Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 80


__ADS_3

"Maafkan Mas Pram ya, Oma."


" Tidak, Sayang. Disini memang Oma yang salah, wajar jika Pram belum mau memaafkan Oma. Kamu jaga kesehatan dan jangan kecapean. Jaga cicit Oma ya. "


Oma Salma pun keluar bersamaan dengan ketiga sahabat Dania yang lain. Mereka ingin memberikan ruang untuk kedua suami istri itu bicara.


" Mas, jangan gitu ke Oma. Kasian kan Oma. Pasti beliau sedih, Mas."


Pram memeluk Dania. Walau terhalang dengan perutnya yang membuncit. Bahkan Pram mencium kening Dania.


" Mas, hanya ingin melindungi kamu. Mas gak mau kamu terluka lagi."


Dania tersenyum. Bahagia, kini Pram lebih mengutamakan dan melindunginya dirinya dan juga Cilla.


" Mas mau janji kan,kalau Mas gak bicara kasar lagi ke Oma. Aku bisa merasakan bahwa Oma tulus meminta maaf. Aku juga sudah memaafkan Oma."


Pram hanya mengangguk, di imbangi dengan senyum di bibirnya.


" Terima kasih, Sayang."


Dania mengucapkannya setelah mengecup bibir Pram sekilas. Membuat Pram membulatkan matanya.


" Sayang, kamu jangan menggoda Mas. Mas tidak akan bisa menahannya."


" Genit.."


Dania mencubit perut Dania. Membuat Pram meringis, namun juga terkekeh melihat wajah Dania yang memerah.


" Ayo kita keluar. Acaranya akan segera di mulai."


Dania dan Pram pun keluar dari kamar, dan Pram terus menuntun Dania untuk turun dari tangga. Perutnya yang sudah membuncit, membuat Dania harus ekstra hati-hati menuruni tangga.


" Hati-hati, Sayang."


Ucap Pram di sela-sela mereka menuruni anak tangga. Tangan dan pinggang Dania selalu di pegang oleh Pram. Semua orang yang menyaksikan di lantai bawah pun tersenyum melihat pasangan penuh cinta ini.


Kini Dania dan Pram sudah berada di tengah-tengah mereka. Dan acara pun segera di mulai. Master of ceremony membawa kan runtutan acara hari ini. Setelah pagi tadi acara pengajian, kini acara sungkeman menjadi awal mula acara tujuh bulanan ini di gelar. Sungkeman di lakukan oleh calon ibu kepada calon ayah. Setelah itu barulah kedua calon orang tua melakukan sungkeman kepada kedua orang tua.

__ADS_1


Fatma di dampingi oleh sang adik, yang merupakan om dari Pram. Om Fatur. Om Fatur datang bersama dengan istri dan anaknya. Sedangkan dari pihak Dania di wakilkan oleh kedua orang tua Riko. Mama Delila, dan suaminya Papa Syarif. Sejak bertemu Dania sewaktu meninggalnya Tuan Sofyan, Delila mulai menyayangi Dania.


Setelah itu barulah semua acara di lakukan dengan meriah. Bahkan saat Pram melakukan pecah kelapa, Riko masih sempat-sempatnya menggoda sepupunya itu.


Sampai pada acara jualan cendol, atau rujak, Dania dan Pram tampak sangat serasi. Setelah selesai kini mereka pada acara terakhir, yaitu potong tumpeng. Dan setelah itu acara selesai. Untuk acara tujuh bulanan Dania.


Walau rentetan acaranya banyak, namun Dania tak terlihat sedikit pun mengeluh. Kini mereka semua tengah menikmati hidangan yang tersaji dimeja. Pram bersama Dania, berada di satu meja dengan Reyhan, Riko, Tari, Selly dan Lena.


" Kamu capek, mau istirahat di kamar aja?"


" Sayang, kaki kamu pegel, kalau pegel, kita ke kamar aja, biar Mas pijetin kakinya."


" Kamu mau makan apa, Sayang. Buah, kue atau cemilan lain?"


Begitu banyak rentetan pertanyaan yang Pram ucapkan. Itu bukan hanya sekali, tapi berulang kali. Hingga Riko jengah mendengar nya.


