
Malam hari seperti janjinya, Riko membawa Tari ke sebuah restoran mewah. Riko sengaja meminta pihak restoran untuk menghias ruangan yang di reservasinya dan menjadikan suasana romantis. Riko menggandeng tangan Tari. Tari menggunakan Dress berwarna maroon sesuai dengan Dasi yang di pakai Riko. Tari tertegun melihat suasana yang di ciptakan Riko malam itu.
" Ayo, Sayang."
" Bang ini...."
Kata-kata Tari menggantung di udara. Dengan perlahan, Riko membantunya duduk di kursi yang telah di sediakan. Suasana malam yang romantis kian terasa saat alunan musik terdengar pelan namun merdu. Riko telah memesan makanan untuk mereka makan malam itu. Riko bahkan menyuapkan makanan untuk Tari. Setelah selesai makan, Riko berlutut di depan Tari, dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna maroon.
" Tari, mau kah kamu mendampingi Abang selamanya, sampai tua nanti, sampai kita memiliki cucu serta cicit, sampai akhirnya kita menutup mata bersama. "
Ucap Riko sambil terus menatap Tari. Tari tampak terharu dan menutup mulutnya. Dengan air mata bahagia yang menetes malam itu, Tari menganggukkan kepalanya.
" Terima kasih, Sayang."
Ucap Riko bangkit dan memakaikan kalung berlian di leher Tari. Riko mengecup kening Tari. Saat ciuman itu akan merambat ke bibir Tari, suara dari Pram membuat mereka tersadar.
" Ada orang disini, Woy..."
Ternyata Mereka semua sudah ada disana. Ada Pram, Dania, Lena, Reyhan serta kedua orang tua Riko. Bahkan tak lama, Fatma dan juga kedua orang tua Reyhan datang.
" Bunda bahagia sekali, Sayang. Akhirnya, Riko melamar kamu. Jika pasangan lain melamar sebelum menikah, Anak Bunda itu, melamar setelah menikah. Benar -benar aneh."
Suara tawa menggema. Riko menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Riko melamar Tari untuk menjadi teman hidup Riko, Bun. Dan memberikan Bunda cucu yang banyak."
Dengan cepat, Delila memukul tangan Riko. Membuat Riko mengaduh.
" Yang banyak, ini aja belum keluar."
Lalu mereka semua pun menggeleng kan kepalanya. Riko memang kocak. Kini Riko berdiri di samping Tari dan menarik Tari dalam pelukannya.
" Terima kasih, Sayang. Sudah menerima Abang."
Dan mengakhiri kalimatnya dengan kecupan mesra. Lalu Riko membungkuk mencium perut Tari. Semua orang yang ada turut bahagia melihat Riko dan Tari. Termasuk Dania dan Pram. Namun di tengah rasa bahagia itu, tiba-tiba Pram merasa perutnya bergejolak. Hingga dengan setengah berlari Pram menuju toilet.
Dania yang melihat Pram tiba-tiba saja berlari langsung mengejar. Sedangkan yang lain menatap bingung.
" Mas, kamu gak apa-apa?"
Dania bertanya pada Pram yang baru saja keluar dari toilet. Pram hanya menggeleng.
__ADS_1
" Mungkin maag Mas kambuh, Kamu bawa obat maag punya Mas kan."
"Bawa."
Dania pun langsung menyodorkan obat tersebut. Dan kini mereka kembali bersama dengan yang lainnya.
" Kenapa Lo?"
Tanya Reyhan saat Pram dan Dania sudah bergabung.
" Maag gue kambuh kayaknya. Seharian ini gue sibuk, dan siang tadi sempat telat makan."
Reyhan pun hanya mengangguk. Namun seketika wajahnya tegang, melihat Lena yang datang dengan banyaknya makanan manis di tangannya. Ibu hamil satu ini memang menjadi pecinta manis sejak hamil, namun dirinya hanya memakan sedikit. Selebihnya tugas Reyhan lah yang menghabiskan.
" Beibh...liat aku bawa apa."
Ucap Lena dengan wajah sumringah. Sedangkan Reyhan menelan ludahnya dengan susah payah.
