Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Extra Part 6


__ADS_3

Dua Minggu sudah Tari keluar dari rumah sakit. Bahkan kini Tari sudah beraktifitas seperti biasa. Mual, muntah seperti ibu hamil muda tak di rasakan. Bahkan kini Riko yang lebih suka makan makanan asam. Seperti siang ini, Riko meminta seorang OB untuk membelikannya rujak. Bahkan si OB yang bernama Hendra itu sempat bingung, karena Riko meminta rujak yang banyak mangga muda nya.


" Bapak gak takut sakit perut, Pak?"


" Udah kamu beli aja. Kalau da mangga mudanya, kamu beli sekalian."


" Bapak kayak ibu-ibu hamil aja.


Ucap Sang OB sambil berjalan. Sedangkan Riko menatap ke arah Tari yang masih berada di depan komputernya. Walau waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Saat Tari bangkit dari duduknya, Riko menatap sepatu yang di pakai Tari. Tari memakai high heels setinggi tujuh senti meter. Membuat Riko membulatkan matanya.


" Tari, apa-apaan kamu?"


Tari yang tak mengerti maksud ucapan Riko mengerutkan keningnya. Tari yang saat ini menjadi sekretaris Riko pun hanya mengangkat bahunya.


" Tari, tunggu disana, jangan bergerak."


Riko segera berlari menuju ruangannya. Di ruangan itu, Ruki sudah menyiapkan sebuah sepatu flat dari merk ternama, yang memiliki harga fantastis.


" Ayo pakai."


Tari di dudukkan kembali di kursinya. Lalu Riko mencopot high heels yang di pakai Tari, dan menggantinya dengan flat shoes yang ada di tangannya. Posisi Riko yang ada di bawah Tari membuat Tari merasa tak nyaman.


" Maaf Pak, Jangan seperti ini. Saya-"


" Kenapa? Kamu gak nyaman? Sebaiknya kamu biasakan diri kamu. Setelah bergelar nyonya Riko Hanudinata, nanti kamu akan terbiasa."


Wajah Tari tegang menahan amarah. Tangannya mengepal. Cukup sudah.


"Maaf, Pak. Saya tidak akan menikah dengan Bapak. Saya sudah bilang, saya akan membesarkan anak ini sendiri."


Ucap Tari. Riko hanya menghela nafasnya. Dia tahu, ucapannya kemarin memang sangat melukai hati Tari. Tapi entah mengapa, sejak melihat air mata Tari keluar begitu saja, hati Riko pun sakit. Sejak saat itu, Riko selalu berusaha mendekatkan diri dengan Tari.

__ADS_1


Tari ingin segera melepas sepatu yang baru saja melekat di kakinya. Namun gerakan Riko mencekal tangannya, membuat wajah Tari tepat berada di depan Riko.


" Tolong, jangan dilepas. Tolong jangan pakai heels lagi. Ini demi dia."


Ucap Riko memelas. Saat mengucapkan kata Dia, matanya menatap perut Tari yang masih rata. Tari segera beranjak dan berlalu dari hadapan Riko. Sementara Riko masih bersimpuh di depan kursi yang di duduki Tari tadi. Riko dengan cepat menyeka sudut matanya. Ucapan Tari yang ingin membesarkan anaknya seorang diri, membuat Riko semakin takut kehilangan.


Tari dan Lena sudah berada di kantin. Saat ini, Lena sedang uring-uringan, entah karena apa. Membuat Tari menjadi serba salah.


" Lo kenapa sih Len. Aneh banget. Dari tadi ada aja yang salah. Yang Lo bilang teh nya gak manislah, sotonya gak mantaplah. Padahal, hampir setiap hari loh, kita makan ini."


Lena mengerucutkan bibirnya.


" Tau ah, Tar. Gue aja bingung. Tar, pulang kerja kita makan bebek cabe ijo warung pak Min yuk. Ajak selly dan Dania juga. Udah lama kita gak me time bareng mereka. Mau ya Tar?"


Tari yang sedang meminum teh nya pun hanya mengangguk. Tak lam, Riko datang bergabung dengan membawa bungkusan berisi rujak dan juga mangga muda.


