Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 49


__ADS_3

Mata Dania terbelalak, mendengar ungkapan cinta dari Pram. Dania tak menyangka, Pram mengungkapkan perasaanya.


" Aku sangat mencintaimu, Dania. Sangat...sangat..."


Ucap Pram sambil terus merangkum wajah Dania. Mata Dania berkaca-kaca. Dania kini semakin yakin, bahwa Pram memang sudah menerimanya. Air mata Dania luruh, saat Pram menatapnya penuh rasa cinta nan lembut.


" I Love you too.."


Pram kembali akan menautkan bibir mereka, namun suara Cilla membuat mereka menatap ke arah ranjang, Cilla sudah duduk sambil mengucek matanya.


" Nda .."


Dania pun berdiri dan melangkah menuju ranjang.


" Selamat pagi, anak cantik. "


Sapa Dania pada Cilla, begitu pun Pram, ikut menyapa bahkan mencium kepala Cilla. Kini Pram membawa Cilla masuk ke kamar mandi. Pagi ini Cilla di mandikan oleh Pram. Sedangkan Dania membersihkan ranjang dan mengambil keperluan Cilla. Selesai mandi, kini tugas Dania untuk mempercantik Cilla. Sedangkan Pram pun langsung mandi, karena pagi ini, akan ada rapat, yang mengharuskan Pram hadir.


Mereka semua turun ke meja makan, dan Mbak Ratih sudah menyiapkan sarapan.


" Selamat pagi, Mbak."


" Pagi Bu Dania. Silahkan Bu."


" Makasih Mbak."


Sarapan pagi ini di siapkan oleh Mbak Ratih. Ikan goreng tepung, serta oseng-oseng kangkung. Sedangkan untuk Cilla, hanya memakan roti.


" Mas berangkat ya sayang."


Pram menjulurkan tangannya, lalu Dania pun menyambutnya, mencium nya secara takzim, dan di balas dengan ciuman di kening Dania. Lalu Pram pun mencium pucuk kepala Cilla.


Dania dan Cilla menghantarkan Pram sampai depan. Sesaat sebelum masuk ke mobil, Pram kembali mencium Dania. Bahkan mencuri kecupan di bibirnya. Membuat Dania merona dan malu.


Dania dan Cilla kembali masuk ke dalam, saat mobil Pram sudah tak nampak. Meja makan juga sudah rapi di bereskan oleh Mbak Ratih.

__ADS_1


" Mbak, nanti tolong catat ya. Apa-apa aja persediaan kita yang sudah habis. Mungkin siang ini, aku akan belanja."


" Iya, Bu. Oh ya, Bu. Untuk makan siang, ibu mau di masakin apa?"


Dania tampak berpikir sejenak. Lalu menggeleng.


" Kalo Mbak mau masak, masak untuk mbak aja ya. Kayaknya siang ini, aku bakalan ke cafe. Trus mau belanja juga. Jadi gak makan di rumah."


Mbak Ratih pun mengangguk mengerti. Lalu Dania pun membawa Cilla ke taman belakang. Menikmati matahari pagi di halaman belakang sambil memberi makan kelinci.


Cilla tampak berlari kesana kemari, mengejar kelinci yang pagi itu di biarkan bebas oleh tukang kebun mereka. Sedangkan Dania hanya memperhatikan apa yang di lakukan Cilla.


Pukul sepuluh pagi, Dania membawa Cilla ke cafe. Setelah sebelumnya meminta izin pada Pram. Sesudah mendapatkan izin dari Pram, barulah Dania berangkat. Dan kali ini di hantar oleh supir mereka.


Setibanya di cafe, Dania pun menghubungi Pram kembali. Pram meminta Supir yang menghantarkan Dania dan Cilla untuk pulang saja. Karena nanti Pram yang akan menjemput. Dania tak bisa membantah, karena tau, Pram tidak akan bisa di bantah.


" Ya udah, Pak Budi pulang aja."


" Baik, Bu."


Sementara di kantornya, Pram melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata waktu sudah mulai beranjak naik. Sebelas empat puluh, Pram pun segera keluar dari ruangannya. Ketika tiba di meja sekretarisnya, Pram pun kembali bertanya akan jadwalnya siang ini.


