
Pram meninggalkan kamar Cilla. Setelah Cilla tertidur, Dania pun bangkit lalu menuju ke kamarnya. Namun dirinya seketika ingin memakan nasi goreng. Dania masuk ke kamar, dan mengambil ponselnya. Dania segera menghubungi Lena, karena warung nasi goreng itu tak jauh dari tempat tinggal Lena.
" Len, sorry...gue mau minta tolong, kira-kira Love bisa bantuin gue gak?"
Lena yang tengah menikmati makan malamnya bersama Reyhan di warung nasi goreng itu seketika mengerutkan keningnya.
" Minta tolong apa, Dan. Kalau gue bisa, ya gue bantu lah."
Dania kembali mengetik pesan di ponselnya.
" Gue pingin makan nasi goreng langganan kita. "
Lena membulatkan matanya. Lalu melihat ke arah Reyhan yang tengah menikmati nasi goreng itu.
" Gue lagi makan disini. Ya udah, ntar gue beliin ya. Trus gue kirim pake kurir. Oke. Masih sabar nunggu kan?"
Lena memberikan emoticon tertawa. Sedangkan Lena sendiri tersenyum. Melihat jawaban Dania. Reyhan yang melihat Lena menahan senyum akhirnya bertanya.
" Siapa Len? Kok kayaknya bahagia banget."
Lena mendongakkan wajahnya. Melihat ke arah Reyhan. Walau hatinya masih terasa sakit, saat melihat kedekatan antara Dania dan Reyhan, namun Lena berusaha bersikap dewasa, dan mencoba menganggap Reyhan sebagai temannya saat ini. Lena akan berusaha menghadang perasaannya.
" Dania. Katanya pingin makan nasi goreng disini."
Reyhan hanya mengangguk. Lalu melanjutkan makan nya. Sedangkan Lena memesan pesanan nasi goreng yang di minta Dania. Jauh di lubuk hatinya, Dania merasa tidak enak hati. Tapi apa mau di kata, rasa nasi goreng itu sudah terlanjur membuatnya tergiur.
Setelah menunggu, pesanan untuk Dania pun selesai. Reyhan dan Lena pun sudah selesai makan. Maka mereka pun pergi. Lena berjalan dari parkiran, sementara Reyhan menatap heran. Kenapa Lena Tan ikut masuk ke mobilnya.
" Len.."
Reyhan memanggil Lena yang menjauh dari dirinya. Lena berhenti, lalu menaikan alisnya melihat Reyhan berlari menuju arahnya.
" Kamu mau kemana?"
__ADS_1
" Pulanglah,.."
Reyhan melirik plastik yang berisi pesanan Dania. Lena pun paham, lalu menyodorkan nya pada Reyhan.
" Kamu mau nganter ini ke Dania. Nih..aku titip salam ya."
Lena pun berbalik setelah memberikan plastik berisi makanan itu pada Reyhan. Sementara Reyhan semakin bingung.
" Lena.."
Langkah Lena terhenti. Lena sekuat tenaga menahan agar wajahnya tampak biasa aja.
" Ikut aku nganterin ini."
Reyhan menarik tangan Lena. Membuat Lena sedikit tersentak dan mengikuti langkah lebar Reyhan. Reyhan membuka kursi di bagian sisi kemudi. Dan memaksa Lena masuk.
" Rey, kamu aja. Aku pulang ya Rey."
Bukannya mengiyakan, namun tatapan tajam dari Reyhan membuat Lena menciut. Lena menundukkan pandangan nya. Satu jam kemudian, mobil Reyhan sudah terparkir di depan rumah Dania. Lena masih diam. Membuat Reyhan merasa bersalah, lalu memanggil Dania dari ponselnya.
Reyhan masuk ke mobil, dan di lihatnya Lena yang masih diam. Setelah membunyikan klakson, Reyhan pun berlalu. Sementara dari dalam, Pram pun melihat kejadian itu. Keningnya berkerut tajam. Melihat Dania sumringah mendapatkan makanan yang di hantarkan oleh Reyhan. Melihat Dania yang juga berbincang sejenak, membuat hati Pram pun sakit.
