Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Extra Part 4


__ADS_3

Waktu bergulir, tak terasa kini sebulan sudah sejak kejadian itu. Tari pun sedikit berubah sejak malam itu. Tak seceria biasanya. Wajahnya tampak tirus, dan tubuhnya juga sedikit kurus.


" Tar, Lo kenapa sih? Sakit? Gue perhatiin sejak pesta pernikahan gue,.Lo berubah banget.Ada apa, Tar?"


Tari yang di berondong pertanyaan oleh Lena pun hanya menampilkan senyum nya. Lena masih bekerja di perusahaan yang di kelola Riko. Walaupun Reyhan sudah melarangnya. Lena bilang, dirinya akan resign setelah hamil. Dan membuat Reyhan hanya bisa pasrah.


" Gue gak apa-apa kok. Udah yuk, makan."


Dan sejak saat itu pula. Kalau tak ada meeting penting di luar, Riko akan lebih memilih makan di kantin bareng dengan karyawan lainnya. Tujuannya hanya satu, ingin melihat keadaan Tari. Riko sudah berhasil bicara dengan Tari, tapi Riko tak menyadari itu membuat Tari terluka.


Flashback on.


" Tari, saya akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di malam itu. Saya akan menikahi kamu, jika kamu mengandung. Tapi, jika kamu tidak mengandung, saya tidak bisa menikahi kamu. Tapi saya akan-"


Ucapan Riko di potong oleh Tari,. Dan Tari yang mendengar kan pun tercengang. Begitu rendah dia di mata seorang Riko.


" Maaf Pak Riko. Saya gak perlu tanggung jawab bapak. Saya tidak peduli, mau saya hamil atau pun tidak. Bapak tidak perlu menikahi saya. Saya anggap yang terjadi malam itu sebagai bentuk ucapan terima kasih saya, karena sudah menyelamatkan saya dari orang yang ingin mem- per-ko-sa saya. Walau pada akhirnya itu juga terjadi dengan saya. Terimakasih Pak."


Ucap Tari sambil mengusap air matanya yang jatuh dan melangkah pergi dari ruangan Riko.Da. sejak saat itu, Tari selalu berusaha menghindar saat bertemu Riko.


Flashback off.


Riko memperhatikan wajah Tari yang berbeda. Hari itu Tari terlihat pucat, walau sudah memakai make up tipis tapi wajah pucatnya masih terlihat jelas.


" Tar, Lo pucet banget. Kalau Lo sakit, mendingan pulang aja."


Tari memegang kepalanya yang berdenyut, dan mual yang menggangu membuat Tari berlari menuju toilet kantin. Riko yang melihat dan mulai mengikuti dari belakang. Sedangkan Lena juga langsung mengejar Tari. Setibanya di depan toilet, Riko mendengar Tari memuntahkan semua isi perutnya. Lena yang melihat Riko mondar mandir di depan toilet pun menepuk bahunya.


" Ngapain Lo disini, Ko."


" Len...Lo liatin Tari di dalam. Gue gak bisa masuk."


Lena mengerutkan keningnya. Riko sepanik itu melihat Tari yang muntah-muntah. Sedangkan Riko langsung mendorong Lena untuk masuk ke dalam..

__ADS_1


" Udah buruan, kasian temen Lo."


"Iiiya... iya."


Lena memperhatikan Tari yang masih memuntahkan isi perutnya. Bahkan Lena membantu memijit tengkuk Tari. Tari semakin lemah. Membuat Lena memapahnya saat keluar dari toilet. Riko yang melihat Lena memapah Tari langsung menghampiri dan membantu. Bahkan Riko tanpa segan langsung menggendong Tari. Membuat Lena mengerutkan kening.


Riko membawa Tari ke ruangannya. Dan meminta seorang OB untuk membuatkan teh manis hangat. Lena juga ikut di ruangan Riko. Bahkan Riko melepaskan jas yang pakainya untuk menutupi tubuh bagian bawah Tari.


Lena yang masih berada di ruangan Riko pun mendekat ke arah Tari yang sedang berusaha untuk bangkit. Riko juga melakukan hal yang sama.


" Kamu mau kemana? Jangan kemana-mana dulu. Mas Rey lagi di jalan, mau memeriksa kamu."


