
Waktu bergulir, hari ini Dania akan memeriksakan kandungannya ke rumah sakit. Dania bersyukur kandungannya sehat dan baik-baik saja. Usia kandungannya sudah memasuki 8 Minggu. Setelah memeriksakan dirinya ke rumah sakit, Dania pun langsung menuju rumah. Rasanya Dania sangat enggan untuk berada di cafe.
" Assalamualaikum, Mi."
Dania memberi salam, saat melihat Fatma yang sedang duduk di teras depan.
" Waalaikumsalam, Sayang. Kamu gak ke Cafe?"
Fatma menerima uluran tangan Dania.
" Enggak, Mi. Rasanya Dania pingin di rumah aja. Pingin main sama Cilla."
Fatma tersenyum. Saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Dania pun menuju dapur. Bersyukur kehamilannya tidak menggangu sama sekali. Dania tidak merasa mual, ataupun rasa enek lainnya. Dania justru lebih suka makan. Fatma yang melihat Dania menuju dapur, mengikuti menantunya itu.
" Kamu mau makan sesuatu?"
Dania tersenyum lalu menggeleng.
" Enggak, Mi. Dania mau buat bola bola coklat ubi ungu. Cilla pasti suka."
" Cilla selalu suka apapun yang kamu buat, Sayang."
Mertua dan menantu itu pun bercengkrama di dapur. Hingga jam menunjukkan waktu Cilla pulang sekolah. Suara Cilla terdengar mengucapkan salam.
" Bunda....bunda gak kerja?"
" Gak, Sayang. Bunda mau main dengan Cilla. Bunda pingin peluk Cilla seharian ini, boleh?"
Cilla tampak antusias. Dan matanya berbinar begitu melihat ada bola-bola ubi di meja.
" Bunda buat bola-bola?"
Dania mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan Cilla tampak bersorak. Begitu dekat hubungan antara Dania dan Cilla. Bahkan tak ada yang percaya bahwa Dania adalah ibu sambungnya Cilla.
Dania dan Cilla benar-benar bermain satu harian ini. Mereka bermain di kamar Cilla. Hingga keduanya tertidur di ranjang yang sama. Fatma yang menyaksikan kegiatan mereka tersenyum bahagia. Tanpa Fatma sadari, Pram sudah berdiri di belakangnya.
" Mi,.."
Fatma menoleh ke asal suara. Sudah ada Pram ya g juga melihat kedekatan antara Dania dan Cilla.
" Dania gak ke cafe, Mi?"
" Enggak, katanya dia pingin main dengan Cilla seharian ini."
Tak lama, suara salam terdengar, ternyata Reyhan yang datang sore itu. Reyhan datang membawa martabak telur. Dan di saat yang bersamaan, Dania bangun dari tidurnya. Dania turun menuju lantai bawah. Sudah ada Reyhan , Pram dan juga Fatma di ruang keluarga.
__ADS_1
" Hai, Dan. Aku tadi ke cafe, tapi karyawan kamu bilang, kamu gak datang."
" Hai, Mas. Iya aku pingin main sama Cilla hari ini. Jadi aku gak ke cafe."
Reyhan mengangguk. Tak lama Mbak Ratih datang membawa nampan berisi sepiring martabak dan juga minuman untuk di hidangkan.
" Mami beli martabak?"
Dania bertanya pada Fatma. Saat bokongnya baru saja di daratan di sofa sebelah Fatma.
"Enggak, Sayang. Itu tadi Reyhan yang bawa."
Mata Dania membulat. Karena dirinya yabg telah lebih dulu mengambil sepotong martabak itu.
" Enak banget, Mas. Padahal aku baru aja mau beli."
Pram menatap ke arah Dania dan juga Reyhan. Wajahnya berubah menjadi sedikit tak enak di pandang. Saat di perhatikan nya, Dania sangat akrab dengan Reyhan.
" Kamu ngid-"
Kata-kata Fatma menggantung. Saat menyadari, Pram belum tahu mengenai kehamilan Dania.
" Dania ngid? Ngid apa Mi?"
Kali ini Pram yang bertanya. Sambil mengerutkan keningnya. Dan menatap menelisik ke arah Dania dan juga Fatma.
Ucap Fatma meralat ucapannya. Sedangkan Pram hanya menatap bingung. Sedangkan Dania tampak mengalihkan pandangannya saat Pram menoleh ke arahnya.
