
Setelah makan siang, kini Dania berada di kamar. Dania bersender pada ranjang. Dania menghela nafasnya lalu menatap tangannya yang tadi telah berani menampar Chelsea. Pram yang melihat Dania menatap tangannya pun menggenggamnya erat tangan Dania.
" Kenapa?"
Dania melihat ke arah Pram. Sedangkan Pram kini telah duduk bersila di hadapan Dania.
" Aku terlalu emosi hingga menampar wajahnya tadi. Apa aku keterlaluan?"
" Tidak, Mas justru bangga, itu membuktikan bahwa kamu mencintai Mas."
Waktu bergerak maju. Tanpa terasa kini usia kehamilan Dania memasuki bulan ke tujuh. Pram berencana melakukan acara tujuh bulanan. Fatma dan Pram sangat antusias untuk membuat acara tersebut.
" Jangan lupa untuk mengundang seluruh kerabat kita, Mi."
Fatma mengangguk. Namun ada hal yang menggangu di hati Fatma. Akankah Fatma mengundang ibunya. Mengingat bagaimana pertemuan terakhir Pram dengan Oma nya itu.
" Pram, apa kita akan mengundang Oma kamu?"
" Pram tidak ingin ada siapa pun menyakiti Dania, Mi. Jika Oma bisa berjanji tidak akan menyakiti Dania. Pram tidak keberatan dengan kehadiran Oma."
Fatma mengangguk paham. Tak lama, Pram pun masuk ke kamarnya, melihat Dania yang sedang kesusahan untuk mengambil barang yang jatuh, dengan cepat Pram berjalan dan mengambilkan barang itu untuk Dania.
" Kalau perlu bantuan, kamu bisa panggil Mas, Sayang."
Ucap Pram sambil mencium kening Dania.
" Cuma ambil anting ini aja. Masih bisa kok, Mas."
Pram membimbing Dania untuk duduk di tepi ranjang. Lalu menggenggam tangan Dania.
" Minggu depan, kita akan adakan acara tujuh bulanan untuk anak kita. Mami berencana mengundang Oma. Kamu gak keberatan kan? Kalau kamu kurang nyaman, mami gak akan ngabari Oma."
Dania tersenyum lembut. Lalu mengusap punggung tangan Pram.
" Sebaiknya kita tetap memberikan kabar ini pada Oma. Bagaimana pun, Oma itu orang tua mami. Neneknya kamu Mas. Dan buyutnya Cilla. Rasanya kurang pantas, jika kita tidak menghargainya sebagai orang tua di keluarga."
__ADS_1
Pram memeluk Dania. Istrinya ini memang sangat baik hati. Perilaku Oma nya saat itu pun tidak di ingat nya lagi. Dania hanya ingin di saat hari bahagianya, semua orang berada di sisinya.
Hari berlalu begitu cepat, kini hari itu akan terlaksana. Dania sudah cantik sejak pagi dengan gamis putih, dan Pram menggunakan koko putih, serta si cantik Cilla yang memakai gamis yang sama seperti sang Bunda. Acara di awali dengan pengajian. Pengajian di laksanakan dengan khusyuk. Dania tak hentinya berdoa, agar dirinya di beri kelancaran saat menjalani prosesi melahirkan nanti. Begitu juga Pram, yang mengucapkan doa di dalam hati, agar istri dan anaknya selamat saat proses kelahiran nya nanti.
Walau di dalam hatinya, Pram sangat ketakutan. Bayangan kejadian yang menimpa Sabina saat melahirkan Cilla sering menghantuinya akhir-akhir ini. Namun Pram selalu berusaha menepis itu semua. Dirinya selalu berusaha untuk berpikir positif.
Setelah acara pengajian, kini Dania kembali ke kamar, kali ini Dania akan mengganti pakaiannya menggunakan kebaya, rambutnya juga akan di sanggul dan di hias dengan ronce melati. Lena, Tari dan Selly yang mendampingi Dania selama di rias pun tak kalah bahagia.
Bahkan Tari dan Lena beberapa kali harus menyeka air matanya. Membuat Dania melihat ke arah mereka.
" Kalian kenapa? Kok sedih."
Dania bertanya pada Lena dan Tari. Namun kedua sahabatnya itu menjawab dengan sesekali menyeka air mata.
