
Pram memperhatikan wajah Dania yang masih tertidur pulas. Setelah subuh tadi, Pram kembali mengulang aksinya. Bahkan lebih lama dan lebih panas dari malam itu. Dania masih tertidur tanpa memakai sehelai benang di tubuhnya. Tubuhnya sangat kelelahan.
Pram pun kembali mengingat saat menjelang subuh, dan Dania masih berada di kamar mandi, bercak darah masih menempel di seprei putih miliknya. Ada rasa bangga melihat tanda itu, yang menandakan bahwa dirinya lah yang pertama untuk Dania. Bekas gigitan di bahunya pun menandakan bahwa permainannya begitu dahsyat.
Pram menarik perlahan tangannya yang menjadi tumpuan Dania. Lalu menggantinya dengan sebuah bantal. Pram turun dan mencari boxernya yang di campakkan asal oleh nya pagi tadi.
Setelah Pram mandi, dan berpakaian. Pram pun turun menuju dapur. Pagi ini, Pram akan membuatkan segelas susu dan juga roti untuk Dania. Tak sampai sepuluh menit, Pram sudah kembali ke kamar. Dania masih terlelap di balik selimutnya. Pram masih setia menunggu Dania yang tertidur nyenyak.
Waktu bergerak, jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun sepertinya Dania masih terbuai di alam mimpinya. Pram pun mencoba membangunkannya. Pram membelai wajah Dania, membuat gadis yang kini bergelar wanita itu mengerakkan kepalanya.
" Sayang, bangun dong. Udah siang loh."
Namun Dania hanya melenguh, tanpa membuka matanya. Kembali Pram membangunkan Dania dengan lembut.
" Bangun dong, Yang. Kamu pules banget sich bobo nya. Dania...sayang..bangun yuk.."
Dania pun mengerjakan matanya, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Melihat Dania yang sudah membuka matanya, Pram pun bangkit dan menyingkap gorden kamar. Cahaya matahari langsung masuk menerangi kamar itu. Pram kembali mendekati Dania, yang masih duduk di ranjang. Rambut Dania di rapikan dan selipkan di balik telinganya.
" Mau mandi atau mau makan dulu."
" Mandi, badan rasanya remuk.."
Dania berkata sambil meregangkan tubuhnya, dan selimut yang menutupi bagian dadanya merosot. Membuat Pram menatap jail.
" Jangan macem-macem ya, Mas. Badan aku sakit semua."
Dania langsung menaikkan kembali selimut untuk menutupi bagian dadanya. Sedangkan Pram tertawa sambil mengacak rambut Dania.
" Tunggu sebentar, Mas buat airnya dulu."
" Gak usah, biar aku aja."
Dania merasa tak enak, jika Pram yang akan menyiapkan air mandinya. Namun Pram tak mengindahkan, malah meminta Dania untuk tetap di ranjang.
" Sudah, sekarang kamu mandi ya. Air hangat nya udah Mas siapkan."
Dania menapakkan kakinya, ketika akan melangkah, rasa perih masih menyerang inti tubuhnya. Membuat Dania meringis.
" Sakit banget,.. "
" Mas gendong aja, ya."
Pram langsung mengangkat tubuh Dania. Membuat Dania memekik, dan memukul dada Pram. Bukannya marah, Pram hanya tersenyum. Apalagi kini wajah Dania bersemu merah. Pram mendudukkan Dania di atas closet lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dania menutupi bagian dada dan merapatkan kakinya saat selimut itu di lepas dari tubuhnya.
" Gak usah malu, mas udah lihat semua. Bahkan mas udah merasakan."
__ADS_1
" Omongannya tolong di saring ya Pak Pramudya Hanudinata,..."
Pram tertawa lebar, mendengar ucapan dari Dania.
" Baiklah nyonya Pramudya Hanudinata, sekarang waktunya merilekskan tubuh."
Pram mengangkat tubuh Dania dan perlahan-lahan meletakkannya di dalam bath tub. Aroma lavender yang menenangkan serta suhu air yang hangat membuat tubuh Dania menjadi lebih rileks. Apalagi dengan pengharum aroma terapi yang di pakai oleh Pram membuat Dania memejamkan mata menikmati aroma itu.
