Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 83


__ADS_3

"Usaha teroooossss....biar lepas tu gelar jomblo di badan Lo."


Ucap Pram saat Riko melewatinya. Membuat Riko langsung memukul kepala Pram.


"Sialan, Lo. Kualat Lo mukul pala orang yang lebih tau dari Lo."


Riko tak menghiraukan ucapan Pram. Bahkan kini dirinya tampak mulai mengakrabkan diri dengan Tari. Kini Tari dan Riko sedang berjalan menuju ruangan IGD. Dan saat tiba di ruangan itu, Lena dan Reyhan tidak ada disana. Lalu Riko membawa Tari menuju ruangan pribadi Reyhan. Saat pintu di buka oleh Riko, tampak Reyhan dan Lena yang saling bertukar Saliva.


" Lena..."


Tari memekik melihat bibir Lena dan bibir Reyhan yang saling bertaut. Mereka langsung melepaskan tautan, saat mendengar suara Tari.


" Ttaaarrii..."


Sedangkan Riko memutar matanya malas, melihat kejadian itu. Tari bahkan sampai berkedip beberapa kali untuk mengekspresikan keterkejutannya.


" Lain kali tu pintu di kunci Bro."


Reyhan berdecak malas, mendengar ucapan Riko. Dan kini mereka semua melihat ke arah Tari yang masih bengong.


" Tari, Lo kenapa?"


Kini Lena yang tampak panik, karena Tari yang masih bengong di tempat.


" Len, bibir Lo udah gak suci lagi dong?"


Ucap Tari sambil meraba bibirnya sendiri. Wajah Lena memerah, karena malu. Sedangkan Reyhan dan Riko tersenyum menahan tawa. Dan tak lama, suara tawa Riko pecah. Membuat Tari dan Lena melihat ke arah Riko.


" Aneh Lo. Udah biasa kali orang pacaran ciuman. Kayak Lo gak pernah aja."


" Emang gak pernah. Aku gak mau pacaran."


Ucapan Tari berhasil menghentikan tawa Riko yang membahana. Bahkan kini Riko menatap serius ke arah Tari.


" Seriusan Lo gak pernah pacaran?"


Tari mengangguk. Reyhan pun menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Reyhan masih duduk di tepi brankar. Riko terdiam tak bisa berkata apapun.


" Oiya, gue mau ngasi tau Lo. Dania udah lahiran, anaknya cowok."


Lena langsung menepuk lengan Tari. Membuat Tari mengaduh.


" Kok baru kasih tau sekarang?"


" Gue nyari Lo berdua ke IGD. Tapi Lo gak ada. Trus pak Riko ngajak gue kesini. Eh, gak taunya ngeliat Lo mmmppphhhhh..."


Lena langsung membekap mulut Tari. Dirinya sudah teramat malu. Ketika dirinya dan Reyhan kepergok tadi.

__ADS_1


" Yaudah sekarang kita ke ruangan Dania aja."


Kini keempat orang itu berjalan menuju lift untuk membawa mereka ke lantai di mana Dania di rawat. Reyhan berjalan pelan-pelan.


" Mas mau pake kursi roda aja."


" Gak usah, Sayang. Yang penting kamu mau mapah Mas."


Lena pun langsung berdiri di samping Reyhan. Sebelah lengan Reyhan berada di pundak Lena. Tari membuang pandangannya melihat adegan itu. Sedangkan Riko kembali memutar matanya jengah melihat pemandangan itu.


" Modus.." Gumamnya.


Lift berhenti tepat di lantai paling atas. Lantai dimana setiap anggota keluarga pemilik rumah sakit di rawat. Reyhan berjalan perlahan di belakang Riko dan Tari. Riko mengucapkan salam, dan mereka berdua pun masuk.


" Dari mana, Nak"


" Dari bawah, Bun. Om, kayaknya mendingan om segera deh, nikahin si Reyhan."


Riko langsung berkata pada Om Robert yang sedang duduk bersebelahan dengan istrinya. Tante Rahmi baru saja tiba, dan mengerutkan keningnya mendengar ucapan Riko.


" Emangnya kenapa, Ko?"


Riko pun hampir aja membuka suara. Sedangkan Tari yang duduk di sisi Dania pun membisikkan sesuatu ke telinga Dania. Membuat Dania membelalakkan matanya. Beruntung saat Riko akan bercerita, Reyhan dan Lena datang. Membuat Riko menatap pada mereka.


