
Hampir sore ketika Dania tiba di rumah sakit. Dania langsung menuju ke kamar dimana Cilla di rawat. Saat itu, Cilla tengah di bujuk untuk makan oleh Fatma.
" Cilla makan dulu ya, Sayang. Sebentar lagi bunda datang."
" Gak mau, Cilla mau sama Bunda. Bunda mana Oma? Katanya Bunda mau pulang? Kok gak datang-datang. Cilla mau Bunda, Oma..."
Cilla menangis dan Fatma pun berusaha untuk menenangkan. Bahkan Mbok Sri, pun ikut menenangkan Cilla.
" Cilla mau Bunda."
Dan saat itu pintu kamar Cilla pun terbuka. Dania datang dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Dania langsung berlari ke arah ranjang dan memeluk putrinya.
" Sayang...maafin bunda ya, Nak."
" Bunda..."
Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan. Melepas rindu setelah hampir dua bulan mereka tak bertemu. Cilla bahkan menangis di pelukan Dania.
" Bunda jangan pergi- pergi lagi. Cilla gak mau jauh dari Bunda."
"Iya, Nak. Bunda gak kemana-mana. Bunda disini jagain Cilla."
Semua orang yang menyaksikan adegan itu menangis haru. Siapa pun tak akan ada yang menyangka, jika Dania adalah ibu sambung Cilla. Pram menyeka sudut matanya. Menyaksikan kejadian itu. Kini kedua ibu dan anak itu, saling melepas rindu. Bahkan Cilla kini mau makan, dan tentu saja Dania yang menyuapinya.
Saat Dania menyuapi Cilla, Pram pun mendekat. Lalu menyuapkan sepotong roti ke arah Dania. Dania melihat ke arah Pram.
" Kamu juga harus makan. Kamu cuma makan sedikit tadi. Ayo buka mulutnya."
" Nanti aja, setelah menyuapi Cilla."
Pram menghela nafasnya. Pram tau, Dania masih enggan berbicara padanya. Namun Pram tidak mau menyerah.
" Makanlah, demi anak kita."
Dania tertegun sejenak, mendengar Pram menyebut anak kita. Dengan pelan, Dania menerima potongan roti dari Pram. Fatma meninggalkan mereka dan keluar bersama Mbok Sri. Fatma memesankan makanan, untuk Dania dan juga Pram. Fatma bahkan mengajak Mbok Sri membeli beberapa keperluan Dania.
__ADS_1
Setelah Cilla selsai makan, Dania pun membantu Cilla membersihkan mulut, serta membersihkan tubuh Cilla dengan air hangat. Setelah Cilla merasa segar, Dania pun bangkit. Rasa pusing di kepalanya membuat Dania sedikit oleng, dan hampir jatuh. Dengan sigap Pram menahan tubuh Dania.
" Bunda .."
Pekik Cilla melihat Dania yang hampir saja jatuh.
" Bunda gak apa-apa, Sayang."
Ucap Dania saat melihat wajah khawatir putrinya itu.
" Kamu istirahat dulu, sebentar lagi makanan untuk kita datang. Atau kamu mau bersih-bersih dulu, biar Mas belikan pakaian ganti."
Dania menggeleng. Dan Pram pun merebahkan tubuh Dania di bed bersebelahan dengan Cilla. Cilla sudah tertidur mungkin pengaruh obat yang di minumnya. Dan Dania juga mulai memejamkan matanya. Sungguh tubuhnya tidak dapat di bohongi, saat ini kondisi Dania kurang sehat.
Saat melihat sudah tertidur, Pram pun langsung membersihkan diri. Seharian ini, Pram juga belum makan apa-apa. Namun hatinya bahagia, Dania pulang kembali, walau Dania masih enggan banyak berbicara padanya.
Fatma masuk membawa paper bag berisi keperluan Dania. Dan Mbok Sri membawa makanan pesanan Fatma. Fatma melihat Dania yang sedang tidur pun meletakan paper bag itu di sofa. Tak lama, Tejo pun datang membawakan pakaian ganti untuk Pram.
Setelah menerima bawaan dari Tejo, Pram meminta Mbok Sri dan juga Maminya untuk pulang.
" Tapi Pram, kamu juga pasti lelah kan? Biar mami disini ya, bantuin kamu."
