
" Bang, bangun...udah pagi..."
Tari membangunkan Riko yang tengah bergelung di balik selimut. Panggilan pertama tak membuat Riko bangkit. Hingga ketiga kali, tak juga Riko membuka mata. Saat Tari menyentuh tangan Riko, ternyata badan Riko panas.
" Bang, bangun Bang. Pindah ke ranjang ya?"
Riko membuka matanya. Lalu melangkah pelan ke ranjang.
" Abang demam. Tari ambilin obat dulu ya."
Saat Tari akan beranjak, Riko mencekal tangannya.
" Sini...Abang mau menyapa princess Abang dulu."
Riko membelai perut Tari yang sudah tampak membuncit. Usia kandungan Tari kini sudah memasuki bulan ke empat. Dan perutnya pun sudah mulai menonjol. Kegiatan Riko setiap pagi adalah selalu menyapa anaknya.
" Selamat pagi, Princess."
Selama dua bulan menikah, Riko dan Tari tak pernah tidur seranjang. Riko tidur si sofa dan Tari tidur di ranjang. Walau sudah tak sekaku minggu-minggu pertama mereka menikah, namun Riko tidak berani tidur di satu ranjang yang sama selama Tari tak memintanya.
" Abang demam, Tari ambilin obat dulu ya. Abang mau sarapan apa? Bubur mau?"
Riko tersenyum melihat Tari.
" Gak usah repot. Apapun yang sudah di siapkan oleh pembantu, Abang akan makan. Kamu jangan cepek, Abang gak mau kamu kenapa -napa."
Tari tersenyum. Sejak menikahi Riko memang semanis ini. Membuat getar -getar halus di hati Tari. Dan Tari pun bahagia dengan perhatian yang selalu Riko berikan.
" Tari ke bawah dulu ya?"
Riko pun kembali memejamkan matanya. Tari turun dari tangga dengan sangat hati-hati, biasanya Riko yang akan membantu. Saat Tari pelan-pelan menuruni anak tangga. Tiba-tiba tangan Riko melingkar di pinggang Tari. Membuat Tari menoleh ke arah Riko.
" Loh, Abang kok turun?"
" Abang khawatir sama kamu. Ayo Abang bantu."
Delila yang melihat menantu dan anaknya yang semakin dekat tersenyum hangat.
" Selamat pagi, Bunda."
" Pagi, Sayang. Ayo kita sarapan. Kamu gak kerja, Ko? Kok belum siapan?"
__ADS_1
" Abang demam, Bun."
" Ya sudah, kalian sarapan dulu. Bunda dan Ayah sudah selesai, karena Ayah mau ada rapat pagi ini. Bunda tinggal ya Sayang."
Riko dan Tari hanya mengangguk. Tari mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai coklat diatasi roti itu. Riko menerima roti dan mengunyahnya pelan.
" Tari buatin bubur aja ya, Bang. Sebentar aja."
" Gak usah, Yang. Ini aja. Sekarang kamu makan, minum vitamin. Siang nanti kita ke rumah sakit, hari ini jadwal kamu kontrol kan?"
Tari mengangguk. Tari juga memakan roti dengan selai coklat.
" Bang, besok aja ke rumah sakitnya. Abang kan masih demam. Atau Tari ke rumah sakit di temeni Lena atau Dania aja."
Tari berkata pada Riko setelah mereka selesai sarapan dan sedang duduk menikmati matahari pagi taman belakang rumah mereka. Riko melirik ke arah Tari.
" Abang cuma demam, Tari. Masih bisa kalau cuma nganterin kamu ke rumah sakit. Abang mau jadi suami siaga untuk kamu."
Hati Tari menghangat. Namun Tari tak ingin berharap terlalu dalam. Selama Riko belum mengutarakan perasaanya.
Pukul sebelas siang, Riko yang tampak sudah lebih baik, menghantarkan Tari ke rumah sakit. Disana Tari bertemu dengan Lena. Lena di temani oleh Reyhan. Mereka janjian di satu dokter yang sama. Setelah menunggu lima belas menit, nama Lena pun dipanggil. Kehamilan Lena dan Tari hanya berbeda beberapa Minggu. Namun jenis kelamin anak Lena dan Reyhan belum kelihatan.