Tari diam, di perhatikan nya ruangan ini. Dan saat menyadari, ini ruangan Riko, dan jas yang ada di atas lutut nya juga milik Riko, Tari segera bangkit.


"Aku gak apa-apa, Len. Aku udah baik-baik aja. Tolong izinin aku untuk pulang ya."


Ucap Tari, wajahnya sangat pucat saat ini. Tapi Tari memaksa.


Ucap Riko sambil mencekal tangan Tari. Tari melepas dengan perlahan tangan Riko yang memegang pergelangan tangannya.


"Terima kasih, Pak. Saya permisi."


Baru berjalan beberapa langkah, Tari limbung. Rino dengan cepat memegang Tari.


" Sudah aku bilang, istirahat disini. Kenapa kamu gak pernah mau dengar? Hah?"


Nada suara Riko meninggi. Sejak kejadian. malam itu, Riko sudah sangat merasa bersalah, namun dirinya tak ingin membohongi Tari, kalau dirinya tak bisa menikahi wanita yang tidak di cintai nya. Namun sejak melihat air mata Tari di pagi itu, hati Riko mendadak sakit. Apalagi akhir-akhir ini, Riko tak pernah melihat senyum mengembangnya seperti dulu.


Tari beringsut dari pegangan Riko. Di paksakannya tubuhnya tegak dan berjalan. Lena yang mendengar Riko bersuara tinggi menatapnya tajam.


" Gilak kamu."


Lena kembali mengejar Tari. Bertepatan dengan Reyhan yang tiba. Reyhan dan Tari berpapasan di depan pintu lift. Reyhan yang melihat Lena terburu-buru pun menghentikan nya.

__ADS_1


" Sayang, kenapa? Kok kamu lari-lari gini?"


" Mas ketemu sama Tari. Dia lagi sakit Mas. Tapi-"


" Mana Tari?"


Belum sempat Lena menjelaskan Riko bertanya pada mereka. Lena kembali menatap tajam pada Riko.


" Awas aja kalau sampai terjadi sesuatu pada Tari."


Reyhan semakin bingung. Lena langsung memencet tombol agar lift terbuka. Dan setelah terbuka Reyhan, Riko dan Lena pun masuk. Mereka langsung menuju lobby, dan saat di dekat resepsionis, banyak karyawan yang berkerumun. Tari pingsan tepat di depan meja resepsionis, dan membuat karyawan yang ada di sana menolongnya sambil menunggui ambulance tiba.


" Tari..."


Pekik Lena, lalu memindahkan kepala Tari ke atas pahanya. Lena memukul-mukul pelan pipi Tari. Memintanya agar membuka mata. Riko yang ada di sana, langsung sigap menggendong Tari. Dan meminta Reyhan untuk membuka pintu mobilnya.


Riko meminta kunci mobil Reyhan, dan mengemudikan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.


" Ko, pelan-pelan, jangan sampe kita kenapa-napa."


Lena hanya memegangi Tari yang di rebahkan di belakang. Tak sampai sepuluh menit, Riko sudah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Para perawat membawakan brankar untuk Tari, dan membawanya ke ruang pemeriksaan. Reyhan ikut ke dalam ruangan itu. Sedangkan Lena dan Riko berdiri di luar ruangan. Sepuluh menit kemudian, Reyhan keluar dari ruangan itu yang langsung di hampiri oleh Riko dan Lena.


" Bagaimana keadaan Tari, Mas?"


Reyhan membelai punggung Lena.


" Tari kondisinya sangat lemah. Sepertinya dia tertekan."


Ucap Reyhan dan mengucapkan kata tertekan menatap ke arah Riko. Riko menghela nafasnya.


" Sebentar lagi akan di bawa ke ruangan perawatan. Kamu jangan khawatir, oke?"


Ucap Reyhan sambil merengkuh tubuh istrinya itu. Lalu mencium pucuk kepalanya. Tak lama berselang, tampak perawat mendorong bed Tari. Tari tertidur akibat obat yang di suntik kan padanya. Setibanya di ruang perawatan. Riko langsung duduk di tepi brankar Tari. Memandangi wajah pucat wanita yang sebulan lalu di tidurinya itu.

__ADS_1


__ADS_2