
Pram menggenggam tangan Dania, dan membawanya turun perlahan menuruni anak tangga. Dania di minta duduk di ruang keluarga. Sementara Pram meletakkan piring kotor ke dapur. Dania menunggu Cilla pulang sambil menonton acara televisi. Tak lama terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Dania mengira Cilla yang pulang, namun yang datang membuat Dania menatap ke arah Pram.
" Chelsea..." Pram menggumam, namun masih bis di dengar oleh Dania. Dania hanya menatap dingin mereka berdua. Chelsea tampak canggung dan menatap Dania dengan sesekali menunduk. Membuat Dania merasa jengah. Mengaku tak memiliki rasa apa pun pada Pram, namun terlalu sering menemui Pram. Sedangkan Pram yang melihat Dania menatap dingin pun, tak tahu harus berbuat apa.
Mereka masih sama-sama berdiri, dan tak lama, Cilla masuk.
" Bunda..."
Cilla berlari memeluk Dania. Lalu menatap Chelsea.
" Tante Sea? Tante kesini mau jengukin Bunda ya? Kan bunda Cilla baru aja pulang dari rumah sakit. Kata Oma, di perut Bunda sekarang ada Adek nya Cilla. Cilla seneng deh.."
Celoteh Cilla membuat Chelsea menatap ke arah Dania dan menipiskan bibirnya.
" Ayo, Cilla. Kita ke kamar Cilla. Bunda kangen pingin peluk Cilla."
Dania mengajak Cilla pergi dari sana. Mereka pun menaiki tangga dan dengan sigap Pram memegangi lengan Dania. Namun di tepis Dania dengan pelan.
" Dia lebih butuh kamu, dari pada aku."
Ucap Dania pelan. Membuat Pram membeku seketika. Cilla dan Dania berada di kamar. Dania tak ingin mendengar ataupun melihat apa yang mereka bicarakan. Dania hanya ingin dirinya tidak terlalu stres hingga mengakibatkan kejadian kemarin berulang kembali.
Dania dan Cilla cukup lama bersama di kamar Cilla. Dania memeluk dan selalu saja mencium Cilla. Sampai Cilla tertidur siang itu. Dan Dania pun kembali ke kamarnya karena tak ingin menggangu tidur anak sambungnya itu. Dania masuk ke kamar dan di dapatinya Pram yang tengah duduk di tepi ranjang. Dania pun melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian. Pram melihat ke arah Dania, dan membantunya mengambil pakaian yang letaknya sedikit lebih tinggi dari dirinya.
" Kamu bisa minta tolong Mas, Dania."
" Aku bisa. Terima kasih."
Dani segera berlalu, namun Pram memegang lengannya. Membuat Dania terhenti.
" Tolong jangan salah paham. Chelsea hanya meminta bantuan, untuk mencarikan pengacara untuk menyelesaikan perpisahannya dengan Revan. Hanya itu."
Dania menatap Pram. Senyum tipis terbit di wajahnya.
" Apa aku meminta penjelasan? Bukannya persahabatan kalian lebih penting. Disini, Chelsea masih punya keluarga, dan temannya pun tidak kamu saja. Tapi, kenapa mesti selalu melibatkan dirimu di setiap ceritanya?"
" Itu karena dari dulu Chelsea memang dekat dengan Mas, Dania. Daripada yang lain."
__ADS_1
Dania tertawa jengah. Lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.
" Bukan, bukan karena itu. Tapi karena Chelsea tau, bahwa kamu gak akan pernah menolak setiap permintaannya, dan kamu selalu ada di setiap kali dirinya butuh. Dan sebenarnya hati kamu juga masih untuknya. Makanya kamu gak pernah bisa menolak apapun keinginannya. Iya kan?"
Dania menatap ke arah Pram. Pram menatap mata Dania yang memancarkan kekecewaan.
" Coba tanya kembali hati kamu, Mas. Siapa yang ada di sana."
Setelah berkata demikian, Dania masuk ke kamar mandi dan menyiram tubuhnya dengan guyuran air di bawah shower. Sedangkan Pram meremas rambutnya. Frustasi. Melihat sikap Dania yang semakin dingin terhadapnya. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Dania, bagai menamparnya tentang keadaan yang saat terjadi.