" Bagaimana keadaan baby saya, Dok?"
Tanya Riko yang curiga melihat reaksi dokter yang memeriksa Tari. Dokter tampak menatap Riko dan Tari secara bergantian.
" Pak, Bu, Detak jantung bayi kalian lemah. Usahakan ibu jangan terlalu lelah. Perbanyak istirahat dan makan makanan yang bergizi.Dan jangan banyak fikiran. Ini saya resepkan obat dan vitamin ya. Di minum secara teratur ya, Bu."
Tari hanya diam. Riko yang melihat Tari terus diam, akhirnya memegang pundaknya. Lalu tersenyum tipis. Mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.
" Terima kasih, Dok."
Setelah bersalaman dengan Dokter yang memeriksa Tari. Mereka pun keluar dari ruangan itu. Tari duduk di bangku besi dan Riko menebus obat yang di resepkan. Tari tampak melamun, Riko menjulurkan tangannya saat melihat tari melamun. Riko menggenggam tangan Tari. Mencoba memberikan kekuatan untuk Tari.
" Kamu jangan banyak fikiran. Semua akan baik-baik aja. Oke."
Tari mengangguk. Walau air matanya jatuh. Setibanya di rumah, Delila antusias bertanya mengenai perkembangan kandungan Tari. Riko langsung membawa Tari ke kamar. Delila yang melihat wajah sendu Tari pun akhirnya diam. Riko turun kembali dan bercerita pada Ibunya. Delila tampak menghela nafasnya.
" Bunda jangan salahkan Tari ya. Tari udah berusaha menjaga kandungannya dengan sebaik mungkin, Bun. Tari juga sedih banget. Riko tau itu."
" Bunda gak menyalahkan siapapun Ko. Bunda hanya kasihan melihat Tari."
__ADS_1
Delila melihat arah tangga. Lalu meminta Riko untuk berpindah kamar di lantai bawah saja. Agar Tari tak banyak turun tangga.
" Iya, Bun. Memang sebaiknya begitu."
Riko kembali ke kamar dengan membawa buah yang sudah di potong-potong. Tari tampak tengah duduk di tepi jendela. Riko merangkul bahu Tari dan berdiri di sampingnya.
" Jangan di fikirkan, dokter bilang apa, kamu harus banyak-banyak istirahat kan?"
" Bang, seandainya dia tidak bertahan bagaimana? Apa Abang akan-"
" Sshhuuuttt.... jangan berpikir yang tidak-tidak. Ayo makan dulu buahnya. Atau kamu makan siang sekarang?"
Tari menggeleng, dan mengikuti Riko duduk di sofa yang ada disana. Tari duduk bersebelahan dengan Riko. Lalu Riko membelai perut Tari.
" Princess Papa, yang kuat ya, Sayang. Ada Mama dan papa yang menunggu disini."
Mendekat Riko berkata seperti itu di perut Tari, air mata Tari luruh seketika. Tari pun memeluk Riko. Membuat Riko mematung sejenak. Namun dengan cepat, Riko membelai punggung Tari.
" Tari gak mau kehilangan dia, Bang. Tolong, lakukan sesuatu agar dia bertahan."
Riko menangkup wajah Tari. Lalu mengangguk. Sudut matanya juga basah.
" Abang akan lakukan apapun untuk kalian berdua. Kalian hidup Abang. Kalian tujuan Abang. Dan kamu adalah cinta Abang..."
Riko mengucapkan kata cinta yang membuat Tari terdiam. Di pandanginya wajah Riko.
" Abang bilang apa?"
Riko mengangguk. Lalu kembali merangkum wajah Tari.
" Kalian hidup Abang, kalian adalah tujuan Abang, Dan Aku mencintaimu Tari...sangat...love you..."
.
.
.**Waahh....akhirnya Riko ngaku tuh....
yuk lah,.like,.komen, gift serta vote nya...
Udah mau selesai loh ini...😘😘😘**..
__ADS_1