" Siang ini, kosong Pak. "


Pram pun mengangguk, lalu berlalu setelah mengucapkan terima kasih. Pram menuju cafe Dania. Rasanya saat ini, Pram tidak ingin berada jauh dari Dania. Sebentar saja, Pram sudah merasakan rindu pada Dania. Apakah Pram sudah menjadi Bucin saat ini? Entahlah, hanya saja Pram tidak ingin, melewatkan harinya tanpa Dania.


Mobil sudah terparkir di depan Cafe. Pram langsung masuk, dan beberapa karyawan Dania menunduk hormat saat melihat Pram memasuki cafe. Pintu ruangan terbuka dan membuat Dania melihat ke arah pintu. Terlihat Pram yang masuk, dan Cilla langsung berlari menuju Pram.


" Papa..."


Pram berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Cilla. Sedangkan Dania pun berdiri dari kursinya lalu mendekati Pram.


" Mas sudah makan?"


" Belum, aku kesini mau ngajak kamu makan diluar sama Cilla."

__ADS_1


Dania tersenyum.


" Kita makan disini aja. Mas gak keberatan kan?"


" Gak masalah."


Dania pun meminta Pram menunggu, dan Dania yang turun langsung memasak untuk keluarganya. Tiga puluh menit kemudian, Dania pun kembali bersama seorang karyawannya yang membantunya membawa masakan yang di masak sendiri olehnya.


" Kamu masak, Sayang."


Dania mengangguk. Seporsi ikan asam manis, sup ayam jamur dan juga perkedel jagung. Makanan rumahan, namun sangat spesial bagi Pram. Karena Dania sendiri yang memasaknya. Pram bahkan menyuapi Dania, karena Dania yang sedang menyuapi Cilla.


" Mas makan duluan aja, nanti aku makan setelah selesai menyuapi Cilla."


" Gak apa, Mas senang kok melakukannya."


Dania tersenyum. Dan kembali menyuapkan nasi ke Cilla. Setelah selesai makan, Dania pun membersihkan Cilla. Mengganti bajunya. Cilla tampak mulai rewel. Membuat Dania harus ekstra sabar menghadapinya. Cilla kembali rewel, membuat Dania mau tidak mau harus menggendongnya.


Di ruangan itu, Dania menggendong Cilla dan membelai punggungnya. Terdengar juga Dania yang bersenandung untuk membuat Cilla tenang. Perlahan-lahan, mata Cilla mulai meredup. Wajahnya masih berada di ceruk leher Dania. Pram yang menyaksikan itu pun, mendekati.


" Biar Mas aja yang gendong. Cilla udah mulai besar, kamu pasti capek."


Dania meletakkan telunjuknya di bibir. Meminta Pram tidak bersuara. Dania masih bersenandung sambil membelai punggung Cilla. Sedangkan Pram memperhatikan Cilla yang mulai terbuai.


Dania menanyakan keadaan Cilla dengan isyarat. Dan Pram menggeleng menandakan Cilla belum tertidur. Dania kembali bersenandung, untuk menghantarkan Cilla tertidur. Sekitar satu jam, menggendong Cilla barulah bocah cantik itu terpejam. Setelah di rasa cukup nyenyak, Dania pun melangkah kakinya menuju kamar di ruangan itu. Sedangkan Pram membantu membukakan pintu. Dengan sangat pelan, Dania meletakkan Cilla di ranjang.


" Apa setiap kali kamu bawa Cilla kesini, Cilla seperti itu?"


" Maksudnya?"


" Ya, kamu menggendongnya sambil bersenandung. Cukup lama loh kamu gendong Cilla, Sayang."


" Iya emang begitu, Mas. Cilla itu kalau mau tidur ya selalu begitu. "


Mereka kini duduk di karpet tempat Cilla bermain. Tangan Dania tak diam, sambil duduk Dania pun mengambil mainan Cilla yang berserak. Pram menahan tangan Dania, lalu memberikan pijatan lembut disana.

__ADS_1


" Cilla beruntung memiliki Bunda seperti kamu, Sayang."


__ADS_2