
Setelah mendapatkan resep dari dokter Dina, Pram pun segera ke apotik untuk menebus obat dan vitamin untuk Dania. Dan saat mengantri, Pram bertemu dengan Revan yang juga sedang mengantri untuk membeli obat tambahan bagi Chelsea. Dania yang melihat dari bangku besi hanya diam saja.
" Revan? Kamu ngapain disini?"
" Pram, aku sedang menemani Chelsea. Chelsea mengalami musibah, hingga anak kami tidak bisa di selamatkan."
Tampak wajah sedih Revan saat menceritakan musibah yang di alami Chelsea. Tak lama terdengar suara apoteker memanggil, dan Revan pun pergi setelah mendapatkan obat dan berpamitan pada mereka berdua.
Tak lama Pram pun mendapatkan obat serta vitamin untuk Dania. Pram pun mengajak Dania untuk kembali ke ruangan Cilla. Disana Cilla sudah bangun dan sedang di temani oleh Reyhan.
" Bagaimana? Dokter Dina bilang apa?"
Reyhan pun segera bertanya pada Pram. Pram menatap ke arah Dania yang mendekati Cilla. Dan bermain bersamanya.
" Dania terlalu lelah, tapi Alhamdulillah anak kami baik-baik saja. Sehat, detak jantungnya juga bagus."
Reyhan berucap syukur. Lalu Pram kembali berkata, walau sedikit berbisik.
" Gue ketemu Revan, dan dia-"
" Lo gak usah mikirin itu. Sekarang Lo pikirin bagaimana caranya agar Dania tetap bertahan di sisi Lo."
Pram mengangguk, lalu tak lama berpamitan.
" Cilla, om Rey pulang dulu ya. Cepet sembuh, biar cepat pulang. Oke? Jangan lupa minum obat dan vitaminnya."
Ucap Reyhan sambil mengacungkan jempolnya. Dan Cilla pun membalas dengan mengajungkan jempol pada Dania.
" Kamu juga, Dania. Minum vitamin dan obat nya. Jangan terlalu lelah."
" Oke, Mas. Makasih."
Reyhan mengangguk.
" Gue balik, Pram. Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama. Ingat Chelsea punya suami dan keluarga. Jangan terus menerus melindunginya dan menjaganya."
Reyhan berkata sambil berbisik, lalu menepuk pelan bahu Pram sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Selepas kepergian Reyhan, Pram pun mendekati Cilla. Pram menyentuh kening Cilla. Suhu tubuhnya sudah menurun, namun masih harus di rawat sampai besok.
__ADS_1
" Kamu makan malam dulu ya, Nak. Setelah itu minum obatnya."
Pram menyodorkan sendok berisi makan malam Cilla. Kali ini, Pram yang menyuapi Cilla, di dampingi noleh Dania. Setelah Cilla selesai makan, kini Cilla pun sudah meminum obatnya.
" Pa, kapan Cilla pulang? Cilla udah bosen disini."
" Besok kita tanya dokter ya."
Dania memegang tangan Cilla yang bebas tanpa selang infus. Lalu mengecupnya.
" Bunda ikut pulang ke rumah kan? Cilla gak mau di rumah kalau Bunda gak ada. Bunda ikut pulang kan?"
Pram menatap harap ke arah Dania. Anggukan atau jawaban iya, adalah hal yang paling di tunggu. Namin Dania tak menjawab, Dania hanya tersenyum lalu mengucap dan mengecup pucuk kepala Dania. Membuat Cilla pun diam. Seakan mengerti apa yang di isyarat kan oleh ibu sambungnya ini.
Pukul sepuluh malam, dan Cilla pun sudah tertidur di ranjangnya. Dania yang masih berselanjar di dunia maya, melihat Pram yang baru kembali. Sehabis isya, Pram keluar untuk sekedar minum kopi di cafe depan rumah sakit. Sebenarnya Dania juga di ajak, namun Dania lebih memilih menemani Cilla di rumah sakit.
" Maaf ya, Mas lama. Tadi gak sengaja ketemu temen, dan kita ngobrol. Ternyata istrinya juga di rawat disini. Istrinya baru aja melahirkan."
Dania hanya memperhatikan, tanpa menyela ucapan Pram. Melihat itu, Pram pun menghela nafasnya.
" Kamu masih marah sama Mas? Kamu bisa tampar, bisa maki , tapi Mas minta, jangan acuhkan Mas lagi, Sayang. Mas sedih. Mas tahu, Mas salah."
