
Reyhan dan Lena yang masih berada di ruangan itu pun hanya saling pandang. Mereka.merasa heran dengan sikap Riko. Reyhan yang sudah mengetahui keadaan Tari saat ini, akhirnya membawa istrinya pulang.
" Kita pulang dulu, nanti malam kita datang lagi."
Lena merasa enggan meninggalkan Tari. Namun pada akhirnya Lena pun pulang setelah memastikan Tari ada yang menjaganya.
Satu jam kemudian, Reyhan datang menemui Riko yang masih berada di ruangan Tari. Tari belum sadar, karena Reyhan memang minta agar obat yang di berikan membuatnya tidur sedikit lebih lama.
" Jujur sama Gue, apa Lo ayah dari anak yang di perut Tari?"
Riko membulatkan matanya. Namun akhirnya ia mengangguk.
" Tari hamil, usia kandungannya sekitar lima Minggu, tapi kandungannya sangat lemah. Bahkan bisa berakibat keguguran jika di terus menerus stres dan tertekan. Apalagi kandungannya masih di semester awal. "
Reyhan menjeda ucapannya. Lalu menatap Riko yang masih menunduk.
" Gue harap, Lo segera nikahi Tari. Kasihan dia, gak punya siapa-siapa disini. Dia yatim piatu, Ko. Gue juga gak nyangka Lo tega. Gue masih merahasiakan ini dari istri gue, dan Dania. Gue gak tau, kalau mereka tau, bakalan gimana."
" Gue bakalan nikahin Tari. Gue gak akan lepas dari tanggung jawab."
" Gak perlu, saya gak perlu itu."
Tanpa mereka sadari, Tari sudah bangun dan mendengar kan pembicaraan mereka. Riko mendekat ke brankar Tari. Membuat Tari memalingkan wajahnya.
" Saya sudah bilang, saya gak peduli. Bapak gak perlu tanggung jawab."
Ucap Tari dengan air mata yang menetes.
" Tapi itu anak ku Tari. Aku Ayahnya."
Tari menangis, membuat Reyhan segera meminta Riko untuk keluar dari ruangan itu. Reyhan duduk di sisi brankar Tari.
" Aku mohon, biarkan aku yang merawat anak ini sendiri, Mas."
" Tari, tenang. Kamu harus tenang. Aku akan bicara lagi dengan Riko. Oke? Sekarang kamu jangan berpikir yang berat-berat. Tubuhmu butuh istirahat yang cukup. Tidurlah lagi."
Tari hanya mengangguk. Lalu Reyhan pun keluar dari kamar Tari. Di lihatnya Riko yang mondar-mandir di depan ruangan.
" Rey, gak bisa gini. Itu anakku, Rey. Aku akan tetap tanggung jawab. Bagaimana pun caranya."
__ADS_1
" Biarkan dia tenang dulu, Ko. Dia perlu istirahat. Jangan terlalu menekannya. Dia bisa stres dan berakibat fatal."
Riko kembali duduk di kursi besi yang berada di depan ruang perawatan Tari. Hatinya sakit, saat Tari menolak pertanggung jawaban darinya. Malam hari, Dania, Pram, Lena, dan Reyhan datang ke rumah sakit. Riko masih merasa di sana. Membuat Lena dan Dania menatap bingung.
" Kamu disini, Ko?"
Pram yang sudah mendengar apa yang terjadi dari Reyhan hanya menatap nya tajam. Riko yang mendapat pertanyaan dari Dania pun hanya mengangguk.
" Kalian ada hubungan apa sih?"
Tanya Lena sambil membuka makanan yang di belinya tadi untuk mereka semua.
" Pak Riko berbaik hati menjaga aku,Len. Itu aja."
Ucap Tari kemudian.
" Memangnya Tari sakit apa sih, Mas?"
Tanya Lena sambil memberikan makanan kepada suaminya. Dania pun melakukan hal yang sama. Sedangkan Riko hanya diam disana. Lalu Lena menyodorkan sebungkus makanan untuk Riko.
" Tari terkena asam lambung. Tapi perlu perawatan intensif. Itu aja."
" Aku suapin, kamu harus makan."
Riko membuka bungkusannya. Lalu menyuapkannya pada Tari. Tari menggeleng namun Riko terus memaksa. Hingga akhirnya Tari terpaksa membuka mulut.
