
Dania melangkahkan kakinya menuju kamar, dan saat menutup pintu kamar, air mata Dania luruh begitu saja. Baru saja siang tadi Pram meminta maaf atas kesalahannya, namun malam hari ini, terjadi lagi. Walau saat ini, yang memeluk lebih dulu adalah Chelsea.
Satu jam kemudian, Pram masuk ke kamar. Bertepatan dengan Dania yang keluar dari kamar mandi. Pram mendekati Dania, namun Dania lebih memilih naik ke ranjang, dan memejamkan matanya.
" Sayang, Mas-"
" Sudah malam, Mas. Aku mau tidur."
Pram bingung. Dan malam ini berlalu tanpa adanya pelukan hangat dari Dania. Dania lebih memilih tidur membelakangi Pram. Dan saat tengah malam, tangan Pram melingkar di pinggangnya, Dania memilih untuk berpindah tidur ke kamar Cilla.
Pram bangun dari tidurnya, saat merasa tak menemukan Dania di sisinya. Pram mencari Dania ke kamar mandi, namun tak di temukan. Lalu Pram mencari Dania ke dapur, namun tak ada siapapun disana. Saat Pram membuka pintu kamar Cilla, Dania tampak tertidur di samping Cilla. Bahkan mereka tidur sambil berpelukan.
Pagi menjelang, Cilla terbangun dan bersorak bahagia karena Dania yang tidur dengannya malam tadi. Setelah menyiapkan Cilla untuk sekolah, kini Dania masuk ke kamar nya. Kamar dirinya dan juga Pram. Pram masih belum memakai pakaiannya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dania segera menyiapkan pakaian Pram, dengan mode diam. Lalu Dania masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Dania keluar dari kamar mandi, dengan Pram yang belum selesai berpakaian.
" Say-"
Belum selesai ucapan Pram, Dania sudah memakaikan Dasi di leher Pram. Dania memakaikan Dasi dengan cepat, saat Pram akan mengucapkan terima kasih, dan ingin mencium keningnya. Dania sudah menghindar dan langsung memakai bedak serta lipstik berwarna nude.
Setelah selesai, Dania pun segera turun, karena sudah sangat terlambat untuk menghantarkan Cilla ke sekolah. Dengan tergesa Dania menuju ruang makan. Masih ada Fatma disana.
" Mi, Cilla udah berangkat ya?"
" Sudah, Sayang."
Dania melihat Pram yang sudah mendekat ke arah meja makan, dan Dania pun segera berpamitan pada ibu mertuanya.
" Dania berangkat ya, Mi."
Dania pun langsung pergi, saat Pram baru saja mendudukkan bokongnya di kursi. Pram langsung mengejar Dania. Tangan Dania di pegang Pram, saat Dania akan membuka pintu mobilnya.
" Mas bisa jelaskan."
" Aku lagi gak pingin dengar apa pun. Aku berangkat."
Dania masuk ke mobilnya. Sedangkan Pram memijit keningnya. Lagi-lagi salah paham terjadi. Dania pergi mengendarai mobilnya sendiri. Kali ini Pram tidak bisa melarangnya.
Dengan lesu Pram kembali memasuki rumah. Fatma melihat anak nya seperti itu, sudah bisa menebak. Apa yang sedang terjadi.
" Mami kan sudah bilang, Pram. Untuk lebih menjaga hati Dania."
Pram terduduk lesu di samping ibunya.
" Mami sudah mengingatkan kamu malam tadi. Dan sekarang, kamu lihat kan? Mami gak bisa bantu apa pun untuk membela kamu di depan Dania. Karena ini semua salah kamu."
Fatma meninggal kan putranya seorang diri. Bahkan saat Pram akan berangkat ke kantor pun, Fatma hanya menjawabnya dengan bergumam.
__ADS_1
Dania tiba di cafe saat waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Padahal Dania berangkat sejak pukul tujuh. Dania menghabiskan waktunya di sebuah taman. Disana Dania menyendiri, menenangkan hati serta pikirannya.
Setibanya di cafe, Dania bertemu dengan Riko yang membeli mocca latte.
" Pak Riko?"
" Hai Dania...berasa tua gue, Lo panggil Pak. Panggil nama aja kek, atau apalah gitu. Formal amat."
Dania tertawa, mereka saling bertukar cerita. Tak lama, Lena dan Reyhan datang. Sepertinya mereka janjian makan siang disana. Saat bertemu dengan Riko, Lena tampak salah tingkah. Dan wajahnya sedikit cemas, karena Riko adalah pimpinan di perusahaannya.
