Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 55


__ADS_3

Pram ikut masuk ke dalam selimut, ada air mata di sudut mata Dania. Membuat hati Pram pun ikut tersayat.


" Maafkan, Mas Sayang. Seharusnya Mas peka. Mas tau, mas salah. Setelah kamu lebih baik, Mas akan bicara sama kamu. Semuanya. Gak akan ada yang Mas tutupi dari kamu." Pram membatin.


Pram terus membelai surai indah milik Dania. Sampai dengkuran halus terdengar. Dania benar-benar terlelap. Lalu Pram pun bangkit dari ranjang, dan menuju ke ruang keluarga. Ada Fatma disana.


" Pram, kamu sudah pulang?"


" Iya, Mi."


" Kamu dari mana? Dania nanya ke mami. Emang kamu kemana sih, Nak?"


Pram menghela nafasnya. Pram pun menceritakan semua tentang pertemuan nya dengan Chelsea. Sebenarnya siang itu memang Pram akan ada rapat, namun harus di undur karena orang yang akan rapat dengannya mengalami insiden. Tak lama, Chelsea pun datang, dan Chelsea bercerita tentang kehidupan rumah tangganya. Namun tak di sangka, Dania juga datang.


Fatma menghela nafasnya. Mencoba bijaksana dalam menyikapi masalah yang di hadapi oleh Pram.


" Sebaiknya kamu memang bicara terus terang dengan Dania. Bisa saja, saat ini Dania sakit karena memikirkan masalah ini. Bagaimana pun, Dania pernah tau, kalau kamu mencintai Chelsea."


Pram mengangguk.


" Pram, siapapun, pasti hatinya akan khawatir, melihat orang yang di cintainya kembali dekat dengan orang yang pernah istimewa untuk orang itu. Begitu juga dengan Dania."


Pram mengerti, saat jam makan siang, Pram membawa makan siang Dania ke kamar. Dirinya tak mengizinkan Dania untuk naik turun tangga. Melihat kondisi Dania yang masih belum sehat.


" Sayang, makan siang dulu ya? Mas bawa makanan kesukaan kamu."


Dania pun duduk. Kemudian Pram dengan telaten menyuapkan makanan ke arahnya.


" Aku bisa sendiri, Mas."


Dania mengambil sendok dari tangan Pram. Namun Pram menolaknya.


" Kamu buka mulut aja, biar Mas yang nyuapi kamu. Ayo buka...aaa.."


Dania membuka mulutnya. Satu suapan masuk dengan lancar, begitu juga dengan suapan kedua, dan ketiga. Namun di suapan berikutnya, Dania menahan tangan Pram.


" Cukup, Mas."


Dania segera meminum air yang sudah disediakan oleh Pram.

__ADS_1


" Masih sedikit loh. Ayo satu suap lagi ya?"


Dania menggeleng. Selera makan Dania memang sedang tidak baik-baik saja, sejak kemarin. Pram menduga ini karena Dania terlalu memikirkan tentang Chelsea.


" Sayang, Mas mau bicara, bisa?"


Dania mengangguk. Pram pun berjongkok di hadapan Dania. Membuat Dania sedikit menunduk menatap suaminya itu. Pram menggenggam tangan Dania dengan sangat erat. Seakan Dania akan pergi, jika ia tak menggenggam nya.


" Sayang, maafin mas. Kemarin sempat gak jujur sama kamu..."


Akhirnya Pram pun menceritakan semua yang terjadi, dan Dania hanya dia mendengarkan. Dania tak membantah ataupun mencela setiap perkataan Pram. Dania mendengarkan. Namun pandangan matanya sesekali bergerak, seakan memendam pertanyaan.


" Maafin, Mas. Saat ini di hati Mas hanya kamu. Gak ada yang lain, mas akui, Mas salah. Tadinya Mas akan menceritakan semua nya sama kamu, setelah masalah Chelsea selesai, tapi mas sadar. Kamu bagian dari hidup Mas saat ini. Kamu mau kan maafin, Mas?"


Belum sempat Dania menjawab, pintu kamar mereka terbuka. Cilla berlari mendekati Dania dan langsung memeluknya.


" Bunda..."


" Ya, Sayang."


" Bunda masih sakit?"


" Bunda udah sehat, Nak. Gimana sekolahnya hari ini?"