" Apa itu?"
Pram langsung bertanya pada Dania, saat Dania masuk ke dalam rumah. Dania melihat ke arah Pram.
" Nasi goreng."
Pram menghela nafasnya. Rahangnya mengeras. Mencoba menahan emosi di hatinya. Hanya sebungkus nasi goreng, kenapa mesti minta pada orang lain. Itulah yang ada di dalam pikirannya.
" Kalau hanya nasi goreng, kenapa minta dengan orang lain. Aku ini suami mu Dania. Kalau kau lupa. Aku tau, aku salah. Aku sudah minta maaf, Chelsea juga sudah menemui mu kan? Hah? Kurang apa lagi? Apa harus aku bersujud di kakimu?" Hah!!!! Jawab Dania..."
Pram berkata dengan suara lantang, membuat Dania terkejut dan meneteskan air matanya. Suara Pram begitu kuat, hingga Fatma yang ada di kamar pun keluar. Melihat kemarahan di mata Pram, serta Dania yang bergetar di sana, membuat Fatma mendatangi dan mencoba menenangkan.
__ADS_1
" Pram, ada apa ini? Dania..."
" Mi, Pram tau, Pram salah. Pram sadar, akhir-akhir ini Pram beberapa kali berbohong pada Dania. Pram sudah minta maaf, walau pun Pram tau, dia belum bisa memaafkan Pram. Tapi apa harus begini juga, Mi? Hah?? Hanya karena seporsi nasi goreng, apa dia tidak bisa membelinya di aplikasi online, apa harus Reyhan yang menghantarkan untuknya? Di mana harga dirinya sebagai seorang istri? dengan seperti itu, membuat harga diri Pram terinjak."
Pram sangat marah. Apalgi melihat Dania yang tertawa bersama Reyhan tadi. Membuat dirinya terbakar rasa cemburu. Dania masih diam, matanya menatap nanar, Dania merasa perutnya keram. Namun sakit di hatinya jauh lebih terasa. Fatma mencoba menjelaskan, dan saat melihat Dania, Fatma berteriak.
" Dania...Kamu, berdarah.."
Dania melihat ke arah Kakinya, benar saja, ada darah yang mengalir di sela kakinya. Saat itu juga, Dania terduduk dan mengeluh perutnya sangat sakit.
" Mi...sakit, Mi...Perut Dania..."
Bukan hanya Fatma yang panik, Pram pun tak kalah paniknya. Bahkan Mbak Ratih langsung tergopoh-gopoh membantu Dania. Dania mencengkram erat tangan Mbak Ratih.
" Bu...Bu Dania..."
" Sakit, Mbak..."
Fatma langsung melihat ke arah Pram yang tampak shock, dan langsung meminta menyiapkan supir.
" Pram siapkan mobil. Cepat. Kita harus ke rumah sakit sekarang."
Pram berlari ke luar, berteriak pada supir agar segera menyiapkan mobil. Lalu Pram kembali ke rumah, dan menggendong Dania menuju mobil. Pram tampak pucat, sementara Dania terus saja mencengkeram tangannya.
" Sayang, Maaf."
Tak ada jawaban dari Dania. Dania hanya memejamkan mata, menahan rasa sakit yang teramat di perutnya.
" Pak, lebih cepat."
Saat di perjalanan, Fatma menghubungi Reyhan. Agar menyiapkan dokter terbaik untuk Dania. Reyhan yang mendapat kabar tentang Dania pun langsung memutar mobilnya, membuat Lena yang ada di dalam kebingungan.
" Rey, kok putar balik? Ada apa?"
__ADS_1
" Kita harus ke rumah sakit, Dania perdarahan. Sekarang menuju kesana."
Lena terkejut, dengan cepat, Reyhan pun memutar kemudinya menuju rumah sakit keluarga. Sementara di mobil lain, Pram tampak panik, saat wajah Dania mulai pucat. Dan hampir kehilangan kesadarannya.