" Woy, Pram. Lo gak bosen apa nanyak Mulu. Ntar kalo istri Lo mau, ambil sendiri, atau minta ambilin pelayan. Ribet amat hidup Lo."


Riko memprotes Pram. Sedangkan yang lainnya mengulum senyum melihat tingkah mereka berdua. Perdebatan mereka seperti bocah. Namun cukup menghibur bagi mereka.


Satu hal yang mereka tidak sadari, di sudut meja yang lain, ada orang yang menatap tak senang dengan kebahagiaan yang Dania rasakan saat ini. Dandanannya yang berbeda membuat setiap orang di ruangan itu tak mengenali dirinya siapa. Dengan memakai pakaiannya serba hitam, serta cadar di wajahnya, membuat mereka semua saling tatap. Seolah menanyakan siapa orang itu.


" Pram, Lo yakin , Lo kenal dia?"


Reyhan melalui pesan. Karena tak ingin membuah gaduh suasana.


" Siapa?"


Pram kembali membalas pesan dari Reyhan. Reyhan pun mengirim foto yang diambilnya secara diam-diam.


" Salah satu istri kolega bisnis gue, ada yang berpakaian seperti itu. Bisa jadi itu dia."


" Lo gak liat, dari tadi dia memperhatikan Dania. Dan anak Lo. "


Pram pun mulai melihat secara perlahan. Sedangkan Reyhan sudah sejak tadi memperhatikan orang itu. Tak lama, Dania pun bangkit, membuat Pram memutus pandangannya. Dan melihat ke arah Dania.


" Kamu mau kemana, Sayang."

__ADS_1


" Aku mau ke toilet, Mas. "


" Mas temeni ya."


Dan di sambut oleh ejekan oleh Riko. Membuat Dania bersemu merah.


" Gak usah, aku bisa sendiri."


Pram yang bersikeras ingin menemani Dania akhirnya mengalah, karena Dania tetap menolaknya. Dania pergi sendiri ke kamar mandi yang ada di dapur. Tak lama, Wanita bercadar itu pun bangkit, dan mengikuti kemana Dania pergi. Reyhan dan Pram yang tak memperhatikan semua itu, tak menyadari kepergian wanita yang mereka curigai.


Dania masuk ke kamar mandi. Semenjak kehamilannya menginjak usia tujuh bulan, Dania sering keluar masuk kamar mandi. Dania keluar kamar mandi, dan di lihatnya wanita bercadar itu berada di depan pintu kamar mandi. Dania mengira, jika itu adalah seorang tamu yang akan menggunakan kamar mandi itu juga.


" Silahkan, Mbak."


Ucap Dania mempersilahkan dirinya untuk masuk ke kamar mandi. Saat Dania akan menjauh, wanita itu menarik tangan Dania. Dan merapatkan Dania ke tembok.


"Siapa kamu?"


" Kamu lupa siapa aku?"


Suara yang di kenal Dania. Membuat mata Dania membulat.


" Chelsea..."


Chelsea menyingkap cadar yang menutupi wajahnya. Dan tersenyum sinis.


" Iya, ini aku. Apa kabar Dania? Bahagia kamu sekarang?"


" Kkaamu mmau apppa? Lepaskan aku..."


Dania gugup melihat Chelsea. Jika hanya tangan kosong, mungkin Dania tak akan segugup ini, tapi Chelsea sedang meletakkan pisau di perut Dania. Salah-salah bisa saja pisau itu menusuk perutnya dan melukai bayi yang ada di dalam kandungan nya.


" Kamu tanya aku mau apa? Aku mau kamu dan bayi sialan ini, mati..."


Dania semakin gugup. Karena merasakan kepanikan yang luar biasa, Dania pun merasakan bayinya bergerak aktif.


" Kkkittta bisaa biiccaaarraaakkkannn ini bbbaik-baik."

__ADS_1


Chelsea semakin tersenyum sinis. Dan semakin mendekatkan pisaunya ke perut Dania.


" Aku gak mau bicara baik-baik. Aku mau kamu mati..."


__ADS_2