
Saat makan malam, Dania terlihat sangat berbeda. Jika biasanya dirinya melayani Pram, tapi malam.ini, Dania hanya mementingkan Cilla. Fatma yang melihat itu, hanya menatap dingin ke arah Pram.
" Sayang, kamu juga makan, ya. Cilla ada mbok Sri yang mengurusnya."
Fatma meminta Dania untuk makan. Bahkan Fatma mengisi piring Dania dengan makanan.
" Cukup, Mi."
Fatma menghentikan gerakannya yang ingin menambah isi piring Dania.
" Habiskan ya, Sayang."
Dania mengangguk patuh. Karena dirinya sadar, saat ini bukan hanya diri nya sendiri yang harus makan, ada calon anaknya yang harus diperhatikannya.
Dania makan dengan perlahan. Membuat Fatma melihat ke arahnya.
" Sayang, kenapa? Kamu gak suka? Apa mau mami buatkan yang lain?"
Dania menggeleng. Dengan mata yang sedikit sembab akibat menangis tadi, Dania meminta izin pada Fatma.
" Mi, apa boleh Dania pakai kamar tamu yang di bawah?"
Pram terkejut dengan permintaan Dania. Dulu, saat hubungan mereka masih tak jelas pun, Dania memilih tidur di kamar Pram. Tapi kini, Dania meminta izin untuk tidur di kamar tamu.
" Sayang, kenapa kamu-"
" Boleh, Sayang. Kamu boleh pakai kamar itu. Biar nanti Mbak Ratih yang membereskannya. Sekarang kamu makan. Kesehatan kamu itu penting."
Dania melanjutkan makannya. Tak sedikit pun Dania menatap ke arah Pram. Pram tak melanjutkan makannya, semua itu tak luput dari pandangan Dania. Namun Dania hanya diam.
Setelah makan malam itu berakhir, Dania menuju kamar yang di tempatinya bersama Pram. Dania mengambil beberapa barang nya. Dan akan memindahkannya ke kamar tamu.
__ADS_1
" Sayang, mas tau, mas salah. Tapi mas mohon kamu jangan begini. Maafin kesalahan Mas. Mas janji, gak akan ikut campur masalah rumah tangga Sea lagi. Mas akan melibatkan kamu. Mas akui mas salah, sayang."
Pram mencoba memohon pada Dania. Namun Dania tak bergeming. Dania tetap diam. Dania begitu kecewa dengan ucapan Pram yang tak menginginkan anak dari dirinya. Di tambah dengan Pram yang lebih mementingkan Chelsea dari pada dirinya.
" Aku butuh waktu untuk sendiri. Aku akan memberikannya waktu untuk kita. Apa kita harus-"
" Enggak, Sayang. Mas gak ingin pisah dari kamu."
Dania menatap Pram dengan tatapan tak terbaca. Hingga akhirnya, Pram pun mengalah.
" Oke, mas izinin kamu untuk tidur terpisah. Biar Mas yang tidur disana. Kamu tetap di kamar ini. Tapi hanya untuk malam ini. Besok kita harus bicara."
Pram keluar dari kamar. Dan membiarkan Dania sendiri di kamar itu. Fatma yang melihat itu, hanya mampu menghela nafasnya.
" Kamu perlu di tegasin, Pram. Mami gak menyalahkan Dania. Karena jelas, disini kamu yang salah."
Fatma bermonolog. Saat di lihatnya Pram masuk ke kamar tamu, Fatma pun segera ke dapur. Menyiapkan segelas susu untuk Dania. Segelas susu itu, kini sudah ada di tangan Fatma, dirinya pun ke kamar Dania. Setelah mendapatkan izin masuk dari Dania, Fatma pun masuk ke kamar itu.
Fatma menyodorkan gelas berisi susu itu pada Dania. Dania menatap mertuanya. Lalu Fatma pun mengangguk kecil.
" Mami sudah tau, Sayang. Mami akan selalu ada untuk kamu. Kamu bukan hanya menantu bagi Mami. Tapi kamu juga putri mami."
Dania terharu mendengar ucapan mertuanya. Lalu memeluk mertuanya itu, dan menangis di pelukan wanita yang telah melahirkan ayah dari calon anaknya itu.
" Kamu jaga cucu Mami baik-baik ya, Sayang. Kalau kamu pingin makan sesuatu, kamu bisa bilang mami."
Dania mengangguk di sela isak tangisnya. Fatma menyeka air mata yang jatuh di pipi Dania.
" Jangan menangis lagi, cucu mami juga akan sedih, kalau Bundanya bersedih."
" Terima kasih, Mi. Dania sangat bersyukur memiliki mertua sebaik mami dan Pak Sofyan."
__ADS_1
Fatma tersenyum.
" Papi, Sayang. Dan sebenarnya mami dan papi lah, yang bersyukur memiliki menantu sebaik dan selembut kamu. Menyayangi Cilla dengan tulus. Dan menyayangi kami semua. Mami percaya, kalau papi masih ada, saat ini adalah saat yang paling membahagiakan untuknya."
Dania tersenyum tipis. Fatma pun bangkit dari duduknya.
" Segera habiskan susu nya. Setelah itu istirahat. Dan jangan lupa vitamin nya."
" Iya,.Mi."
Dania pun meminum susu yang di buatkan oleh mertuanya. Lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Malam ini, ranjang itu terasa dingin. Sedingin hati hati Dania.
Malam berganti pagi. Cahaya mentari masuk melalui celah gorden kamar yang tak rapat. Dania mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Dania bangkit dari tidurnya, meregangkan tubuhnya agar sedikit lebih rileks.
" Bunda..."
Suara Cilla mengalihkan perhatian Dania. Cilla sudah tampak rapi di depan pintu kamar Dania. Lalu Dania berjongkok menyetarakan tingginya dengan Cilla.
" Cilla udah rapi, Nak. Maaf ya, Bunda kesiangan."
" Gak apa-apa, Bunda. Kata Oma, Bunda lagi sakit. Jadi Cilla siap-siap nya sama Mbok Sri aja."
Dania membelai rambut Cilla lalu mencium pipinya. Tampak Pram menaiki tangga, dan sepertinya juga belum bersiap. Tampak Pram yang masih menggunakan piyama.
Pram pun segera memeluk putrinya dan berbincang sejenak. Entah apa yang di katakan, oleh Pram. Dan membuat Cilla pergi dengan wajah yang biasa saja.
" Bunda, Cilla berangkat sekolah dulu ya. Dah Bunda
" Dah, Sayang. Jangan lupa bekalnya ya, Nak."
Setelah mencium pipi dania. Cilla pun kembali ke bawah.
__ADS_1