Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 50


__ADS_3

Sore itu, setelah Cilla bangun dari tidur siangnya. Mereka pun berbelanja kebutuhan rumah tangga yang sudah menipis. Dania mengambil sabun, pencuci piring, dan sebagainya. Saat tiba di bahan makanan pun, Dania mengambil ayam, daging, dan sayur mayur lainnya.


" Malam nanti kamu mau di masaki apa, Mas?"


Pram mendorong troly belanjaan dan Cilla berada di dalamnya.


" Apa aja, selama kamu yang masak, apa aja aku makan."


" Gombal.."


Pram tertawa, Dania terus mengambil kebutuhan rumah, dan beberapa cemilan untuk Cilla tentunya. Walau terkadang, lebih banyak Dania yang membuat sendiri.


" Mau itu..."


Cilla menunjuk ke arah susu, lalu Dania pun mengambilnya. Cukup banyak belanjaan Dania kali ini, dan itu menjadi perhatian Pram.


" Kamu gak belanja kebutuhan kamu, Sayang?"


Dania menoleh ke arah Pram. Dan menggeleng.


" Masih ada kok, Mas."


Setelah membayar dan keluar dari mall. Kini mereka pun menemani Cilla bermain di play zone. Cilla merasa senang, dan tawa Cilla lepas begitu saja saat bermain di sana.


Dari kejauhan, mata Dania menangkap sosok seseorang yang sepertinya sangat familiar baginya. Sedang bergandengan mesra dengan seorang gadis. Dania ingin menyapa, tapi masih enggan, takut salah dan menimbulkan fitnah. Mata Dania masih mengikuti kemana kedua orang itu melangkah.


" Kamu ngeliatin apa sich, Yang?"


" Hm..kayaknya aku melihat pacarnya Lena, Reno."


Pram mengerutkan kening.


" Lena siapa?"


" Sahabat aku, Mas. Kan bener, itu Reno. Dia sama siapa ya? Kok mesra banget? Apa Lena dan Reno udah putus ya?"


Pram menggaruk pelipisnya. Lalu menatap Dania.


" Sayang, mas kan gak kenal, mas mana tau."


" Aku gak bertanya sama mas. Cuma..."


" Ya, sudah. Nanti kamu bisa tanya sama Sabahat kamu itu."


Lalu Pram membawa Dania kembali ke tempat Cilla bermain mandi bola. Setelah puas, mereka pun pulang ke rumah menjelang malam. Dan malam ini, Pram mengajak mereka untuk makan di luar.


" Hm..kalau makannya di warung langganan aku, mas mau gak?"


" Boleh."


" Bener?? Mas gak merasa.."

__ADS_1


" Gak sayang. Kamu tunjukkan aja jalannya. Kita sekarang kesana."


Akhirnya malam ini pun Pram di ajak Dania makan di warung bebek langganan Dania dengan para sahabatnya. Dan mungkin karena sama-sama ingin kangen akan tempat itu, Dania pun bertemu dengan Tari dan Lena.


" Len, kok Reno gak ikut?"


Lena pun mengaduk minumannya. Lalu menatap Dania dengan wajah yang sedikit di tekuk.


" Reno keluar kota siang tadi. Katanya ada kerjaan di sana."


Dania dan Pram saling pandang. Lalu pembicaraan mereka terputus saat pelayan datang. Membawa makanan pesanan mereka.


" Kita makan dulu."


Pram meminta semua orang untuk makan, sedangkan Cilla makan dengan di suapi oleh Dania. Melihat Dania yang sibuk dengan Cilla, lagi-lagi Pram menyuapi Dania.


" Mas, malu ada temen-temen aku."


Dania berbisik pada Pram. Membuat Pram melihat ke arah Lena dan Tari. Sedangkan Lena dan Tari berputra tidak memperdulikannya.


" Temen kamu aja cuek. Ayo buka mulutnya, aaa"


Dania pun membuka mulut, dan menerima suapan. dari Pram.


" Pak Pram so sweet banget gak sih?"


Lena berbisik pada Tari yang ada di sebelahnya. Sedangkan Tari menjawab dengan anggukan. Mereka makan dengan saling bertukar cerita.


Setelah menyeruput minumannya, Tari menjawab pertanyaan Dania.


" Kemaren, kita sempat kesana tapi kamu nya lagi ke Singapura."


