Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 39


__ADS_3

" Ada apa dengan boneka itu?"


Dania melihat sejenak ke arah Pram. Lalu kembali melihat boneka itu.


" Biasanya Cilla selalu main disini. Berantakin semuanya, tapi hari ini, mainan ini masih tersusun rapi. Sepi, Mas... Jemput Cilla yuk..."


Kali ini Dania merengek, membuat Pram tersenyum gemas. Selama beberapa bulan menikah baru kali ini, Pram melihat Dania merengek seperti anak kecil.


" Cilla baru pergi beberapa menit aja, kamu udah kayak gini..."


" Kamu gak akan menghalangi aku kan, Mas. Untuk melihat Cilla kalau nanti kita berpisah."


Dania mengatakan dengan suara bergetar. Membuat Pram menegakkan tubuhnya. Dania masih menunduk dengan air mata yang menetes di pipinya. Bahkan kini, menetes di boneka milik Cilla.


Saat Pram akan menyeka air mata Dania. Ketukan di pintu membuatnya harus melangkah ke arah pintu dan membukanya. Sedangkan Dania segera menyeka air matanya sendiri.


Makanan pesanan Dania tiba. Para pelayan meletakkannya di karpet, karena Pram yang memintanya. Kini di hadapan mereka terhidang makanan tapi Dania sama sekali tak berselera.


" Sekarang buka mulutnya."


" Aku gak laper, Mas."


" Tapi ini enak banget loh. Kamu harus coba."


Dania mendecak kesal. Dan tetap menggeleng. Sebagai pemilik cafe, Dania sudah pasti tau makanan apa yang paling enak di cafenya. Walau semua makanannya enak, tapi tetap saja, ada primadonanya.


" Aku udah tau, Mas. Itu emang primadona di cafe ini."


Pram pun mengangguk mengerti. Pram memang sangat menikmati makanan itu. Padahal hanya seporsi pancake dengan topping coklat dan keju.


" Mas, kamu belum jawab pertanyaannya aku."


" Pertanyaan yang mana?"


Ucap Pram sambil menggeser piring yang telah kosong itu dari hadapannya. Dania yang melihat sisa coklat di bibir Pram, pun membantu Pram membersihkan sisa coklat di bibir Pram. Pram yang sedikit kaget hanya mampu menatap Dania. Jarak mereka kini sangat dekat. Bahkan Pram dapat merasakan hembusan nafas dari Dania.


"Mas gak akan menghalangi aku untuk bertemu Cilla kan, jika nanti kita berpisah?"


Pertanyaan itu kembali keluar dari bibir Dania. Dania memberanikan menatap wajah Pram yang kini tepat di depan matanya. Mata Dania berkaca-kaca, sedangkan hati Pram terasa tercubit dengan pertanyaan itu.


Pram dengan lembut membelai wajah Dania, menangkupkan tangannya di wajah Dania. Perlahan wajah Pram semakin mendekat ke arah Dania dan Pram kini menjatuhkan bibirnya di atas bibir Dania.


Dania hanya mampu meremas kemeja di lengan Pram. Entah mengapa, Dania selalu saja terbuai setiap kali Pram menyentuh nya. Pram memberikan ******* kecil di bibir Dania. Dan sesekali Pram menyesap bibir manis itu.


Dania menguatkan remasan di lengan kemeja Pram, saat Dania merasa, Pram semakin bersemangat dan sedikit meningkatkan kegiatannya. Dania kini sudah mulai bisa ikut mengimbangi permainan bibir Pram.


Lidah Pram, kini tengah menerobos masuk ke dalam rongga mulut Dania, membuat Dania semakin mengeratkan genggamannya. Pram semakin menekan tengkuk Dania agar gadis itu tidak melepas ciumannya.

__ADS_1


Pram melepas tautan bibir merek saat melihat Dania sudah mulai kehabisan nafas. Pram pun menyatukan keningnya dan kening Dania dengan nafas yang terengah. Pram membeli bibir Dania yang membengkak akibat perbuatannya.


Setelah di rasa Dania sedikit lebih rileks, Pram menggenggam tangan Dania. Membuat Dania menatap ke arah nya.


" Kita pulang yuk?"


Pram mengajak Dania pulang. Dan Dania pun mengangguk. Kini sepasang suami istri itu keluar dari ruang kerja Dania sambil bergandengan tangan. Pram sesekali melirik ke arah Dania. Memperhatikan wajah Dania yang bersemu merah.


