Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Extra Part 13


__ADS_3

Dania dan Pram tampak kikuk, sementara Reyhan dan Lena saling menelan ludah melihat Tari yang menelisik wajah mereka semua.


" Sayang, udah dong. Makan dulu, kasian princess Abang udah laper. Hm.."


Akhirnya Tari memakan sarapannya. Sedangkan Pram dan Dania saling menatap. Pram dengan sikap cueknya, sedangkan Dania sudah mengepalkan tangannya tanda gemas kepada suaminya itu.


Setelah sarapan ketiga pasangan itu pun memilih untuk kembali ke kediaman masing-masing. Tari dan Riko menyempatkan diri untuk sekedar menikmati udara pagi di sekitaran taman kota. Dengan perut yang sudah semakin membesar, membuat Tari mudah merasa lelah.


" Bang, duduk di situ dulu ya. Tari capek."


Riko menuntun Tari untuk duduk di bangku taman. Riko menyodorkan sebotol air mineral yang telah di buka.


" Minum dulu.


Tari meneguk setengahnya membuat Riko tersenyum. Istri polos dan lugu nya ini memang semakin mempesona sejak mengandung. Apalgi sejak kandungannya membesar, pesona seorang Tari semakin keluar. Membuat Riko terkadang harus menahan jiwa kelakiannya ketika berdekatan dengan Tari.


" Bang, menurut Abang, tempat kita menginap malam tadi itu, banyak nyamuknya gak sih?"


Riko mengerutkan keningnya. Tak mengerti maksud ucapan Tari.


" Maksudnya?"


" Maksud Tari gini loh. Kalau emang kamar nya nyaman, seperti yang di bilang Dania tadi. Pasti leher Dania gak akan merah-merah gitu kan. Lena juga, cuma Lena agak ditutupi aja. Padahal Tari nampak kok, di bagian sini..."


Riko melihat arah tangan Tari. Membuat Riko paham maksud cerita Tari. Riko menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bingung harus menjelaskan bagaimana pada istri polosnya itu.


" Hm...udahlah Sayang. Kamu gak usah mikirin itu. Kamu mau sarapan lagi gak? Itu ada tukang bubur ayam. Kayaknya enak, kamu mau gak?"


Tari mengangguk, Riko langsung membeli dan membawa makanan itu kepada Tari. Inilah cara Riko untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Selesai sarapan kedua kalinya mereka pun pulang.


Setibanya di rumah, sudah ada Bunda Delila yang menunggu mereka. Bunda Delila akan pergi membeli beberapa barang untuk melengkapi dekorasi kamar bayi Riko dan Tari.


" Bun, Tari ikut ya? Tari pingin ikut beli nya."


" Sayang, nanti kamu kecapean."

__ADS_1


Riko berusaha mencegah. Pasalnya Tari memang tak boleh terlalu lelah. Berbelanja perlengkapan kamar bayi pasti akan melelahkan baginya.


" Tapi Tari pingin ikut, boleh ya, ya, boleh ya...Abang...boleh Ya.."


Riko menghela nafasnya sejenak. Lalu menatap ibunya.


"Iya, tapi siang nanti kita baru pergi. Bunda juga gak pergi sekarang. Bunda pasti mau keluar dulu sama Ayah. Iya kan Bun?"


" Iya, Sayang. Kamu nanti siang kesana bareng Riko ya.Bunda sama Ayah mau jalan dulu. Kamu jangan lupa istirahat dulu."


Tari mengangguk senang. Dengan cepat, Tari menuju kamar nya, dan membersihkan diri. Walau tadi pagi sudah mandi, tapi rasanya Tari mudah gerah. Saat Tari keluar dari kamar mandi hanya menggunakan jubah mandi, Riko pun masuk ke kamar. Pemandangan di depannya membuat Riko menelan salivanya dengan susah payah.


" Abang langsung Mandi ya. Siapkan pakaian Abang."


Ucap Riko sambil.berlalu ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Riko segera meminta juniornya untuk tenang. Setelah di rasa bisa menenangkan juniornya. Riko pun keluar dengan menggunakan handuk yang hanya melilit di pinggangnya. Riko memeluk Tari dari belakang. Serta menduselkan hidungnya si ceruk leher Tari. Sontak Tari kaget dan menggelinjang.