" Apa mas tidak berniat menjenguk Mbak Chelsea?"
Pram menatap penuh tanya ke arah Dania.
" Mas sebenarnya-"
" Pergilah..."
Jawab Dania cepat, dan langsung merebahkan dirinya. Pram ikut masuk ke dalam selimut yang di gunakan Dania. Tangannya melingkar di pinggang Dania, dan membelai perutnya yang mulai membuncit dari arah belakang.
" Aku mau istirahat, Mas. Tolong jangan ganggu."
" Mas gak akan menemui orang yang membuat istri Mas sedih. Mas janji, mulai saat ini, mas akan menjauhi Chelsea."
Lama kelamaan, Dania pun terpejam. Rasa nyaman terasa di hatinya. Saat Dania berbalik, Dania menatap wajah tirus Pram. Masih tetap tampan, hanya saja kini wajahnya sudah di tumbuhi bulu-bulu halus. Pram sudah ikut terpejam sejak beberapa waktu lalu. Pram merasakan kedamaian saat berdekatan dengan Dania.
__ADS_1
Dania melihat ke jam yang ada di dinding. Pukul dua dini hari, Dania ingin bangkit dari tidurnya. Dania berusaha bangun dan tak menggangu tidur Pram, Dania duduk di tepi ranjang. Rasa haus dan lapar menyerangnya malam ini. Bersyukur mertuanya sudah mengisi buah dan juga makanan lainnya di kulkas yang ada di ruangan Cilla. Dania mengambil sepotong roti dan membuat segelas susu.
Dania di meja makan mini, di hadapannya sudah ada segelas susu coklat, dan roti. Serta buah yang sudah di potong. Dania menikmati makannya. Sedangkan Pram yang merasa tak ada Dania di sisi nya segera membuka mata. Pram segera bangkit, namun saat menegakkan badan, pandangan Pram melihat Dania yang duduk di meja makan dan membelakangi dirinya. Pram berjalan mendekat. Lalu menarik kursi di sebelah Dania.
"Kenapa gak bangunin Mas, kalau kamu laper? Mas bisa belikan makanan untuk kamu, Sayang."
" Ini sudah cukup."
Pram menatap sendu ke arah Dania. Selama tiga bulan kehamilan nya, tak sekali pun Dania meminta sesuatu. Apa memang kehamilan ini tidak menggangunya, atau Dania mencoba menahan rasa inginnya. Pram tak pernah tau.
" Apa saat di desa, kamu juga sering merasa lapar di tengah malam gini?"
Dania mengangguk. Pram semakin merasa sedih dan bersalah.
" Dan kamu hanya makan roti dan segelas susu?"
" Iya."
Dania hanya menjawab singkat. Tanpa sadar, air mata Pram menetes, namun dengan cepat Pram menyekanya.
" Tidak ingin makan atau membeli sesuatu?"
" Tidak, terima kasih."
Dania bangkit dari duduknya saat susu dan roti di hadapannya habis. Dania mencuci gelas dan piring bekas makan nya. Lalu berjalan ke arah ranjang Cilla. Dania menyentuh dahi Cilla. Dan merasa suhu tubuh anaknya menurun, menimbulkan senyum di bibir Dania.
" Mudah-mudahan besok kamu sudah bisa pulang ya, Nak. "
Dania pun mengecup kening Cilla. Membetulkan letak selimut dan bonekanya. Setelah itu, Dania pun kembali ke ranjang. Merebahkan tubuhnya, dan menarik selimut sampai sebatas dada. Sedangkan Pram masih berada di meja makan. Menatap nanar ke arah Dania. Ini adalah kehamilan pertama bagi nya. Namun Dania berusaha menjalaninya sendiri. Prma tahu itu semua kesalahannya. Dan kini Pram akan berusaha meluruskan semua kesalah pahaman yang terjadi di rumah tangga mereka.
.
.
**Assalamualaikum, readers, mohon maaf sebesar-besarnya karena waktu up yang tak menentu. Di karena kan banyaknya pekerjaan di dunia nyata, membuat cerita sering tidak up.
Terima kasih untuk semua dukungan kalian. Terima kasih untuk like, komen, gift dan vote nya. ππΌππΌππΌπ₯°ππ
__ADS_1
Love you All...πππ₯°π₯°π₯°**