" Ko, enak banget kayaknya tu Mangga. Gue mau ya. Please, Ko...gue ngiler banget ngeliatnya."


" Lena ingat ini masih di kantor.Sadar, kamu barusan manggil dia apa."


Tari berkata sangat pelan pada Lena. Namun Lena tak menghiraukan. Riko memakan rujak yang ada di hadapannya saat ini. Dan Lena memakan mangga muda yang Riko beli. Melihat kedua orang yang ada di hadapannya memakan makanan yang cenderung asam dan pedas membuat Tari bergidik ngeri.


" Kamu gak mau nyobain? Enak loh. Seger."


Riko menawari Tari, namun di jawab dengan gelengan kepala olehnya.


" Ternyata kalian disini."


Tante Delila datang menghampiri. Dan langsung duduk di samping Tari. Tante Delila yang melihat Tari dan Riko makan, hanya menggeleng kan kepalanya.


" Gak takut sakit perut, Len. Itu asem banget loh."

__ADS_1


Ucap Tante Delila melihat Lena yang lahap memakan mangga muda di hadapannya. Bahkan nasi soto yang ada di hadapannya sama sekali tak sentuh.


" Len, makan dulu nasi nya."


Tari mengingatkan Lena. Namun hanya di jawab gelengan oleh Lena.


" Sayang, setelah makan siang, temani Tante ke butik ya?"


" Tapi Tante... Tari harus kerja lagi. Gak enak sama yang lain Tante."


" Udah, kamu temani bunda aja. Kerjaan kamu biar aku yang handle. Lagian meeting siang batal."


Tari melihat ke arah Riko yang masih santai memakan rujak di hadapannya. Bahkan kini dahi nya tengah mengeluarkan tetes-tetes keringat.


Dan disinilah mereka sekarang. Tari akhirnya menemani Tante Delila ke butik langganan. Tante Delila menunjukkan beberapa desain kebaya kepada Tari. Membuat Tari bingung.


" Kamu pilih aja Sayang. Mana yang bagus dan kamu suka."


" Kok Tari, Tante? Emangnya kebaya ini untuk siapa?"


" Untuk kamu,.Sayang."


Tari langsung menolak, karena sudah paham kemana arah pembicaraan ini nantinya. Tari ingin meninggalkan butik itu. Namun tangannya di cekal oleh Tante Delila. Tante Delila meminta waktu berdua untuk bicara. Dan pemilik butik yang juga sahabat Tante Delila itu paham.


" Sayang dengarkan, Tante. Tante tau, anak Tante sudah menyakiti kamu. Tapi, tolong jangan hanya memikirkan perasaan kamu. Pikirkan juga bagaimana nanti jika anak ini lahir dan tak memiliki seorang Ayah. Bagaimana dia di pandang sebelah mata oleh orang-orang sekitarnya, Sayang. Tante yakin, kamu mampu menghidupinya secara layak dan mencurahkan kasih sayang penuh untuknya. Tapi bagaimana nanti saat dirinya sudah mulai mengerti, jika dia bertanya kemana ayahnya? Anak Tante memang brengsek. Tapi tidakkah kamu melihat, Riko menyayangi anak kalian?"


Tante Delila menatap manik mata Tari. Tari bingung. Hingga pada akhirnya, Tari memilih untuk pergi dari butik.


" Maafin Tari, Tante. Tari capek. Tari pulang Tante."


Setelah mencium tangan Delila , Tari pun pergi meninggalkannya butik itu. Di sepanjang perjalanan, Tari memikirkan bagaimana nasib anaknya jika lahir tanpa Ayah. Tari pernah berada di posisi itu. Dan Tari paham akan rasanya.

__ADS_1


Taksi yang di tumpangi Tari tiba di depan gedung apartemen miliknya. Setelah menekan pintu lift, kini lift itu pun membawa Tari ke lantai dimana unitnya berada. Tari membuka pintu unitnya. Lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Tari sedang mencerna semua ucapan Tante Delila.


__ADS_2