Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 77


__ADS_3

Waktu bergerak maju. Sudah sebulan Cilla keluar dari rumah sakit. Kini Cilla tengah menikmati sarapannya. Di temani oleh Papa dan Omanya. Sedangkan Dania sudah lebih dulu ke cafe. Karena malam nanti akan ada yang membooking cafe nya untuk acara ulang tahun. Dan Dania sendiri yang turun tangan mengawasi semuanya.


" Cilla, nanti pulang sekolah di jemput Oma ya?"


" Iya, Pa. Tapi Cilla boleh singgah ke cafe Bunda gak? Cilla kangen."


Pram menaikan alisnya. Mendengar kata kangen yang di lontarkan putrinya.


" Iya, Papa. Cilla kangen Bunda."


Fatma mengulum senyum mendengar ucapan Cilla.


" Bunda baru pagi ini gak nemenin kamu sarapan, Nak. Masa gitu aja udah kangen."


Ucap Pram sambil mengoleskan selai ke roti yang akan di makan nya.


" Sebenarnya, Cilla cuma mau liat aja, Bunda emang di cafe atau pergi lagi kayak waktu itu. Kan Cilla takut."


Pram menatap putrinya yang berbicara. Sedangkan Fatma mengehentikan kunyahan nya. Kini mereka tahu, seperti apa perasaan Cilla saat Dania pergi. Dan Pram berjanji untuk tidak mengulang kebodohan yang sama.


Pram masih mengingat, percakapannya saat Cilla baru saja pulang dari rumah sakit.


Flashback on


" Aku mencoba untuk melupakan kejadian lalu Mas. Bukan demi kita, tapi demi Cilla. Dan demi anak yang aku kandung. Tapi jika nanti di tengah jalan, mas kembali nyaman dengan wanita itu, aku pergi dan tak ingin melihat ke belakang lagi."


" Mas janji. Mas akan mulai menjaga jarak dengan Chelsea. Kalian adalah dunia Mas."


" Tapi buktinya, begitu melihat wanita itu, Mas berhenti sejenak kan? Aku merasa-"


" Tolong, Sayang. Beri Mas kepercayaan. Mas akan berusaha untuk menjadi Suami yang baik untuk kamu."


" Buktikan."


Flashback off.


Setelah menghantarkan Cilla ke sekolah, Pram berbalik arah dan menuju cafe Dania. Perkataan Cilla yang ingin memastikan Bundanya tetap berada di sisi nya, menggangu pikiran Pram.


Setiba di parkiran, Pram melihat mobil Dania sudah ada di sana. Tejo yang kini menjadi supir pribadi Dania pun berada tak jauh dari mobil itu. Pram masuk ke cafe, karyawan Dania yang mengenal Pram menunduk hormat. Dan di balas dengan senyuman oleh Pram. Pram langsung menuju ruangan Dania. Dania tak ada disana. Pram pun mulai berpikir yang tidak-tidak.


" Dimana Bu Dania?"

__ADS_1


Tanya Pram pada salah satu karyawan cafe yang di dijumpainya. Karyawan itu memberitahukan bahwa Dania tengah berada di dapur. Dan Pram pun langsung menuju ke dapur. Di dapatinya Dania yang sedang memberikan arahan pada karyawan nya.


Setelah selesai memberikan pengarahan, Dania pun berbalik, dan di lihatnya Pram yang sudah berdiri tak jauh dari pintu.


" Mas, ada apa?"


Pram memeluk Dania. Dan mencium kening nya.


" Gak ada apa-apa. Cuma pingin liat istri Mas aja. Kangen tadi pagi gak sempat peluk dan cium kamu."


" Apaan sih, gak jelas."


Ucap Dania sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan Pram hanya tersenyum. Pram dan Dania melangkah menuju lantai dua, Pram membantu Dania saat berjalan di tangga.


" Hati-hati, Sayang. Kamu sedang hamil."


Pram masih menggenggam tangan dan memegang pinggang Dania. Membuat Dania merasa seperti orang sakit.


" Mas bisa. Aku bukan orang sakit."


" Iya, Mas tau. Mas gak mau kamu gak hati-hati, makanya Mas pegangin kamu."


Setiba di ruangan Dania. Pram melihat sebuah bungkusan di atas meja Dania.


" Belum sempat. Mas sudah sarapan?"