" Ko, emangnya kenapa, kok Reyhan kamu suruh segera nikah?"


" Jangan di dengerin, Ma. Riko tu sukanya ngada-ngada."


" Geu gak ngada-ngada. Kan gue liat Lo tadi ngapain sama dia. Gak percaya. Tanya aja sama Tari. Ya kan Tar?"


" Hah? Iya..."


Jawab Tari cepat sambil menutup mulutnya dengan tangan.


" Emang kamu liat apa, Sayang?"


Kali ini Delila, yang bertanya pada Tari.


" Tari liat mereka ciuman Tante. Ups...maaf Len, gue keceplosan. Maaf..."


" Tariiiiii..."


Ucap semua bersamaan.


" Maaf...maaf.."


Wajah Lena semakin memerah. Malu. Mau menyalahkan Tari pun percuma. Tari memang selalu begitu, selalu saja keceplosan. Makanya mereka bertiga sangat jarang membicarakan hal pribadi pada Tari. Selain suka keceplosan, Tari lah yang paling polos diantara mereka.

__ADS_1


Semua orang menggelengkan kepalanya. Sedangkan Lena hanya tertunduk malu.


" Sudah..sudah. Secepatnya kita akan datang melamar Lena ke keluarganya. Bagaimana Lena, apa kamu siap?"


Om Robert langsung menanyakan hal itu pada Lena. Di sambut dengan anggukan oleh Lena. Membuat Tari langsung memekik bahagia dan berlari memeluk Lena.


" Selamat Lena..akhirnya kamu menikah dengan Dokter Reyhan. Tapi nanti kalo ciuman pintunya di tutup ya?"


Membuat Lena langsung memukul lengan Tari kuat. Dania hanya bisa tersenyum melihat sahabatnya berbahagia. Tak lama, Pram pun masuk.


" Ada apa ni? Kok kayaknya pada happy banget."


Pram langsung menghampiri Dania. Dan mengecup keningnya.


" Sebentar lagi, Om Robert akan mantu."


Pram langsung menatap ke arah Reyhan. Dan Reyhan tersenyum sambil memainkan alisnya. Fatma pun teringat tentang kondisi bayi Pram, yang membuat Pram harus segera menemui dokter tadi.


" Pram, dokter bilang apa?"


Pram menatap Dania sejenak. Lalu menggenggam tangannya.


" Dokter bilang, anak Pram keseluruhannya sehat. Hanya saja, karena berat badannya yang kurang, baby boy haru tetap di rawat secara intensif sampai berat badannya mencukupi. Jadi jika nanti Dania pulang, kita belum bisa bawa pulang."


Dania terdiam sesaat. Lalu menunduk. Aur matanya jatuh seketika.


" Aku bukan ibu yang baik ya, Mas?"


Pram langsung memeluk Dania. Dan menyeka air matanya.


" Gak boleh bicara seperti itu. Kamu adalah ibu terbaik untuk anak-anak Mas. Makanya baby boy, ingin segera bertemu dengan kamu. Dia pingin lihat, bagaimana wajah Bunda yang sangat hebat."


Fatma dan Rahmi serat Delila menghampiri Dania. Pram bergeser sedikit untuk membiarkan ketiga wanita yang telah lebih berpengalaman itu menghibur Dania.


" Jangan sedih, Sayang. Kamu masih bisa liat baby boy setiap hari kok. Kalau ASI nya cukup. Mami yakin, baby boy akan cepat keluar dari perawatan intensif nya."


" Iya Dania. Percaya lah. Kamu juga gak boleh stres. Karna itu bisa mempengaruhi ASI kamu nanti, Sayang."


Ucap Delila kemudian. Sedangkan Rahmi pun menceritakan jika Reyhan dulu juga lahir prematur. Namun dalam waktu sebulan, Reyhan sudah bisa mereka bawa pulang, karena berat badannya yang sudah mencukupi. Om Robert pun menyarankan untuk Dania di awasi oleh ahli gizi agar ASI nya lebih berkualitas lagi. Dan tentu saja Pram menyetujui.


" Oiya siapa nama baby boy. Dari tadi aku gak denger kalian menyebut namanya."


Tanya Riko kemudian.


" ARISCHA ZAKI FAIZAN"


Jawab Pram kemudian.

__ADS_1


__ADS_2