangkan.
" Papa udah gak sabar, Nak. Nunggu kamu lahir ke dunia."
Bayi di kandungan Tari sepertinya mendengar ucapan Papanya. Saat Riko kembali membelai dan mengecup perut bulat Tari, bayi mereka pun menendang. Padahal sejak tadi Tari sudah sangat khawatir karena bayinya yang tak merespon. Bahkan tendangannya sedikit menyesakkan Tari.
" Princess nendang, Sayang. Hai ..baby... sehat-sehat terus ya Nak. Papa sama Mama nunggu kamu loh."
Lagi-lagi Bayi itu menendang. Membuat Tari sedikit merengut.
" Kenapa, Yang? Kok wajahnya di tekuk gitu?"
" Abang tau gak. Tadi Tari udah takut, soalnya dia gak bergerak sejak subuh. Tari belai-belai juga gak respon."
Riko terbahak. Tari gemas dengan anaknya sendiri.
" Itu karena dia lebih sayang sama Abang."
Riko pun bangkit, dan mengecup kening Tari.
" Bang, Maaf ya, Tari belum bisa menjalankan kewajiban Tari sebagai istri Abang."
Tari berkata sambil memeluk tubuh Riko yang kini berdiri dihadapannya.
" Kok ngomong nya gitu? Ini semua kan udah Tari kerjakan."
" Tari belum-"
" Sshhtt...gak usah mikir yang aneh-aneh. Abang bisa menahan semuanya. Yang utama adalah keselamatan kalian. Itu yang terpenting. Nanti kita bisa konsultasi kan lagi ke dokter ya. Abang masih harus puasa atau udah bisa buka pu0asa."
Ucap Riko sambil menaik turun kan alisnya. Membuat Tari merona seketika. Tari membantu Riko yang tengah memakai dasi. Karena perutnya yang sudah sangat membuncit, Tari tak dapat merapatkan tubuhnya.
" Abang gak sempat sarapan, Yang. Nanti Tari sarapan sama Bunda aja ya? Jangan lupa obat dan vitaminnya di minum."
__ADS_1
Ucap Riko saat melangkah keluar dari kamar. Kini mereka sudah menempati kamar bawah. Hingga Tari tak perlu kesulitan. Delila yang melihat Riko tak sarapan langsung bertanya pada Tari.
" Riko gak sarapan, Sayang."
" Abang ada meeting penting Bun. Katanya sarapan di kantor aja."
" Sayang, kandungan kamu kan udah tujuh bulan, Bunda bermaksud mau buat acara syukuran tujuh bulanan. Kamu setuju gak?"
Tari menunduk. Antara takut dan malu mengungkap keinginannya.
" Bun, boleh gak kita gak buat acara apa-apa. Pernikahan Tari dan Abang baru berusia 5 bulan, apa kata orang nanti Bun? Tari gak mau Ayah, Bunda malu. Boleh Bun?"
Delila menatap sendu menantunya itu. Walau dengan berat hati, akhirnya Delila mengangguk.
" Apa kamu malu Sayang?"
Tanya Delila pelan. Tari pun tersenyum tipis.
" Semua udah terjadi, Bun. Hanya saja, apa tanggapan orang-orang nantinya. Tari hanya gak mau orang-orang menyudutkan Bunda, Ayah ataupun Abang. Tari tau rasanya di sudutkan Bun."
Riko yang ternyata sudah berdiri di belakang Tari pun, mendengar semua ucapan istrinya. Tadinya Riko memang ingin acara tujuh bulanan di laksanakan dengan mewah. Namun mendengar ucapan Tari, membuat rasa bersalah di hati Riko.
" Maafkan Abang ya, Sayang. Karena kesalahan Abang, kamu-"
Ucap Riko sambil mencium pucuk kepala Tari. Sontak saja Tari kaget.
" Ponsel Abang ketinggalan. Saat Abang datang, Abang malah mendengar percakapan kalian. Abang benar-benar minta maaf, Yang."
Ucap Riko dengan nada yang sangat menyesal. Dan itu terlihat jelas di wajahnya.
" Tari udah maafin Abang. Gak usah di pikirin lagi ya."
Setelah mendengar jawaban Tari, Riko pun kembali ke kantor nya. Selama menjalani kehamilan, Tari memang lebih banyak di rumah, kalau pun keluar harus di temani oleh Riko.
Malam ini, Riko berencana mengajak Tari untuk makan malam di luar. Kandungan Tari yang semakin besar, membuat Riko semakin gemas.
" Sayang, Siap-siap ya. Nanti Abang pulang kita langsung pergi."
Ucap Riko saat menelpon Tari siang itu. Lena yang sedang mengunjungi Tari pun mengerit heran mendengar panggilan Riko untuk Tari.
" Emang mau kemana, Bang?"
Tanya Tari kemudian.
" Pokoknya ke suatu tempat, dan Abang mau, Sayangnya Abang ini dandan yang cantik ya."
__ADS_1
" Kita mau kondangan Bang?"
Lena yang gemas dengan sikap Tari langsung menoyor kepala Tari. Membuat Tari membulatkan mata.
" Hahah...ya gak lah, Sayang. Pokonya kamu dandan aja yang cantik, oke?"
" Oke."
" Ya sudah, jangan lupa makan siang dan vitaminya di minum ya. Siap makan siang, istirahat. Jangan capek, ingat?"
" Iya Abang..."
Jawab Tari sedikit kesal. Membuat Riko tertawa di seberang sana.
" Oke, Abang kerja dulu ya, Sayang. Love you."
Biasanya Tari langsung menjawab, namun karena ada Lena di sampingnya membuatnya malu untuk menjawab perkataan Riko.
" Sayang, kok gak di bales, Love you..."
" Love you Too..."
Ucap Tari sambil melirik ke arah Lena. Lena tengah menahan tawanya dengan tangannya. Setelah panggilan tertutup, Lena langsung tertawa pecah.
" Love you...love you Too..."
Ucap Lena sambil di buat bercanda oleh nya. Tari yang ada disebelahnya langsung memukul lengan Lena.
" Sejak kapan? Udah manggil sayang-sayang aja."
Ucap Lena sambil tertawa. Membuat Tari tersenyum malu-malu.
" Sejak kapan?"
" Apanya..."
Tanya Tari kembali pada Lena. Membuat Lena menghela nafasnya.
" Sayang-sayangan nya."
" Sejak awal menikah, Bang Riko selalu memanggilku dengan panggilan Yang. Awal-awal nya aku risih, malu, takutnya di bilang lebay. Tapi lama-kelamaan aku-"
" Gak apa-apa, Tar. Nikmati aja, saat ini kalian tengah saling kasmaran. Dan aku bahagia, akhirnya Riko memang benar-benar mencintaimu. Jadi kami tidak perlu mengkhawatirkan kebahagaian mu."
Lena memeluk Tari. Membuat Tari tersenyum.
__ADS_1
" Aku juga bahagia Len. Aku mempunyai mertua yang sangat baik dan perhatian sama aku. Serta suami yang selalu siaga. Semoga kebahagiaan ini tidak bersifat sementara ya?"
" Aamiin, aku juga selalu berdoa agar kamu bahagia selalu, Tar. Dan sepertinya itu sudah terwujud."