" Kami bahagia banget, Dan. Semoga kamu dan anak kamu di beri kesehatan, keselamatan dan juga kelancaran saat melahirkan nanti."
" Aamiin. Makasih sayang-sayang ku. Kalian sahabat terbaik yang aku punya."
Dania menjawab sambil merentangkan tangannya, dan kini mereka bertiga berpelukan. Bahkan mereka kini menangis bahagia bersama.
Selly protes. Dan membuat mereka tertawa. Lalu Dania mengajak Selly untuk ikut masuk dalam pelukan. Kini keempat sahabat itu saling berpelukan. Pelukan mereka terhenti, saat Dania merasa pintu kamar nya di ketuk.
" Masuk."
Dania membulatkan matanya. Saat melihat siapa yang masuk. Sementara ketiga temanya pun hanya saling pandang. Tampak wajah tegang Dania saat melihat wanita itu masuk ke kamarnya.
" Hai Dania. Sudah lama tidak bertemu ya?"
" Oma.."
Dania mengucap lirih dan hampir tak terdengar. Dania pun segera menjulurkan tangannya untuk mencium tangan wanita yang telah melahirkan ibu mertuanya itu.
Tadinya Dania menyangka, akan di tolak oleh Oma dari suaminya ini. Namun semua berbeda. Oma tidak menepis tangan Dania. Bahkan Oma memeluk dan mencium Dania.
" Selamat ya Sayang. Oma doakan semoga kamu bahagia dan lancar menghadapi persalinan mu nanti."
__ADS_1
" Terimakasih Oma. "
Oma Salma memperhatikan Dania. Lalu menghela nafasnya. Air matanya jatuh seketika. Oma Salma menangis di hadapan Dania. Membuat Dania dan juga teman-temannya bingung.
" Maafkan Oma, Dania. Dulu Oma bicara kasar dan menyakiti perasaan kamu. Oma selalu menganggap bahwa apa yang Oma pikirkan itu selalu benar. Tapi kemarin, Fatma mengatakan semuanya pada Oma. Dan Oma sadar, jika semua penilaian Oma terhadap kamu itu salah."
Dania kembali memeluk tubuh tua wanita yang selama.ini di hormati oleh seluruh keluarga. Setelah itu, Oma Pram pun melerai pelukan itu. Di belakangnya sudah ada seorang wanita yang memegang sebuah kotak beludru berwarna merah. Dan Oma meminta wanita itu untuk mendekat.
" Oma harap, kamu mau menerima pemberian Oma."
Oma Salma menyodorkan kotak itu. Dan dengan isyarat meminta Dania membukanya. Satu set perhiasan bertahtakan berlian tersusun di sana. Dania terkejut, begitu juga dengan ketiga sahabatnya.
" Oma, Dania rasa ini berlebihan. Dania gak bisa menerima ini, Oma."
" Dania, kamu mau buat Oma sedih. Kamu terima ya, Sayang."
Saat Dania akan menolak, Pram masuk ke dalam kamar. Melihat Oma Salma dan Dania, sangat dekat, membuat Pram melangkah dengan cepat ke arah mereka.
" Ada apa, Oma? Apa Oma mau menyakiti Dania lagi?"
Dania memegang lengan Pram bahkan mengelusnya. Menggeleng kan kepalanya pelan. Sedangkan Oma Salma, tampak menunduk sesaat lalu menatap Pram.
" Oma hanya ingin minta maaf pada Dania. Dan Oma juga minta maaf sama kamu, Pram. Karena Oma selalu merasa bahwa apa yang Oma pikirkan itu selalu benar. Maafkan Oma, Pram."
Pram melihat ke arah Dania. Dania pun meminta Pram untuk memaafkan Omanya. Namun Pram tak bergeming, masih tetap diam. Hingga pada akhirnya, Oma Salma memilih untuk melangkah keluar dari kamar.
" Oma, tunggu."
Dania mendekat ke arah Oma Salma. Lalu memeluknya.
" Maafkan Mas Pram ya, Oma."
" Tidak, Sayang. Disini memang Oma yang salah, wajar jika Pram belum mau memaafkan Oma. Kamu jaga kesehatan dan jangan kecapean. Jaga cicit Oma ya. "
Oma Salma pun keluar bersamaan dengan ketiga sahabat Dania yang lain. Mereka ingin memberikan ruang untuk kedua suami istri itu bicara.
__ADS_1