Lalu Cilla pun bercerita tentang sekolahnya. Sedangkan Pram menatap Cilla dan Dania yang bercerita. Bahkan kini mereka sudah berpindah tempat ke ranjang. Dania merebahkan tubuhnya, dan di sebelahnya Cilla memeluk tubuh Dania. Sambil bercerita. Cilla bercerita sambil sesekali menguap.


Setelah cukup lama bercerita, akhirnya Cilla tertidur, tentu saja dengan belaian yang di lakukan oleh Dania. Sedangkan Pram masih melihat interaksi antara Dania dan Cilla. Tak henti-hentinya Pram bersyukur karena mendapatkan cinta ibu pengganti sebaik Dania.


Pram mendekat ke arah Dania. Lalu mencium keningnya. Sedangkan Dania membalasnya dengan membelai lengan Pram.


Detik berjalan, kini mereka tengah menikmati makan malam. Saat suara ketukan pintu terdengar di kediaman mereka. Mbok Sri segera membukakan pintu.


" Selamat malam, Mbok."


" Selamat malam, Mbak Chelsea."


" Pram ada di rumah, Mbok?"


Setelah mempersilahkan masuk, Chelsea pun melangkah masuki ruang makan. Dania yang melihat Chelsea datang pun menghentikan gerakan tangannya yang akan menyuapkan nasi. Pram melihat ke arah Chelsea.

__ADS_1


" Sea, Ayo sini. Kita makan bersama. Kebetulan sekali kamu datang. Ini ada makanan kesukaan kamu."


Pram menyambut Chelsea, dan membantu Chelsea duduk bersebelahan dengan Fatma. Di sisi kanan Pram ada Dania, dan di sisi kiri ada Chelsea. Perlakuan itu tak lepas dari pandangan Dania. Sedangkan Pram sepertinya tak memperhatikan pandangan Dania.


Namun Fatma memperhatikan sikap Dania. Dari tatapannya menunjukkan Dania merasa tidak nyaman. Setelah makanan di piring Chelsea terisi, mereka kembali melanjutkan makan. Dania makan dengan sangat perlahan. Berbeda dengan yang lainnya. Fatma sesekali bertanya mengenai kesehatan Chelsea, begitu juga dengan Pram.


" Cilla udah kenyang."


Cilla segera minum dan pergi menuju kamarnya. Setelah ini, biasanya Cilla akan bermain sebentar dengan boneka kesayangannya, lalu pergi tidur. Melihat Cilla yang sudah menyelesaikan makan malamnya, Dania pun meletakkan sendok.


" Aku duluan ya Mbak."


Ucapan Dania membuat Fatma dan Pram mengalihkan pandangan mereka. Dan melihat ke arah Dania yang pergi menuju kamar Cilla. Pram mulai sadar, bahwa Dania tak ingin berlama-lama. Fatma pun melirik sekilas ke arah Pram. Lalu tersenyum lembut ke arah Chelsea.


" Sea, ayo di tambah lagi."


" Makasih, Tante. Hm..Dania kenapa ya Tant? Apa Sea.."


" Oh...Dania memang lagi kurang sehat. Mungkin dia mau cepat istirahat. Jangan tersinggung ya."


Fatma mencoba menenangkan Chelsea.


" Dania sakit Tante?"


" Hanya kurang enak badan. Mungkin dia kecapean."


Jawaban Fatma membuat Pram melihat ke arah tangga. Lalu Fatma pun bertanya mengenai kehamilan Chelsea. Chelsea bercerita dengan antusias.


Setelah selesai makan malam, Chelsea pun berbicara berdua dengan Pram di taman belakang. Tanpa mereka sadari, Dania berada tak jauh dari mereka. Tadinya Dania ingin mengambil air, namun terhenti saat mendengar suara Chelsea yang menangis.


" Sea, please, jangan nangis. Pikirkan kandungan kamu, kasian anak kamu Sea."


" Revan berubah, Pram. Dia gak peduli lagi sama aku."


" Sea,-"


" Aku mau bercerai aja. Revan lebih memilih wanita itu. Buktinya dia lebih memilih untuk tetap disana, dan gak memperdulikan aku dan juga anak yang ada di dalam kandungan ku."


Chelsea semakin sesegukan. Melihat Chelsea yang menangis sesegukan. Pram pun mendekat, mencoba menenangkan. Namun Chelsea justru memeluknya. Saat Pram mencoba menenangkan, Pram melihat Dania yang berdiri tak jauh dari sana.

__ADS_1


__ADS_2