Pram mengangguk, lalu di bukanya bungkusan di atas meja Dania. Seporsi nasi kuning. Pram menatap sendu ke arah Dania.


" Kalau kamu pingin makan sesuatu, kamu bisa bilang sama Mas."


Dania tau arah pembicaraan ini. Namun Dania hanya tersenyum tipis. Pram menyodorkan sendok yang berisi makanan ke arah mulut Dania. Namun Dania mengambil sendok yang ada di tangan Pram.


" Aku bisa malam sendiri, Mas. "


Dania pun memakan nasi itu dengan tenang. Banyak yang ingin Pram tanyakan, namun di tahan sampai Dania selesai makan. Pram tak ingin merusak mood Dania yang sedang menikmati nasi kuning itu. Seperti kejadian saat di rumah sakit, Pram protes dan Dania pun menyelesaikan makannnya. Pram tau itu, karena Fatma yang memberitahukan kepada Pram.


Setelah Dania selesai makan, Pram meminta Dania untuk duduk di sisinya. Dania pun duduk di sisi Pram. Pram mengusap perut Dania sudah menonjol.


" Nanti sore, kita ke mall yuk. Kita neli baju-baju hamil untuk kamu."


Dania menggeleng.

__ADS_1


" Aku masih bisa pakai baju aku kok, Mas. Gak perlu lah."


" Sayang, Mas ingin membersamaimu saat ini. Mas ingin seperti suami-suami lain, yang menuruti ngidam istri mereka."


" Tapi aku memang masih bisa pakai dress aku yang dulu, Mas. Masih muat."


Pram menghela nafas. Tak ingin berdebat, yang akan membuat hubungan mereka kembali kacau. Pram pun membelai perut Dania. Lalu wajahnya semakin mendekat ke arah perut. Pram mencium perut itu.


" Kalau Dede pingin sesuatu, Dede minta ke Papa ya, Nak. Papa akan berusaha menuruti mau nya Dede. Tolong bujuk Bunda juga ya. Agar meminta sama Papa."


Mendengar ucapan Pram. Membuat Dania terharu. Namun kembali sekelabatan ucapan Pram waktu itu kembali menari.


" Apaan sih, Mas. Masa anaknya di ajarin begitu. Gak baik."


" Kan minta sama Papanya. Gak apa-apa dong."


" Terserah kamu lah, Mas."


Pram melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Seandainya tak ada rapat penting siang ini, Pram lebih memilih berlama-lama bersama Dania pagi itu. Dengan berat hati, Pram pun berpamitan pada Dania.


Dania menghantarkan Pram ke depan. Lalu setelah mobil yang di kendarai Pram menghilang, barulah Dania masuk. Dania sudah berada di ruangannya. Dan saat pandangannya menyapu sekeliling, Dania melihat ponsel Pram yang berada di sofa tempat mereka duduk tadi.


"Ini kan ponsel Mas Pram. Kok ketinggalan sih."


Dania menimbang-nimbang, Dania sangat penasaran, dan ingin melihat isi ponsel itu. Namun Dania tak ingin lancang. Akhirnya, Dania pun memilih untuk menghantarkan ponsel itu ke kantor Pram.


Tiga puluh menit kemudian, Dania tiba di depan gedung bertingkat, dimana Pram memimpin. Dania masuk dan langsung menuju lantai di mana Pram berada. Namun langkahnya terhenti, saat berada di depan pintu ruangan suaminya. Ruangan itu terbuka, namun ada suara seseorang disana.


" Kamu kenapa, Pram? Kenapa kamu blokir aku?"


" Sea, Maaf. Aku gak mau menyakiti Dania. Cukup sudah kekacauan yang terjadi kemarin."


" Apa Dania cemburu?"


Tanya Chelsea kepada Pram.


" Wajar jika dia cemburu, Sea. Aku suaminya, dan saat ini dia sedang hamil. Jadi lebih baik, untum saat ini, kita jaga jarak."


Dari nada suaranya, terdengar Chelsea yang sedang tertawa sinis.


" Karna wanita itu kamu mau jaga jarak dengan ku Pram. Kamu lupa, bagaimana kamu dulu mengejar-ngejar aku? Dan aku yakin, saat ini kamu juga masih cinta kan sama aku?"

__ADS_1


" CHELSEA...."


__ADS_2