" Tapi tadi pagi dia muntah-muntah gitu, sampe pingsan segala. Kok kayak orang hamil, Mas?"
Tanya Lena membuat Dania menatap ke arah Tari. Dan Pram menatap Reyhan.
" Ya karena kadang ciri-ciri nya hampir sama, kamu gak percaya sama ucapan aku, Sayang?"
Mereka pun hanya saling diam. Dua jam setelah itu, Dania dan Lena pun undur diri, Tari tampak beberapa kali menguap.
" Kalau ngantuk tidur lah."
Namun Tari tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih tertuju pada kata-kata Riko pagi itu. Dia akan tetap menikahi Tari, karena sedang mengandung anaknya. Sampai menjelang pagi, Tari tak dapat tidur. Bahkan saat dokter datang pun dokter mengerutkan keningnya saat memeriksa keadaan Tari.
" Apa ibu tidak tidur semalam?"
__ADS_1
Riko mengerutkan keningnya. Bagaimana Tari tidak tidur semalaman? Apa yang membuatnya tak tertidur? batinnya.
"Dok, bisakah hari ini saya pulang? Saya sudah tidak betah disini?"
Dokter tak mengizinkan, selain kondisi Tari yang tak stabil, Tari pun harus menjalani pemeriksaan lengkap untuk kehamilannya. Akhiri Tari hanya bisa pasrah. Tak lama pintu ruangan Tari di ketuk, ada supir dan Tante Delila yang datang. Delila datang menghantarkan bubur ayam untuk Tari.
" Makan dulu ya Sayang. Tante udah masakin bubur ayam untuk kamu. Kamu harus makan."
Delila membuka bekal yang di bawanya. Sedangkan Riko sedang membersihkan diri di kamar mandi di ruangan Tari.
Delila menyuapi Tari,walau Tari menolak, tapi Tante Delila tetap menyuapinya. Ada rasa haru menjalar di hati Tari, seandainya dirinya masih memiliki ibu pasti saat ini ibunya pun akan melakukan hal yang sama.
" Jangan nangis, Sayang. Tante tidak ingin, cucu Tante nantinya jadi cengeng."
Ucap Delila sambil membelai perut rata Tari. Membuat Tari membulatkan matanya.
" Tante sudah tau semuanya. Tante minta maaf atas sikap anak Tante. Tante juga kecewa. Ayahnya juga."
Wanita yang masih terlihat muda di usianya itu pun menetes kan air matanya. Tari langsung memeluk Delila dan di sambut dengan belaian di rambut Tari.
" Riko akan tetap menikahi kamu, Sayang."
Tari menggeleng.
" Tari gak mau mengikat Pak Riko dengan pernikahan tanpa cinta, Tante. Tari merelakan semua yang terjadi pada Tari. Tari ikhlas Tante. Tari hanya minta, biarkan Tari hidup tenang dengan anak ini nantinya. Hanya itu. Tari gak akan menyematkan nama Hanudinata di belakangnya. Tari janji Tante. Tari gak akan ganggu hidup kalian, sampai kapan pun."
Ucap Tari sambil terisak. Membuat Riko yang sedari tadi masih berdiri dan mendengarkan pembicaraan mereka pun tercubit hatinya.
" Tari gak mau menghancurkan hidup orang lain Tante. Cukup hidup Tari saja. Pak Riko berhak bahagia. Dia hanya akan merasa terbebani dengan menikahi Tari."
Delila tak sanggup menahan air matanya. Hatinya begitu hancur, mendengar Tari yang rela pergi hanya karena tak ingin menghancurkan hidup Riko. Walau sebenarnya Riko lah yang telah menghancurkan hidupnya.
Riko keluar dari kamar mandi, dan membuat Tari menghapus air matanya. Dan menghentikan tangisannya. Begitu juga dengan Delila.
" Bunda pulang dulu, Ko."
Ucap Tante Delila setelah Tari terlihat tenang. Setelah meminum obat pagi itu, Tari baru bisa tertidur. Riko memperhatikan wajah pucat dan tirus Tari, lalu melihat ke arah perutnya yang masih datar.
" Bun, siapkan semua nya."
__ADS_1