"Abang,buat Tari kaget aja."


" Seksi banget sih...jadi pingin...."


" Pingin apa sih Bang?"


" Pingin makan kamu...Besok kita check kandungan kamu kan? Sekalian Abang akan tanya, aman gak untuk.."


" Bang, kita jadi pergi gak sih?"


Akhirnya Riko melepaskan pelukannya, lalu segera memakai pakaiannya. Sedangkan Tari menunggu di tepi ranjang. Setelah Riko selesai dengan kegiatannya. Riko pun mengajak Tari keluar dari kamar. Sambil menunggu waktu, Riko dan Tari duduk di taman belakang, dan seorang asisten rumah tangga menghantarkan dia gelas jus jeruk serta buah segar yang telah di potong.


" Makasih, Bik."


Ucap Riko dan Tari bersamaan. Tari pun memakan buah yang telah di sediakan.


" Bang, setelah princess lahir, dia akan tidur dengan kita kan?"


Riko menoleh ke arah Tari. Lalu mengerutkan keningnya.

__ADS_1


" Kenapa Sayang?"


" Tari gak mau kalau nanti anak kita tidur dengan baby sitter, Tari maunya Tari yang ngurus anak kita sendiri."


" Iya...iya sayang."


Riko dan Tari pun berbincang, tanpa terasa waktu makan siang pun tiba. Riko mengajak Tari untuk makan, dan setelahnya mereka pun pergi ke toko tempat perlengkapan bayi. Disana sudah ada Bunda Delila dan juga Tante Rahmi, ternyata kedua calon nenek itu sedang berbelanja perlengkapan bayi bersama.


" Sayang, lihat ni, Bunda ketemu baju-baju yang lucu. Kamu mau lihat-lihat juga"


Tari dan Riko pun melihat dan memilih beberapa baju yang di anggap cocok untuk bayi mereka nanti. Sampai sore, akhirnya Tari dan Riko pulang. Sebelum pulang, Tari dan Riko menyempatkan diri untuk makan di sebuah cafe yang menyediakan es krim. Tari tampak menikmati hari itu dengan sangat bahagia.


Setelah makan malam di restoran, Tari dan Riko pun akhirnya pulang. Namun selama di perjalanan, Tari mulai merasakan perutnya yang sesekali sakit.


" Sayang, kamu kenapa?"


" Perut Tari sakit, Bang. Apa karna terlalu banyak jalan ya."


" Ya sudah, nanti langsung istirahat aja ya."


Riko pun mempercepat laju kendaraannya. Perut Tari mulai nyaman kembali sampai tiba di rumah. Setelah tiba, Tari pun langsung masuk ke kamar mandi. Menggangu bajunya dengan daster rumahan. Sekarang pakaian itu lebih nyaman untuk Tari.


Riko pun yang telah selesai membersihkan tubuhnya langsung meminta Tari untuk rebahan..Dengan isyarat yang di berikannya.


" Besok kita harus ke rumah sakit kan?"


Tari mengangguk.


" Besok siang, Abang akan pulang, dan setelah itu kita ke rumah sakit. Kamu jangan capek-capek ya. Satu harian ini kamu udah capek banget. Sampai perut kamu kram kan tadi."


" Iya Abang. Soalnya Tari seneng banget lihat pakaian-pakaian itu. Lucu."


" Ya udah, sekarang kamu istirahat. Besok kita bakalan ke dokter. Abang juga udah gak sabar pingin liat dia."


Ucap Riko sambil membelai perut Tari. Tari pun yang memang sudah sangat kelelahan akhirnya tertidur dalam waktu yang sekejap saja. Dengkuran halus sudah terdengar dari Tari. Sementara Riko masih menatap wajah Tari yang tertidur di sisinya.

__ADS_1


" Kamu cantik banget, Sayang. Abang semakin jatuh cinta sama kamu."


Ucap Riko lalu mencium kening Tari. Tak lama, Riko pun ikut bersama Tari memasuki alam mimpinya. Kedua insan yang tengah kasmaran itu pun tidur sambil saling berpelukan.


__ADS_2