" Rey, ada bos aku disini. Kita pindah aja ya."
Reyhan menggenggam tangan Lena. Dan semakin mendekatkan langkahnya menuju meja di mana ada Riko dan Dania. Dania yang melihat Reyhan menggenggam tangan Lena, tersenyum penuh arti.
" Selamat siang semua..."
Reyhan menyapa mereka. Dania melirik sekilas ke arah tangan. Lalu mengulum senyum.
" Wihhh....Gilak, udah dapat gandengan aja."
Riko mulai membuka suara. Namun, sesaat Riko memperhatikan wajah Lena.
" Tunggu...tunggu...kamu bukannya salah satu staf di perusahaan saya?"
Lena semakin gugup, lalu mengangguk. Riko membulatkan matanya. Lalu menatap Dania.
" Kenapa?"
" Sejak kapan?"
Dania mengangkat kedua bahunya. Lalu tersenyum. Kini mereka berada di satu meja. Riko pun mulai mencair kan suasana. Tapi ekspresi Dania berubah, kepalanya berdenyut nyeri, dan pandangannya kabur, hingga tiba-tiba Dania terjatuh dari duduknya dan tak sadarkan diri. Semua orang memekik, melihat Dania yang jatuh.
" Dania..."
Teriak mereka bersamaan. Dengan cepat, Reyhan menggendong tubuh Dania. Dan membawa ke ruangannya.
Reyhan memeriksa Dania, stetoskop dan beberapa obat selalu tersedia di mobil Reyhan. Reyhan pun memeriksa Dania dengan teliti. Lena selalu berada di sisi Dania yang tampak sangat khawatir dengan kondisi Dania.
" Gimana, Rey? Dania kenapa?"
Namun Reyhan menatap Lena dengan tatapan sendu. Membuat Kena semakin ketakutan. Lalu mendekat ke arah Reyhan. Mengguncang tangannya.
" Rey, Dania kenapa?"
Reyhan belum membuka suara. Dan wajah Lena semakin tegang. Begitu juga dengan Riko. Bahkan Riko hampir menghubungi rumah sakit, saat Reyhan tak juga menjawab pertanyaan Lena.
" Rey..."
__ADS_1
Lalu Reyhan tersenyum. Melihat Dania yang telah siuman.
" Dania..."
Lena langsung menghampiri sahabatnya itu. Dania memegang kepalanya. Dan melihat sekeliling.
" Kok aku busa disini?"
" Kamu tadi pingsan, Dan. Tapi syukurlah kamu udah siuman sekarang."
" Aku? Pingsan?"
Lena dan semua orang mengangguk. Dania semakin bingung.
" Itu biasa Dania. Di awal-awal kehamilan."
Semua orang menatap penuh tanya ke arah Reyhan. Membuat Reyhan bingung, dia merasa tak ada yang salah dengan ucapannya.
" Dania hamil?"
" Dania hamil?"
" Aku hamil?"
Mereka bertiga bertanya bersamaan. Membuat Reyhan mengangguk sambil sedikit bingung. Lena langsung memeluk Reyhan disana. Dirinya bahagia karena sahabatnya itu akan segera menjadi ibu.
" Woy...woy...yang hamil itu Dania. Kok malah kalian yang peluk- peluk. Hargai yang jomblo disini."
Riko protes saat Lena dan Reyhan berpelukan. Sementara Dania tertawa, dan ada air mata di sudut matanya. Sekarang Dania paham, mengapa akhir-akhir ini, dirinya begitu sangat sensitif. Ini semua adalah akibat dari kehamilannya.
" Maaf..Pak Riko."
Cicit Lena pelan. Namun Reyhan justru semakin membelai wajah Lena.
" Kalau begitu, sekarang kita kasih tau, Pram."
Riko mau menelpon Pram, namun di halangi oleh Dania.
" Jangan...biar aku aja. Aku mau ngasi surprise untuk Pram."
" Perlu bantuan gak?"
Riko menyodorkan bantuan. Dan Dania meminta mereka tidak memberitahukan pada siapapun tentang berita ini. Dan mereka semua setuju.
.
.
__ADS_1
.. Assalamualaikum, malam ini aku double up ya...
Ayo donk..gift, vote dan komen serta like nya...biar nulisnya tambah semangat. ☺️☺️☺️..