Cukup lama mereka tiba di rumah, karena jalanan siang ini yang mulai padat. Setibanya di halaman rumah, Pram mendapati Mbak Ratih yang sudah bersiap dengan tas besarnya. Pram dan Dania saling pandang dengan dahi yang bertaut.


" Mbak Ratih mau kemana?"


Ratih yang mendapat pertanyaan hanya mampu menunjukkan wajahnya dan memainkan jarinya.


" Kita masuk dulu, yuk Mbak."


Dania meminta mbak Ratih masuk. Akhirnya di ruang tamu, Pram mulai kembali bertanya.


" Mbak Ratih mau kemana?"


" Maaf ,Pak. Saya harus pulang. Saya baru mendapat kabar, bahwasannya ibu saya di kampung sedang sakit. Jadi saya harus pulang, untuk merawat ibu saya, Pak. Setidaknya sampai beliau sehat."


Pram dan Dania saling pandang. Sedangkan Mbak Ratih tak berani menatap kedua majikannya ini.


" Baiklah, tapi nanti Mbak Ratih kembali lagi kan ke rumah ini? "


" Iya Pak..Saya hanya disana sampai ibu saya sehat."


" Baiklah, sebentar."


Pram meninggalkan ruang tamu, lalu melangkah ke ruang kerjanya. Tak lama kemudian, Pram datang dengan membawa sebuah amplop.


" Mbak, ini ada sedikit tambahan untuk Mbak disana. Ambil lah."


Ratih melihat ke arah Pram dan Dania.


" Gak usah, Pak. Keluarga Bapak dan Nyonya besar sudah terlalu baik sama saya."


" Gak apa-apa. Untuk tambahan biaya perobatan Ibunya Mbak Ratih. Ambillah."


Ratih menitikkan air matanya. Rasa hatinya sangat terharu, tak hentinya Ratih mengucapkan terima kasih.


" Mbak Ratih kembali ke kampung menggunakan apa?"


Dania kembali bertanya.


" Pakai kereta, Mbak."

__ADS_1


" Kalau begitu, biar diantar oleh supir aja ya. Nanti Mbak Ratih terlambat ke stasiun kalau pakai angkutan umum."


" Jangan, Mbak. Benar saya semakin gak enak hati. Biar saya naik taksi atau ojek aja, Mbak."


Dania tersenyum.


" Ongkos taksi atau ojeknya bisa mbak Dania pakai untuk beli makanan nantinya di kereta. Sebentar ya."


" Kamu mau kemana?"


Pram melihat Dania yang pergi.


" Mau ambil kunci mobil aku."


" Pakai mobil yang biasa di pakai mami aja. Pak Agus sudah pegang kunci itu."


Dania mengangguk. Lalu Pram meminta supir mereka untuk menghantar kan Mbak Sri ke stasiun kereta. Kini rumah itu benar-benar sepi. Hanya tinggal Pram dan Dania di dalam rumah. Seketika otak mesum Pram langsung berkelana. Apalagi mengingat ciuman panas yang mereka lakukan di rumah kerja Dania tadi.


Pram menggandeng tangan Dania menuju kamar mereka setelah mobil yang di pakai oleh Ratih menghilang dari pandangan mereka. Pram terus memandang wajah Dania, hingga membuat Dania merona.


" Kenapa liatin terus?"


" Gak apa-apa. Kamu gemesin kalau lagi merona gitu. Rasanya pingin nyium terus."


Ucap Pram tanpa malu, membuat Dania membulatkan matanya dan memukul lengan Pram. Setibanya di kamar, Dania langsung menuju kamar mandi. Rasa tubuhnya sangat gerah, dan mengharuskan dirinya untuk menyiram tubuhnya itu dengan air agar kembali segar.


Sekitar lima belas menit Dania berada di kamar mandi, dan saat keluar, Pram langsung memeluk Dania dari belakang. Hingga membuat Dania terkejut. Wajah Pram kini ada di ceruk leher Dania. Pram pun mulai menciumi leher jenjang Dania. Saat Pram akan membuka ikatan tali di pinggang Dania, perut Dania dengan tidak sopan berbunyi.


Krruuukkkk....


Pram melihat ke arah Dania, sedangkan Dania menundukkan wajahnya.


" Kamu lapar? "


Dania mengangguk, membuat Pram tertawa keras.


.


.


.


Assalamualaikum, udah lunas ya...malam ini aku udah up, 2 episode....semoga kalian gak kecewa...πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2