Di luar kamar mandi, Pram membereskan ranjang, dan kembali tersenyum saat melihat bercak yang tertinggal di atas seprei putih miliknya. Pram segera menggantinya dan meletakkan yang kotor di keranjang pakaian kotor.
Tak lama, Pintu kamar mandi pun terbuka. Pram melihat ke arah Dania yang keluar menggunakan bathrobe putih. Melihat jalan Dania, dengan jail Pram kembali bertanya.
" Kok jalannya gitu?"
Dania memutar malas matanya. Dan saat membuka lemari dan ingin mengambil pakaiannya, dengan cepat tangan Pram melingkar di perut Dania.
" Terima kasih,.."
Pram berbisik di telinga Dania, membuat dirinya meremang.
"Untuk apa?"
Jawab Dania lembut.
" Untuk semuanya...dan untuk hadiah yang kamu berikan malam tadi. Dan olah raga subuh tadi."
Pram mencium pipi Dania. Lalu menarik tangan Dania untuk duduk di sofa bersamanya.
" Sarapan dulu. Kamu bisa sakit kalau makan aja sering gak teratur."
Dania menerima suapan dari Pram. Bahkan Pram membersihkan sisa coklat yang menempel di sudut bibir Dania.
Setelah selesai sarapan, kini Dania hanya rebahan di atas ranjang. Tubuhnya benar-benar terasa remuk. Membuat Pram yang melihatnya iba.
" Masih sakit banget ya?"
Dania menoleh melihat Pram yang bertanya.
" Maksudnya?"
" Itu...apa masih sakit banget?"
Mata Pram mengarah ke inti Dania. Membuat Dania membulatkan matanya.
" Pertanyaannya nya gak ada yang lain apa."
__ADS_1
Pram membelai kepala Dania. Dan membawanya menyender di bahunya.
" Abisnya kamu dari tadi kayak gak nyaman, jadi Mas tanya dong. Masih sakit gak?"
" Enggak."
Pram tersenyum. Tak lama ponsel Pram berbunyi. Lalu Pram keluar dari kamar. Sedangkan Dania menatapnya bingung.
Pram kembali masuk ke kamar setelah sekitar lima belas menit keluar.
" Makan siang dulu, habis itu kamu bisa istirahat lagi."
Pram menjulurkan tangannya pada Dania. Dan Dania pun menerimanya. Pram dan Dania menikmati makan siang berdua. Tak lama, ponsel Pram kembali berbunyi. Ternyata Fatma yang melakukan panggilan .
"Bunda...."
Suara lengkingan dari ujung telepon membuat Dania menatap layar ponsel milik Pram.
" Sayang...Bunda kangen..."
" Bunda Cilla suka disini. Banyak temen. Bunda jangan sedih ya.."
" Cilla kapan pulang?"
Dania berusaha menahan agar air matanya tidak menetes.
" Nanti ya, Bunda. Kalau Cilla udah bosen, Cilla pulang...Dah Bunda..."
Fatma pun melanjutkan panggilan nya.
" Dani, Sayang. Kamu sehat kan Nak? Maaf ya, mami mungkin sedikit lama disini. Kalian nikmati aja masa bulan madu nya. Mami pingin, saat mami pulang, sudah dapat kabar gembira dari kalian."
Dania hanya tersenyum canggung, lalu menatap Pram yang tersenyum penuh arti padanya.
Setelah puas berbincang, panggilan itu pun berakhir.
" Maksud mami tadi apa ya, Mas."
Pram mengangkat kedua bahunya. Sedangkan Dania terus menatap tajam pada Pram.
" Iya..iya, tadi pagi mami telepon. Sewaktu kamu masih tidur. Trus ya aku liatin aja ke mami, kamu yang lagi tidur nyenyak banget."
Mata Dania membulat seketika. Bahkan Dania sampai tersedak dengan minuman nya .
" Jadi..."
__ADS_1
" Mas gak ada bilang apa-apa loh, Sayang."
Wajah Dania memerah, Dania sudah menduga, pasti mertuanya itu sudah berpikir yang tidak-tidak. Mertuanya pasti berpikir bahwa Dania dan Pram sudah melakukan hal yang seharusnya.