Ya, Pram tak pernah absen setiap kali Chelsea membutuhkannya. Sejak dulu, setiap Chelsea ada masalah, maka Pram adalah orang terdepan yang membelanya. Kala itu, Cinta membuatnya buta. Tapi sekarang, apa yang membuatnya seperti itu, Pram juga tak tahu.
Dania keluar dari kamar mandi, dan sudah menggunakan pakaian longgar yang membuat dirinya merasa nyaman. Dania melirik ke arah Pram yang masih menunduk di sofa. Dania naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya. Membiarkan Pram hanyut dalam perasaanya sendiri.
Mata Dania terbangun saat merasakan, sebuah tangan memeluk tubuhnya. Pram memeluk tubuh Dania dari belakang, Dania melepaskan tangan itu secara perlahan.
" Biarkan seperti ini sebentar, Dania. Mas kangen sama kamu. Mas kangen."
Air mata Dania luruh. Hatinya terlalu sensitif saat ini. Jauh di lubuk hatinya, Dania pun merindukan Pram. Namun, Dania masih mengingat setiap perkataan dan perlakuan yang Pram berikan pada Chelsea. Hingga Dania pun meragu. Cukup lama Dania berada di pelukan Pram. Hingga tanpa sadar, Dania kembali terpejam.
Tak tahu, berapa lama Dania tertidur kembali. Saat dirinya membuka mata, Dania tak mendapati Pram di sisinya. Dania pun melihat jam yang ada di nakas. Sudah waktunya makan malam ternyata. Dania pun keluar kamar, bertepatan dengan Pram yang akan membangunkannya.
Pram menjulurkan tangannya. Dan Dania pun menyambut, mereka turun dengan saling bergandengan tangan. Fatma yang melihat tersenyum.
" Ayo Sayang. Mami sudah minta Mbak Ratih untuk masakin cumi dan ikan kesukaan kamu. Kamu makan yang banyak ya?"
Dania mengangguk. Lalu tersenyum. Pram dengan cepat mengisi piring Dania dengan nasi. Membuat Dania melihat ke arahnya.
" Biarkan Mas yang melakukannya. Kamu tinggal makan aja. Atau kamu mau mas suapin?"
" Enggak, terima kasih."
Mereka makan dengan tenang. Selesai makan, Dania dan Cilla kembali menghabiskan waktu berdua.
" Cilla, selama bunda di rumah sakit, apa Cilla menurut apa kata Oma?"
Tanya Dania sambil membelai rambut putrinya itu. Kini mereka berdua tengah berbaring di ranjang dengan kepala yang menyender.
__ADS_1
" Iya, Bunda. Cilla nurut kok. Cilla gak bandel."
Dania masih membelai rambut Cilla.
" Kalau nanti Bunda gak di rumah ini, Cilla mau kan tetap jadi anak yang nurut?"
Cilla bangkit lalu menatap sendu padanya. Membuat Dania merasa tak tega padanya.
" Memangnya Bunda mau kemana? Bunda gak pergi kan? Kalau Bunda pergi, Cilla sama siapa?"
Air mata Cilla hampir saja jatuh. Dengan cepat Dania menarik bocah kecil itu ke dalam pelukannya.
" Bunda gak kemana-mana, Sayang. Bunda akan tetap sama Cilla."
Dania berkata sambil menciumi pucuk kepala Cilla. Sedangkan bocah keriting itu, semakin mengeratkan pelukannya.
" Cilla sayang sama Bunda."
" Bunda juga sayang banget sama kamu, Nak."
Dania berada di kamar Cilla sampai bocah itu tertidur pulas. Setelah itu, Dania pun masuk ke kamarnya. Pram tidak ada di kamar saat itu. Dania tau, saat ini Pram sedang berada di ruang kerjanya. Dania melangkahkan kakinya menuju balkon. Dinginnya angin malam itu, membuat Dania memeluk dirinya sendiri. Dan memejamkan matanya.
" Kamu kenapa disini."
Tangan Pram melingkar di tubuh Dania. Membuat Dania membuka matanya.
.
.
.
**Assalamualaikum, Readers.
Terima kasih untuk semuanya ya ..ππΌππΌππΌ
Dan maaf karena belum adanya kepastian Up...
__ADS_1
Jangan lupa tetap untuk Like,.komen, gift serta votenya ya...ππ
Love you All...πππ**