" Beibh...ini gak salah. Emang kamu habis segini banyak?"
" Kan ada kamu, Beibh.."
" Lena,.gue minta ya."
Ucap Dania ketika melihat red Velvet milik Lena begitu menggiurkan. Bahkan Pram sampai bingung.
" Boleh, ambil aja."
Tak lama berselang, Meja mereka pun penuh, karena Tari dan Riko duduk bersama. Mereka berbincang tak tentu arah. Namun sesekali di iringi gelak tawa.
Semua orang tua sudah kembali ke rumah. Kini hanya tinggal tiga pasangan sahabat sekaligus sepupu itu disana.
" Mas, aku boleh kan minta Red Velvet nya lagi?"
Dania meminta pada Pram yang langsung membuat Pram memanggil pelayan untuk membawakan Red Velvet pesanannya.
Pram heran dengan Dania. Tak biasanya meminta seperti itu. Tapi Pram tak menghiraukan.Asal Dania bahagia, Pram akan lakukan.
Hingga pada akhirnya ketiga pasangan itu pun tak kembali ke rumah, mereka memutuskan untuk menginap di hotel.
Di kamar hotel, dua pasangan itu menikmati masa bulan madu satu malamnya. Hanya di kamar Tari dan Riko, yang tak terjadi apa-apa, Riko hanya tidur sambil memeluk Tari dari belakang, dan tangannya mengusap perut Tari secara langsung. Riko menyingkap gaun tidur yang di pakai Tari, hingga bagian bawah Riko bertemu dengan bokong Tari yang semakin berisi sejak mengandung. Tari dapat merasakan sesuatu yang keras di sana.
__ADS_1
Sebenarnya Tari sudah mulai takut, jika Riko sampai khilaf. Bukan karena Tari masih trauma, hanya saja Tari sangat menjaga kandungannya. Tari tidak ingin terjadi sesuatu pada anaknya.
" Bang..."
Tari bergerak, dan Tari juga merasakan di bawah sana ada yang ikut bergerak.
" Bang..."
" Sayang, jangan bergerak. Abang takut khilaf. Tenang lah, oke. Abang gak apa-apa. "
Tari diam sejenak. Lalu dengan wajah yang memerah, Tari mencoba mengajak Riko.
" Tari siap, Bang."
Terdengar pelan. Namun mampu membuat mata Ruko yang terpejam terbuka seketika. Riko menatap Tari. Dan Tari menunduk menahan malu.
" Bukan Abang gak mau, Sayang. Abang hanya takut menyakiti kalian. Setelah kita kontrol dan dokter berkata Aman, maka Abang akan meminta hak Abang. Boleh kan?"
Tari mengangguk malu. Lalu Riko membawa Tari dalam pelukannya. Mereka tidur sambil terus berpelukan sepanjang malam.
Pagi harinya, Tari melihat wajah lelah Dania. dan juga wajah Lena yang tampak kurang istirahat. Berbeda dengan wajah pada suami mereka. Yang tampak lebih segar dan selalu tersenyum.
"Dania, Lena, kalian kenapa? Kok wajahnya gitu?"
Lena dan Dania saling pandang. Yang paling terlihat kurang istirahat adalah Dania. Dan itu membuat semua orang melihat ke wajahnya.
" Kamu gak tidur Dan? Apa kamar hotelnya gak nyaman?"
Tanya Tari pada Dania. Dan membuat Dania sedikit salah tingkah.
" Hm...enak kok, nyaman banget malah."
" Kalau nyaman kok kamu bisa kurang tidur?"
Tanya Tari, yang membuat Pram tersedak dengan teh nya sendiri.
" Sayang, jangan banyak tanya. Kamu sarapan aja. Nanti makanan kamu gak enak. Atau mau Abang suapin?"
Tari menggeleng. Lena yang melihat tanda merah di leher Dania pun langsung memberikan kode, agar Dania segera menutupinya.
" Leher kamu kenapa Dan? Apa di kamar kamu ada nyamuk ya? Sampai leher kamu merah keunguan itu?"
__ADS_1