Dania dan Pram saling pandang. Membuat Tari dan Lena pun menatap ke arah mereka.


" Hm...kalian honeymoon disana?"


Dania tanpa sengaja tersedak oleh minumannya sendiri. Membuat Pram yang di sebelahnya menepuk nepuk pelan punggung Dania.


" Pelan-pelan ,Yang. Kok bisa tersedak sih?"


Lalu Pram menyodorkan tisu ke arah Dania.


" Makasih, Mas."


Pram yang paham Dania tersedak karena apa, lalu tersenyum ke arah dua sahabat Dania itu.


" Iya..kita honeymoon disana."


Dan jawaban dari Pram sukses membuat kedua sahabat Dania itu terkejut sampai mulutnya sedikit terbuka.


" Serius???"

__ADS_1


Dania menutup telinga Cilla saat merasa percakapan ini entah menuju kemana.


" Kalian, jangan bahas yang aneh-aneh. Kasian anakku, bisa tercemar telinganya yang masih suci."


Kedua teman serta Pram hanya bisa tertawa mendengar perkataan Dania. Apalagi melihat wajah Dania yang bersemu merah. Mereka semakin paham, bahwa Dania dan Pram kini memang tengah bahagia.


Setelah selesai makan, kini Pram memanggil pelayan warung makan itu untuk menghitung semuanya.


" Punya kita gak usah, Pak."


" Gak apa-apa. Sesekali. Besok-besok saya yang minta traktir kalian."


Lena dan Tari pun tersenyum mengangguk. Ternyata Pram tak sekaku yang selama ini mereka duga. Cilla yang mulai menguap pun mendapat perhatian dari Dania.


" Mas, kita pulang yuk. Cilla kayaknya udah ngantuk. Dia juga capek kan, tadi habis main."


Pram mengangguk,lalu berpamitan kepada kedua sahabat Dania itu.


" Kita duluan ya."


Pram menggendong Cilla dan setelah Dania berpamitan pada Lena dan Tari, kini tangan Pram yang sebelahnya, menggandeng tangan Dania menuju ke mobil mereka.


Lena dan Tari yang melihat Dania bahagia, tersenyum senang.


" Gue seneng banget, Tar. Dania mampu bertahan dengan rumah tangganya. Dan kayaknya sekarang dia bahagia banget."


" Hm..gue juga, Len. Sekarang tinggal Elo ni, gimana kelanjutan hubungan Lo dengan Reno. Lo pacaran sama dia udah cukup lama loh Len."


" Entahlah, Tar. Gue ngerasa akhir-akhir ini, Reno sering banget menghindar dari gue. Dan kayaknya hubungan gue dan Reno gak ada kejelasan.


Lena mendesah galau, dan Tari sebagai sahabat hanya mampu menyemangati dan menenangkan Lena. Sementara di halaman parkir di warung makan itu, Pram melepas genggaman tangannya sejenak untuk membuka pintu mobil. Dan membuka kan pintu untuk Dania, setelah Dania masuk, barulah Pram meletakkan Cilla di pangkuan Dania. Setelah merasa kedua wanita nya itu nyaman, Pram pun masuk ke bagian kemudi.


" Mas, belanjaan aku tadi gimana ya? "


" Belanjaan kamu udah sampe di rumah, Sayang. Tenang aja."


Pram pun menjalankan mobilnya menembus jalanan ibu kota yang masib ramai walau sudah malam. Dania membelai punggung Cilla dengan lembut, saat di rasa Cilla mulai gelisah. Dania tau, Cilla tidak merasa nyaman.


Tiga puluh menit kemudian, mereka pun tiba di rumah. Dan mereka terkejut melihat Fatma yang sedang duduk di ruang tamu.


" Mami, mami kapan tiba? Kenapa gak ngabarin Dani atau Mas Pram, biar kita jemput mami?"


Fatma tersenyum mendengar Dania yang perhatian terhadapnya.


" Mami tiba sore tadi, Sayang. Mami memang bilang sama Pram, gak usah jemput mami. Pram mengirimkan supir untuk jemput mami kok."


Dania melihat ke arah Pram. Lalu menoleh kembali ke arah Fatma.


" Jadi Mas Pram udah tau mami pulang?"


Fatma mengangguk. Membuat Dania menatap Pram dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2