Tak lama, Reyhan pun pamit. Dania menghantarkan Reyhan sampai ke mobilnya. Sedangkan Pram hanya memperhatikan dari belakang. Saat di depan pintu mobilnya, Reyhan kembali mengatakan bahwa dirinya akan menuruti semua keinginan Dania. Jadi Dania gak perlu sungkan padanya.
Namun siapa sangka, ucapan Reyhan itu semakin membuat Pram cemburu.
" Kenapa Reyhan mengatakan kalau kamu gak perlu sungkan padanya?"
Pram bertanya saat Dania masuk dan langsung melewati nya. Dania berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Pram.
" Itu cuma basa-basi."
Pram menghela nafasnya. Lalu mendekat ke arah Dania.
" Apa kamu masih marah dengan Mas? Sampai kamu gak mau meminta apapun itu pada Mas?"
Dania menghela nafas. Lalu mengeluarkannya perlahan.
" Aku gak tau, Mas. Aku mau mandi."
__ADS_1
Dania pun berlalu dari hadapan Pram. Pram beranggapan bahwa dirinya masih marah karena kedekatannya dengan Chelsea waktu kemarin.
Dania menuju kamarnya dan Pram. Masuk ke kamar mandi. Dania memandangi tubuhnya. Perutnya belum membuncit, Dania membelai perut rata itu.
" Sayang, Sehat-sehat terus ya. Dan maafkan bunda, yang masih merahasiakan keberadaan kamu dari Papa. "
Air mata Dania menetes, namun dengan cepat Dania mengusapnya. Dirinya gak mau cengeng.
Sepuluh menit kemudian, Dania sudah keluar dari dalam kamar mandi. Dengan menggunakan dress rumahan, Dania tampak cantik sekali. Padahal Dania tak menggunakan make up, hanya lipstik berwarna nude dengan bedak tipis. Aura ibu hamil memang berbeda.
Pram melihat Dania yang saat ini tengah mengajari Cilla belajar. Pram pun menyadari ada yang berbeda dengan Dania. Aura keibuannya semakin terpancar. Wajahnya semakin cantik walau tanpa polesan. Bahkan sudah beberapa hari ini, Pram selalu memperhatikan wajah Dania yang tengah terlelap. Bahkan ada keinginan di dasar hatinya untuk membelai perut Dania yang rata.
Dania melihat ke arah Pram yang tengah memperhatikan mereka. Tak lama, Cilla pun selesai belajar.
" Sekarang, Cilla sikat gigi, trus bobo. Oke?"
" Oke Bunda."
Pram pun masuk ke kamar Cilla. Menunggu anak dan istrinya yang masih di kamar mandi. Cilla langsung memeluk Pram saat di lihatnya Pram tengah duduk di ranjangnya.
" Selamat malam, Papa. Cilla sayang papa."
Lalu Cilla pun mencium kedua pipi Pram. Dan berlanjut ke arah Dania.
" Selamat malam, Bunda. Cilla sayang Bunda."
Cilla pun mencium pipi Dania. Saat Badan Dania sudah kembali tegak, tanpa di sangka, Cilla membelai lembut perut rata Dania dan menciumnya.
" Cciillaa, lagi apa?"
Dania kaget dengan aksi yang dilakukan oleh Cilla.
" Cilla cuma mau kayak temen Cilla, Bunda. Tadi pagi Cilla liat temen Cilla gitu ke perut Mamanya. Katanya ada Adek bayi di perut Mamanya. Tapi perut Mamanya udah gede."
Ucap Cilla dengan menggerakkan tangannya membentuk bulatan di perutnya. Dania mematung sejenak.
" Tapi di perut Bunda kan gak ada adeknya, Sayang."
Pram berkata pada Cilla. Membuat hati Dania mencelos. Wajah Cilla bertekuk sesaat.
" Trus kapan Cilla bisa punya Adek kayak temen Cilla?"
Cilla bertanya pad Pram. Sedangkan Dania mengalihkan pandangannya ke arah lain, saat Pram melihatnya setelah mendapat pertanyaan dari Cilla. Pram tak menjawab.
" Sekarang Cilla bobo, jangan lupa berdoa ya?"
__ADS_1
Cilla pun mengangguk, lalu naik ke ranjangnya. Sedangkan Dania pun ikut naik ke ranjang Cilla. Menemani hingga putrinya itu tertidur lelap.