" Gak usah, Mi. Mami pulang aja. Pram yakin, Cilla udah baik-baik aja. Mami juga perlu jaga kesehatan mami."
Setelah membujuk, akhirnya Fatma dan Mbok Sri pulang. Setelah kepulangan mereka, Pram pun memakan makanan yang ada di meja. Selesai makan, Pram menatap Dania dan perutnya yang mulia membuncit. Di rabanya perlahan. Air matanya kembali luruh.
" Hai, Sayang. Apa kabar? Maafkan Papa ya, Nak. Maafkan kesalahan papa. Papa harap, kamu sehat-sehat di perut Bunda. Papa menunggu kehadirannya kamu."
Pram berbicara pelan pada perut Dania yang membuncit. Sebenarnya, Dania sudah terbangun saat Pram menyentuh perutnya. Tapi Dania berpura-pura tidur. Mendengar penuturan Pram, hati Dania merasa terharu. Namun kenangan akan ucapan Pram pun berputar di ingatannya.
Pram melepas belaian di perut Dania saat menyadari Dania bergerak, Pram juga menghapus air matanya. Pandangan mata mereka bertemu. Namun Dania dengan cepat, memutus nya.
" Kamu sudah bangun, kamu makan dulu ya?"
Pram membantu Dania dan meletakkan bantal di punggung Dania agar merasa lebih nyaman.
__ADS_1
" Ayo, makan. Setelah ini, kamu bersih-bersih. Pakaian kamu sudah di siapkan."
Dania melihat ke arah paper bag di atas sofa. Lalu menatap ke arah Pram. Mengerti akan tatapan itu, Pram pun menjelaskan bahwa Mami lah membeli itu semua.
Dania memakan makanan nya dengan sangat perlahan. Membuat Pram menatapnya.
" Apa kamu gak suka, Sayang? Mau mas belikan yang lain? Kamu mau makan apa?"
Dania menggeleng. Lalu Pram duduk di tepi ranjang, dan mengambil makanan di tangan Dania.
" Biar Mas suapin ya? Mungkin aja, Dede bayi nya mau papanya yang nyuapi. "
Pram segera mencuci tangannya, dan menyuapkan makanan ke mulut Dania menggunakan tangannya langsung.
" Tapi aku bisa sendiri."
Dania masih berusaha menolak secara halus. Walau sebenarnya sejak beberapa hari yang lalu, dirinya memang ingin makan langsung dari tangan Pram.
" Ayo buka mulutnya."
Dania melihat Pram sejenak. Pram hanya mengangguk, sebagai isyarat. Dania pun membuka mulutnya, dan makan langsung dari tangan Pram. Entah sebab apa, rasa makanan itu terasa lebih nikmat. Atau hanya perasaan Dania saja.
Tanpa terasa makanan di tangan Pram juga habis. Tak lama, Reyhan datang mengunjungi Cilla. Namun gadis kecil itu masih lelap di tidurnya.
" Dan, apa.kamu sakit? Wajah kamu pucat. Pram sebaiknya kamu bawa Dania untuk periksa. Sepertinya Dokter Dina sedang praktek."
Dokter Dina adalah dokter kandungan yang ada di rumah sakit ini. Karena kondisi Dania yang sedang mengandung, membuat Reyhan menyarankan untuk ke dokter kandungan lebih dulu. Pram langsung menyetujui usul dari Reyhan. Setelah Dania bersih-bersih, kini Dania dan Pram tengah menunggu di depan pintu ruang praktek Dokter Dina.
Pram menggenggam tangan Dania. Walau Dania beberapa kali ingin menarik tangannya, namun usahanya sia-sia, karena sedikit saja pergerakan dari tangan Dania, membuat Pram semakin mengeratkan genggamannya. Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, Pram dan Dania masuk ke dalam ruangan.
" Selamat sore, Bu Dania. Bagaimana keadaannya?"
" Baik, Dok."
Setelah berbincang sesaat, Dokter Dina pun meminta Dania untuk berbaring. Seorang perawat memberikan jel di perut Dania. Dan dokter Dina pun melakukan tugasnya. Di layar monitor terlihat anak mereka. Bahkan Pram sampai menangis haru melihat buah hatinya yang masih berada di dalam kandungan Dania
__ADS_1